9 January 2009

Saya sedang mau begini

BAGIKAN
Maaf, punten, permisi, sorry; kalau tulisan saya kali ini tidak bisa dikategorikan ke dalam soal politik, agama, filsafat, pendidikan dan kategori lainnya. Mungkin, lebih tepatnya uncategorial. Seperti halnya manusia. Tulisan juga tidak bisa diprediksi. Tidak bisa dinilai apakah ada hikmah pelajaran dalam tulisan itu.


Seperti halnya tulisan ini. Saya tidak akan membahas apa-apa. Tapi, bukankah masalah penyerangan Israel ke jalur Gazza adalah “apa-apa”? Pelaksanaan pemilu 2009 adalah “apa-apa” juga? Hasil survey LSI yang membingungkan warga awwam seperti saya adalah “apa-apa”? Bahkan, hadirnya epaper kompas juga adalah “apa-apa”?
Berusaha mengetahui dibalik “apa-apa” adalah tanda bertebarannya benih-benih kebebasan.

Ah, sudah gila barangkali kau ini Sukron? Mungkin ya, mungkin tidak, jawab saya. Buktinya, masih bisa menulis ? Masih bisa mengoperasikan kompiter, eh salah. Komputer ya ? Orang gila itu sebenarnya punya potensi untuk jadi orang normal. Sebaliknya, orang normal berpotensi menjadi gila.

Mungkin, karena bingung harus menulis apa, saya jadi bingung harus menulis sistematis. Atau, karena saya baru menghabiskan buku yang ditulis Pidi Baiq, Drunken Molen ( 2008) dan Drunken Molen (2008). Hebat benar kedua buku ini. Spontanitas, ngelantur, menyimpang ; tetapi asyik untuk “tidak dilewatkan”. Bahasanya tidak enak dibaca, tapi tak asyik kalau dilewatkan begitu saja.

Ataukah tulisan ini cermin bahwa saya sedang bermain-main bahasa? Filosof bahasa menyebutnya “language game”? Ah, jawaban yang benar adalah saya sedang mau begini saja! Tetapi, bagi koruptor jangan ngomong di meja sidang. “ah, saya sedang mau begini saja. Begini bagaimana maksud loe? Jadi koruptor kelas kakap!”…


BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: