1 February 2009

Gunung Guntur, Tempat Wisata Spiritual

BAGIKAN

Oleh SUKRON ABDILAH

Terhitung dari kelas 1 SMA sampai kelas 3 SMA, karena tinggal di Garut, saya pernah mendaki puncak gunung Cikuray, Papandayan, Talaga Bodas, dan Gunung Guntur. Kabupaten Garut, tempat bertenggernya Gunung Guntur adalah tempat wisata spiritual. Secara topografis, wilayah ini kaya dengan gunung, sawah, dan sumber air bersih sebagai petanda Tuhan menciptakannya tidak sia-sia.

Ketika berada di puncak pegunungan, besarnya kasih-sayang Allah tidak akan terhitung. Sebelum kaki ini menginjakkan puncak gunung yang menjulang tinggi, tenaga saya terkuras. Lelah, capai, tetapi tetap semangat karena hendak menuju puncak ketinggian. Kemudian sesampainya di puncak, saya dan kawan-kawan mendirikan tenda dan menginap.

Keindahan matahari terbenam (sunset) dan bintang-bintang malam di gunung akan indah terlihat. Pada waktu pagi hari sinar matahari (sunrise) yang terlihat berada di sebelah Timur hendak menyampaikan betapa agung dan indah ciptaan-Nya. Awan yang menggulung membentuk ombak di langit terlihat indah betul hingga tak terkatakan lisan.

Subhanalah, segarnya udara pagi di pegunungan pun mengalahkan rasa kantuk untuk menikmati setetes dari percikan Mahakarya Tuhan yang dipamerankan di gunung Guntur tersebut. Lisan pun terkunci namun hati tetap melantunkan kalimat thayyibah sbb "Rabbana ma khalaqta hadza bathila subhanaka faqina adzaba al-nar". Saya jadi berbisik di hati, “Apabila anugerah keindahan alam ini tidak ingin mubadzir, mestinya dijadikan sebagai sesuatu yang bisa mengokohkan keimanan untuk terus taqarrub pada sang pencipta. Jahat dan kufur saya pikir ketika keindahan dan kekayaan gunung Guntur dieksploitasi demi sesuatu yang tak abadi.

Andai tidak tersedia keindahan di lautan, pegunungan, perkebunan, pesawahan dan padang rerumputan yang bisa disaksikan dari Curug Citiis (kaki gunung Guntur); keimanan itu tidak akan mampir di hati. Saat keimanan bertambah (yazid), saya rajin bersyukur karena mentafakuri keindahan Gunung Guntur. Namun, ketika keindahan gunung Guntur dan gunung-gunung lainnya sedemikian rusak, apa yang bisa dijadikan media untuk merenung dan bertafakur?

Sebab, dengan alam yang lestari, indah, dan kaya tentunya hal itu akan menjadi obat penggenjot keimanan kita agar terus bertambah. Kondisi alam di gunung Guntur yang menghampar indah adalah tanah pusaka yang mesti dipelihara, sebagai wujud syukur kepada sang pencipta alam Raya, Gusti Allah Nu Maha Suci. Bukan digali seperti yang terjadi sekarang, untuk mencari pasir dan batu dengan mengabaikan kehidupan alam dan manusia sekitar.

Saya – sebagai warga asli Garut – sangat berharap Aceng-Dicki bisa membenahi dan menjentik kerakusan pengusaha Garut yang memugari gunung Guntur untuk keuntungan pribadi. Kalau gunung Guntur longsor, daerah wisata Cipanas saya rasa akan terkubur dan ada beberapa perkampungan yang akan tertimbun. Demi cinta saya kepada gunung Guntur, agar bisa tenang kembali untuk didaki, stop penggalian pasir di Gunung Guntur.

Menurut Eef Saefullah Fatah dalam artikelnya: Menimbang “Biokrasi” (Kompas, 4 Mei 2007), kegagalan demokrasi berdamai dengan lingkungan menyadarkan pentingnya menimbang lingkungan hidup dalam kerja demokrasi. Ia (demokrasi) dituntut membangun sistem politik sensitif lingkungan, keaktifan partai politik mengusung isu lingkungan sebagai platform utamanya, dan anggaran belanja negara atau daerah (APBN dan APBD) pun menimbang aspek pengelolaan lingkungan. Para pejabat publik dan politisi juga dituntut memiliki sensitivitas lingkungan yang layak (green politicians) agar keberlangsungan alam dapat dipertahankan. Inilah apa yang disebut oleh para pengamat politik dengan model pemerintahan “biokrasi”.
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena ulah (eksploitasi dan eksplorasi tak berkaidah) manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka (akibat) perbuatannya, agar mereka kembali (ke program konservasi alam)”. (QS Ar-Ruum: 41).


BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: