12 December 2008

Ijazah, Bagaimana Masa Depan Saya?

BAGIKAN
By SUKRON ABDILAH

Setelah menyelesaikan kuliah, yang ada dibenak saya adalah apa fungsi ijazah. Sejak 2007 hanya satu kali ijazah itu saya gunakan untuk melamar pekerjaan. Selebihnya, saya tidak pernah menggunakannya. Entah karena susahnya lowongan kerja, atau kemalasan saya untuk melamar kerja. Yang jelas, ijazah bagi saya tidak berfungsi apa-apa. Kecuali, untuk menyenangkan hati sang ibu di kampung halaman.

Apalagi, jika harus melamar ke instansi pemerintahan. Saya semakin malas menggunakan izajah. Sebab, harus mengurus tetek bengek surat-suratan. Belum lagi, ada kabar bahwa di instansi pemerintahan rawan dengan praktik kolusi, nepotisme dan suap-menyuap. Jadi, semakin tidak bersemangat mengirimkan surat lamaran kerja.

Dari hari ke hari, usia saya semakin bertambah. Tahun kemarin, ketika selesai kuliah saya berusia 25 tahun. Sekarang, 2008, usia saya menjadi 26 tahun. Dan, saya belum bekerja tetap. Ya, bisa dibilang kalau saya ini termasuk pengangguran. Tapi, meskipun tidak bekerja, saya tenang-tenang saja. Saya tidak melakukan demonstrasi. Apalagi sampai melakukan tindakan chaos, misalnya, menjadi pencuri kecil-kecilan. Sebab ini adalah kebiasaan yang sering dilakukan kalangan tidak terdidik negeri ini.

Belakangan, kebiasaan mencuri ini telah menjadi mata pelajaran ekstrakulikuler bangsa kita. Buktinya, tingkat partisipasi korupsi masih tinggi. Dari tingkat RT sampai pemerintahan pusat, bangsa ini tidak berani mengatakan “tidak” terhadap segala bentuk korupsi. Jadi, saya bersyukur masih menganggur. Tidak ikut ternoda praktik kotor yang sudah kian mewarnai aktus keseharian.

Tahun kemarin, Ibu saya di kampung, setiap kali mudik akan bertanya: “dapat uang dari mana, Sep? Kok, belum berkerja bisa bawa uang ke kampung. Awas, lho, kalau dihasilkan dengan cara tidak halal?!”

Saya, waktu itu, akan tertegun dan membayangkan. Coba kalau saya menjadi pekerja tetap di sebuah perusahaan. Bisa memberikan uang buat keperluan ibu saya di kampung lebih besar dari sekarang. “Ah, yang penting halal, Bu. Pokoknya, bukan hasil menjual, menipu, dan membohongi suara rakyat. Tapi dengan cara menyuarakan aspirasi rakyat, khususnya di media massa. Menulis, bu.” Jawab saya singkat.

Menulis, berbeda dengan pekerjaan lain. Tidak usah melayangkan surat lamaran kerja. Saya juga tidak usaha capek-capek menengok papan pengumuman. Cukup berlangganan Koran, ngecek di internet, dan memanfaatkan informasi dari jaringan para penulis. Tapi, jujur saja. Saya bukan tipe penulis yang sering menjelajah berbagai media. Merasa cukup dipampang di satu atau dua media lokal saja dalam satu bulan. Selebihnya. La haula wa la quwwata illa billahi.

Dengan begini, saya tidak merasa terbebani sehingga bisa mengerjakan aktivitas lain. Blogging, berjejaringan, ngobrol dengan mahasiswa, dan sesekali mengedit naskah di sebuah penerbitan. Dan, kadang ada tawaran menulis dari penerbitan atau perorangan. Lagi-lagi, saya berpikir: apa fungsi izajah bagi saya? Karena selama ini, izajah tak pernah saya keluarkan untuk melamar pekerjaan. Mungkin, kini, saya belum memerlukannya. Tapi, esok-lusa, siapa tahu? Saya sangat membutuhkannya.

Ah, mudah-mudahan saya tidak terpaku pada secarik izajah. Sebab, ilmu dan wawasan itu tidak seperti yang tercantum pada IPK yang besar. Dan, utamanya, masa depan saya ada di tangan saya. Kalaupun mengikuti kata hati teologi asyariyah saya, Tuhan juga berperan dalam menentukan masa depan yang sedang menunggu. Dan, terus menunggu dengan pengharapan.


BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: