12 January 2009

Belajar Berekonomi dari Hidayat

BAGIKAN
Oleh Sukron Abdilah

Modal utama seorang pebisnis adalah mampu melihat peluang. Tanpa kemampuan ini, sebesar apa pun duit yang kita punya tentunya tidak akan berarti. Banyak orang yang bermodal besar tidak tahu harus digunakan untuk usaha di bidang apa. Tak heran jika orang semacam ini tergiur untuk menjadi pengusaha spekulan. Akibatnya, dengan minimalitas pengetahuan itu duit-nya tidak beranak-pinak dengan cepat. Malahan dihantui kebangkrutan.

Akan tetapi, saya salut kepada mereka. Sebab, ini berkaitan dengan pembangunan mental berwirausaha. Dalam diri pebisnis atau pengusaha yang dibutuhkan adalah mental ingin mencoba. Kemudian, belajar dari kegagalan-kegagalan. Alhasil, ia bisa berhati-hati untuk tidak terjebak pada lubang yang sama. Dengan mencoba menginvestasikan duit-nya di salah satu bidang usaha, ia akan belajar ketidaktepatan menghitung outcome dalam memperoleh income yang menguntungkan.

Perguruan tinggi di Indonesia, seharusnya membentuk mahasiswa dengan jiwa wirausaha (entrepenership). Ketika mereka selesai di wisuda, tidak akan bingung dengan pekerjaan. Daripada mencari pekerjaan, lebih baik menciptakan lapangan pekerjaan. Inilah yang dimaksud dengan “seorang manusia harus bermanfaat bagi manusia yang lain”.

Seperti halnya seorang pengusaha yang saya baca di Tabloid Kontan, Minggu ke-II Januari 2009. Namanya adalah Hidayat. Ia adalah pemilik dan pendiri PT. Mitra Tani Mandiri atau Mittran. Sebuah perusahaan yang menjual produk pertanian seperti pupuk organik dan biomassa. Semenjak selesai kuliah dari jurusan ekonomi, di salah satu perguruan tinggi, ia mencoba menciptakan lapangan kerja. Dari pengalamannya menggeluti usaha, berbagai bidang sering ia lihat terdapat peluang untuk membiakkan duit.

Selepas kuliah, pada tahun 1992 bersama koleganya Boyke Abidin ia mendirikan Mittran dengan modal Rp. 20 Juta. Sempat pula ia merasa tertarik dengan usaha bunga hingga memiliki 30 sampai 40 gerai bunga. Pada tahun 1998, karena krisis yang menimpa Indonesia ia sempat kolaps. Karena itu, pada tahun 2002 Hidayat mencoba membuat sendiri produk yang dikhusukan bagi pertanian. Ia membuat pupuk organic dari sampah. Lewat pengetahuan otodidaknya, Hidayat mampu membuat mesin Sistem Terpadu atau Simaster.

Sekarang, dari beragamnya paket layanan yang diberikan PT. Mittran, Hidayat meraih keuntungan yang beragam. Dari layanan petugas kebersihan, mendapatkan penghasilan Rp. 90 Juta per bulan. Layanan penjualan mesin pengolah sampah ia mendapatkan penghasilan Rp. 300 Juta perbulan. Dan, dari hasil jualan pupuk organic serta Biomassa, PT. Mittra meraup omzet sekitar Rp. 50 Juta sampai Rp. 60 Juta per bulan.

Nah, mari belajar kepada Hidayat. Ia mampu melihat beragam peluang, sehingga memperoleh income ekonomi yang beragam pula. Dari beragam peluang yang dilihatnya sebagai ladang berusaha, ia mendapatkan omzet ratusan juta per bulan. Tertarik ingin seperti Hidayat? Silahkan anda mencari-cari peluang usaha sesuai dengan duit yang dimiliki. Satu lagi, berani mencoba dan terjun berwirausaha adalah salah modal yang harus anda miliki untuk menjadi seorang pebisnis dan pengusaha sukses. Sekian…. !


BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: