13 December 2008

Sunda Kini dan Bahasa

BAGIKAN
Oleh SUKRON ABDILAH

(Artikel ini dimuat Kompas Jawa Barat, Sabtu 13 Desember 2008)

Sunda sebagai suatu etnik, menyisakan aneka warisan kultural dalam kehidupan masyarakat Jawa Barat; kendati, tidak seluruhnya warga Jabar ini bersuku Sunda. Perkembangan zaman, tentunya menyebabkan Sunda kiwari bermetamorfosa, baik secara kultural, sosial, filsafat, dan pandangan hidup ke arah yang sesuai perkembangan zaman. Jadi, urang Sunda zaman dulu akan berbeda dengan generasi Sunda kiwari.

Kini, generasi muda Sunda banyak yang tidak mengindahkan warisan kultural Ki Sunda, karena adanya pergesekan Sunda vis a vis kebudayaan luar, sehingga mereka merepresi jati diri kebudayaannya ke alam bawah sadar. Utamanya, nonoman (anak muda) yang lebih tertarik dengan daya tarik kebudayaan yang lebih maju dan trendy, hingga melahirkan generasi Sunda yang gagap dengan kebudayaannya sendiri, utamanya dalam hal berkomunikasi menggunakan bahasa Sunda.

Penurunan bahasa Sunda

Menurunnya jumlah penutur bahasa Sunda, saya pikir disebabkan kurangnya kecintaan warga dan ada kerumitan tata-aturan (undak-usuk) berbahasa. Akibatnya, urang Sunda muda takut berbicara dengan bahasa ibu karena tidak mau dicap sebagai orang tak berbudaya luhur. Saya pikir, bahasa Sunda akan terus mencari bentuknya dan mengikuti perkembangan zaman (berproses), seperti halnya, ketika ia (Sunda) dipengaruhi budaya Budha-Hindu (India), Jawa, Arab, dan Belanda.

Tentunya khazanah kebudayaan luar Sunda itu – terutama bahasanya – banyak diadopsi, dikreasi, dan dihibridasi ke dalam horizon masyarakat lokal Sunda. Misalnya, Muhammad menjadi mad atau mamad, Aisyah jadi Isah, al-ardhi menjadi arde, dan masih banyak lagi contoh kreasi masyarakat Sunda baheula. Mereka tidak bendu, ngambek, marah, ghadab, atau angry pada generasi mudanya ketika dalam keseharian (lisan atau sastra) memasukkan kata dari bahasa luar.

Beberapa bulan ke belakang, ada penelitian yang menggemparkan, karena – katanya – warga Sunda tidak lagi menggunakan bahasa Sunda ketika berkomunikasi dengan sesama Sunda. Tentu saja kita "kebakaran jenggot", apalagi sesepuh, pendidik, guru bahasa Sunda, budayawan, seniman, aktivis kebudayaan Sunda, dan yang lainnya. Akibatnya, generasi muda, orang tua, guru, bahkan aparat pemerintahan dituduh sebagai yang bertanggung jawab terhadap penurunan warga Sunda yang berbahasa ibu dalam berkomunikasi.

Kalau sampel penelitiannya di perkotaan, logis terjadi. Sebab, perkotaan merupakan tempat terbesar kaum urban, yang mengakibatkan sebuah kota dijejali para pendatang dari pelbagai etnik, bangsa, agama, bahkan ideologi. Hal itu akan memengaruhi masyarakat menggunakan bahasa nasional agar lebih dimengerti dan dipahami warga dari pelbagai kalangan. Jadi, jangan heran kalau di Bandung, misalnya, kita akan susah menemukan atau hanya sesekali mendengar ABG atau generasi muda Sunda yang bertutur bahasa ibu.

Kalaupun berbahasa Sunda; saya, generasi muda dan masyarakat Sunda kiwari, banyak yang tidak taat terhadap undak-usuk bahasa dan acap kali disebut urang Sunda yang tidak etis dan tidak bertatakrama. Jadi, jangan menyalahkan kaum muda, yang tidak ngeh dengan bahasa ibunya. Saya yakin generasi muda, baik di kota atau desa, masih ada yang menggunakan bahasa Sunda ketika acara-acara informal tengah berlangsung. Hanya saja, di acara formal, berbahasa Sunda jarang dilakukan.

