29 January 2009

Jadi Pewarta Sipil

BAGIKAN

Oleh SUKRON ABDILAH

Jujur saja, cita-cita saya semenjak kecil adalah menjadi wartawan. Profesi ini saya ketahui dari guru kelas 2 di SDN Waruga, Garut, bernama Ibu Yati. Selain itu, saya juga sering menonton acara “Dunia dalam Berita” sejak berumur 7 tahun. Ketika menyaksikan sebuah berita tentang kunjungan pejabat, saya melihat ada hadirin yang membawa kertas dan pulpen. Mereka terlihat sibuk mencatat apa yang dibicarakan sang pejabat. Mungkin merekalah yang disebut wartawan.


Saya sangat keranjingan dengan profesi ini. Setiap pulang sekolah, saya membawa buku kecil bekas hasil potongan dan pensil. Saya berkeliling ke setiap pelosok kampung dan mencatat aktivitas orang-orang dewasa. Tidak lupa juga saya mencatat kegiatan anjing peliharaan yang kerjaannya meringkuk di depan rumah. Kucing di dalam rumah juga tak luput dari pengamatan saya.

Hingga suatu hari. Sambil menenteng tas sekolah “butut” karena baru pulang dari sekolahan, saya melihat ibu-ibu sedang berkerumun. Rasa ingin tahu saya membesar hingga muncul pertanyaan dalam hati, “apa yang sedang mereka bincangkan?”. Waktu itu saya tidak langsung pulang ke rumah. Dengan bergegas, saya mengambil sobekan buku dan pensil di kantong “butut” itu. Saya mencoba menghampiri ibu-ibu itu. Dengan sangat hati-hati, karena takut ketahuan, saya berjalan ke arah rerimbunan. Dari posisi itu saya bisa mendengarkan secara jelas, apa yang sedang mereka bicarakan.

Lama saya dengarkan topik pembicaraan mereka dan mencoba mencatatnya. Dialog mereka saya lupa lagi. Tetapi, substansi pembicaraannya sampai sekarang masih ingat. Tidak akan lupa. Sebab, mereka sedang menggunjingkan ibu saya, yang kebetulan sudah 3 tahun menjanda. Ibu saya, karena harus menghidupi 8 orang anak-anaknya mencoba menjadi pengusaha barang-barang kreditan. Ya, karena harus belanja ke pasar untuk membeli barang-barang, ibu saya sering duduk di depan mobil angkutan pedesaan. Duduk di depan bersama bapak sopir yang juga baru beberapa bulan menduda. Kadung saja, hal itu menjadi bahan omongan ibu-ibu di kampung saya.

Tanpa berpikir panjang, saya langsung keluar dari tempat persembunyian. Dan, mereka terkejut karena ada saya dihadapannya. Sambil setengah marah, saya mengancam mereka akan memberitahukannya kepada ibu saya. Karena ketakutan, mungkin takut tidak diberi pinjaman barang, mereka diam seribu bahasa. Mulai saat itu, saya tidak melihat lagi mereka berkumpul-kumpul. Padahal, sampai tulisan ini dibuat, saya tidak memberitahukannya kepada si emak. Dan, ibu saya alhamdulillah bisa keluar dari gosip murahan itu.

Ah…, pengalaman itu sekarang sudah menjadi kenangan. Dan, cita-cita saya untuk menjadi wartawan belum kesampaian. Tapi, ketika saya mengenal dunia weblog, sejak tahun 2007, cita-cita itu seakan mewujud kembali. Saya, sampai sekarang jadi ketagihan memposting tulisan di blog pribadi. Weblog itu adalah http://sakola-sukron.blogspot.com. Ini adalah blog pertama saya dan sampai sekarang masih saya urus baik-baik. Konten dan format tulisannya dari tahun ke tahun berubah. Dulu hanya artikel, sekarang saya menulis laporan kegiatan pribadi.

Dengan konten dan format yang mengarah kepada pemberian informasi, saya seolah berposisi sebagai wartawan. Bedanya, mereka bekerja untuk media mainstream. Tetapi saya, bekerja untuk diri sendiri. Ya, untuk media yang dibangun dan dikelola oleh saya sendiri, yakni weblog. Inilah yang saat ini populer dengan istilah “Citizen Journalism”, “netizen”, “pewarta sipil”, atau terkategori sebagai “jurnalisme dotcom”. Meskipun saya masih harus belajar dari Kang Pepih Nugraha, tentang cara penyajian informasi; cita-cita jadi wartawan seakan terwujud.

Sebab, meskipun tidak memiliki kartu pers, saya masih bisa memberikan informasi kepada khalayak tentang sesuatu hal, kejadian atau peristiwa. Tidak menjadi wartawan pun saya tidak apa-apa. Kan, sebentar lagi saya akan mendapatkan pengarahan tentang “Citizen Journalism” dari wartawan harian Kompas. Jadi, saya hanya meminta agar di acara “KOPDAR” kompasiana nanti, diberikan ilmu seputar tata cara, etika, dan panduan praktis menulis berita. Agar, keingintahuan saya tidak seperti yang dilakukan ketika kecil dulu. Sekarang, menjadi pewarta sipil juga sudah dirasa cukup.

Matur nuwun, hatur thank you, terima kasih, kamsyiah, syukron katsiran, buat kompasiana!!!!





BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: