28 January 2009

Membimbing Menulis

BAGIKAN
Oleh SUKRON ABDILAH

PUKUL 20.55 sebulan yang lalu (11/12) ada e-mail yang masuk ke inbok. Surat itu datang lengkap dengan artikel berjudul: Pernikahan Bukan Hanya Permainan. Surat ini dikirim seorang mahasiswi semester satu, jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam, UIN Bandung. Gembira rasanya, karena sejak mengisi pelatihan menulis yang diadakan jurusan BPI UIN Bandung, hari Jumat lalu (5/12), saya kebetulan mengisi materi: menulis di era cyberspace. Pesertanya banyak juga. Sekitar 85 orang!

Pertanyaan yang dilontarkan pun berkutat pada bagaimana caranya dimuat di media cetak (Koran, majalah, buletin, dan tabloid). Selain itu, ada juga yang bertanya seputar tahapan menulis artikel. Mantan dosen saya, yang kebetulan sekarang menjabat sebagai sekretaris jurusan BPI (penulis juga), memberikan tips bahwa membuat artikel harus dilakukan secara runtut-beraturan. Kepala artikel, tubuh artikel, dan kaki artikel.

Tapi, saya saat itu menjawab. Bahwa membuat artikel tidak harus dimulai dengan kepala dulu. Atau, membuat judul dulu. Membuat artikel itu seperti membuat orang-orangan dari tanah liat. Kita bisa membuat kaki dulu, tangan dulu, tubuh dulu, dan kepala dulu. Tergantung kenikmatan sendiri. Jadi, ketika susah memikirkan cara membuat judul artikel, kita jangan lantas berhenti menulis. Kita bisa langsung membuat tubuh artikel sampai ke kaki artikel. Setelah itu, baru memikirkan kepala artikel (judul) yang pantas untuk artikel.

Berkaitan dengan kemampuan menulis, saya juga menyampaikan bahwa menulis adalah skill yang harus terus diasah. Tidak ada seorang penulis, yang langsung bisa menuliskan gagasan kalau sebelumnya tidak pernah menulis. Minimalnya, dia pernah menulis curhat di buku diary, makalah tugas kuliah, dan syarat akademis untuk kelulusan sarjana (skripsi, tesis, dan disertasi).

Lantas, bagaimana kalau tulisan artikel kita tidak dimuat di media cetak? Saya jawab singkat saja. Kan, sekarang kita sedang di era cyberspace. Kalau tidak dimuat, kita tidak usah pusing berkeliling-keliling. Ada weblog gratisan, media online, harian online, dan saya sebutkan saja bahwa kita bisa menulis di www.kompasiana.com. Dan, untuk sekadar merangsang semangat menulis adik-adik mahasiswa/i BPI UIN Bandung, karena saya salah satu alumni, dibangunlah weblog http://kelasmenulis-bpi.blogspot.com.

Selain itu, saya juga menjanjikan akan memberikan dua buah buku sebagai hadiah bagi mereka yang mengisi konten blog tersebut. Pokoknya, selamat buat Indry, mahasiswi semester satu Bimbingan Penyuluhan Islam UIN Bandung yang menjadi siswi pertama saya di kelas menulis BPI. Tapi ingat menulis adalah “kewajiban moral”, seperti dilansir Umberto Eco. Bukan hanya menjadi ajang pencarian hal-hal material saya kira.

Ah, memang gembira rasanya ketika kawan-kawan mahasiswa mau belajar menuangkan idenya jadi sebentuk tulisan. Sebab, kalau tidak segera dituliskan, kata Ali karamallahuwajh, hikmah atau ilmu akan kabur; secepat kilat mengejar syetan yang sedang asyik duduk di atas bebatuan.

Karena saya tidak mendapatkan pelatihan Jurnalistik, hal itu jangan sampai terjadi kepada adik-adik mahasiswa/i di perguruan tinggi, tempat saya menimba ilmu. Bukankah kalau ada lowongan pekerjaan sebagai wartawan atau editor, bisa dari berbagai jurusan? Tidak hanya bagi mahasiswa Jurnalistik saja. Ini menandakan bahwa kemampuan menulis harus dimiliki seorang mahasiswa/i yang menyukai profesi kewartawanan.

Ingat, Si Gilmorr pernah bilang bahwa di tengah maraknya New Media, setiap orang bisa menjadi wartawan. Cag sakitu!

BAGIKAN

Penulis: verified_user

1 komentar:

Wijaya Kusumah said...

Saya merasakan mendapatkan pengetahuan baru. Terima kasih kang syukron. Nuhun Kang.