Ketakutan para aktivis budaya lokal Sunda terhadap hilangnya etnis Sunda di masa mendatang, salah satunya kepunahan bahasa Sunda, memang logis. Namun, memproteksi generasi muda Sunda terhadap kebudayaan luar akan mematikan daya kreatif manusia Sunda ke depan. Alhasil, Sunda – sebagai gerakan kultural – akan meninabobokan dirinya di dalam tempurung yang sempit, kaku, stagnan, dan rigid; sehingga dari sisi peradaban akan tertinggal jauh. Padahal, rumusan utama kebudayaan adalah dinamis. Tidak statis!

Semangat baru Sunda

Pelestarian budaya Sunda juga, tidak pantas kalau terjebak "romantisme" kejayaan masa lalu, tetapi harus melihat ke depan (futuris) untuk merumuskan Sunda masa depan yang tetap diakui dunia. Sebab, kendati hidup di zaman teknologis, misalnya, justru akan ada generasi baru yang menyadari bahwa ia tengah melupakan kebudayaannya. Alhasil, muncul gerak kesundaan dalam wajahnya yang baru. Seperti yang terjadi saat ini, ketika bahasa Sunda banyak ditinggalkan generasi muda, ada sekelompok nonoman Sunda yang masih peduli. Bahkan mereka melakukan upaya-upaya penangkalan atas ancaman kebudayaan global dengan memanfaatkan apa yang dibawa oleh globalisasi.

Misalnya, seorang Dhipa Galuh Purba, salah satu generasi muda Sunda, memposting artikel berbahasa Sunda di website-nya. Online Majalah Cupumanik (www.cupumanik.com) juga adalah tanda bahwa kita tidak usah takut atas kematian bahasa Sunda, yang kerap diangkat di setiap media massa. pokoknya, selama masih muncul entry berbahasa Sunda, tatkala mengetiknya di kolom search engine, selama itu pula bahasa Sunda tidak akan punah. Itulah semangat baru Sunda!

Oleh karena itu, upaya kita ngigeulan dan ngigeulkeun zaman adalah kemutlakan tak nisbi. Sebab, Sunda – sebagai falsafah hidup – khususnya dalam bahasa, mesti miindung ka waktu, mibapa ka zaman. Saya berharap para inohong, nonoman, dan kokolot Sunda bekerja sama dan ekstra keras mendidik generasi muda agar tercipta komunitas anak muda yang melek kesundaan. Utamanya, tidak anti-perubahan guna memberikan sumbangsih pemikiran untuk kelestarian bahasa Sunda ke depan.

Mudah-mudahan – sebagai generasi muda – kita bisa bermetamorfosa hingga menyadari bahwa kearifan lokal di tatar Sunda terserak dan harus mulai dipunguti kembali. Dan, setelah dipunguti, tidak membuangnya ke tong sampah. Tapi, disakuan dina ati sanubari, agar laku dan kata saluyu dengan ajen-inajen kesundaan yang diwariskan Karuhun. Askes interent yang begitu mudah saat ini, tentunya bisa menjaga agar bahasa Sunda – sebagai salah satu kearifan lokal – tetap lestari, meskipun secara bentuk berubah, karena terpengaruh bahasa dari luar.

Untuk melestarikan bahasa Sunda, alangkah tepat rasanya, jika stakholder dari kalangan Sunda mengadakan semacam pembinaan atau pelatihan terhadap warga desa dalam menggunakan internet (khusunya blog). Sebab, mereka masih biasa menggunakan bahasa Sunda dalam percakapan informal maupun formal. Semoga saja hasilnya, mereka (warga kampung Sunda) bisa memposting konten blog, misalnya, dengan menggunakan bahasa Sunda.

Lantas, bagaimana dengan biayanya? Ah…, itu hanya saran ti simkuring, pangersa!


BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: