30 January 2009

Melawan Komputerphobia

BAGIKAN
Oleh SUKRON ABDILAH
(Kunjungi juga www.kompasiana.com)

BULAN kemarin, 26 Desember 2008, saya mengisi acara pelatihan media konvergen. Pesertanya beragam. Ada yang sudah melek, setengah melek, bahkan ada yang lebih melek dari saya. Saat itu, saya tak sadar bahwa dari audience yang beragam itu pasti materi yang harus disampaikan mesti beragam pula. Tapi, saya merasa bahwa peserta yang dihadapan itu sudah tahu tentang internet, sehingga yang terjadi adalah munculnya “noise”. Dalam perspektif komunikasi, hal itu muncul karena ada gangguan dari saluran pesan yang disampaikan.

Jujur saja, saya tidak sadar bahwa dalam acara seperti itu materi ICT harus disederhanakan. Tapi, apakah penyederhanaan itu harus berkaitan dengan penerjemahan setiap kata dalam khazanah Informasi Teknologi (IT) ke dalam bahasa si pendengar. Situs jejaring sosial, blog, e-mail, dan sebagainya adalah kata yang harus mulai diakrabi. Bukan hanya dilihat dan disaksikan saja. Apalagi hanya sekadar dibaca, meskipun harus meraba-raba dalam menggunakan perangkat komunikasi (Communication tool) itu. Seperti kebanyakan dosen ilmu Komunikasi di UIN Bandung. Pintar berteori tapi tidak sebegitu pintar dalam memanfaatkan teknologi superhigway ini.

Kemudian, parahnya hari kemarin. Saya terjebak pada penyampaian teoritik dengan mengeyampingkan sisi praktis dari aplikasi yang bisa digunakan untuk mengefisiensi, mengefektifkan, dan meluaskan jaringan di dunia maya. Untung kawan-kawan fasilitator lain, bisa berpikir sederhana. Dan, sekelebat juga saya tersadar. Bahwa dalam pelatihan ini peserta harus dibimbing untuk berani menggunakan perangkat komputer dan mengetahui fungsi dari e-mail, blog, dan media baru lainnya. Bahkan, pada pelatihan itu, tercetus untuk merancang media konvergen yang diisi oleh kontributor dari warga Muhammadiyah.

Daripada mereka terjebak pada ketakutan menggunakan komputer atau “komputerphobia”, lebih baik belajar salah untuk membiasakan mengakrabinya sebaik dan seramah mungkin. jadi, hari itu saya persilahkan saja salah satu peserta dari Bandung Tengah berusia sekitar 40 tahunan untuk praktik membuat e-mail dan blog secara langsung di notebook.

BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: