21 January 2009

Saya Tidak Lupa?!

BAGIKAN
SEBETULNYA saya sempat lupa. Lupa bahwa hari ini adalah hari Jumat. Untung saja tadi ada teman yang mengajak shalat Jumat di Mesjid Kifayatul Akhyar. Saya juga lupa sebentar lagi usia saya genap 27 tahun. Baru sekarang ingatnya. Ketika calon istri saya ulang tahun, tanggal 6 kemarin, saya lupa mengucapkan selamat.

Hari ini juga saya lupa bahwa saya sedang makan. Pergi begitu saja. Ketika sudah duduk di depan komputer warnet - kebetulan notebook sudah dijual - saya baru ingat bahwa tadi sedang makan. Masih untung karena ada anak kecil sedang makan. Jadi saya mengingatnya kembali.

Kasihan, saya pikir; nasi dan ceplok telor menangis ndak habis saya makan. Saya jadi ingat film si Unyil dulu. Nah, ini baru juga tadi ingatnya. Sempat lupa tanggal berapa saya menontonnya. Yang jelas waktu itu, saya sedang dekil-dekilnya menjadi seorang anak kecil yang rajin merengek minta permen gulali kepada ibu saya. Oh iya, di film si Unyil itu ada adegan nasi menangis karena dibuang oleh manusia. Ah, memang dasarnya manusia. Lupa adalah hal biasa. Saking biasanya, jadi tidak merasa berdosa ketika lupa tidak menjadikan jabatan sebagai amanah.

Saya lupa, ketika sedang menulis; siapa nama orang nomor satu Indonesia. Dan, sudah berapa kali bangsa ini melaksanakan pemilu. Itu bukan lupa, saya pikir. Tapi, males ngitung-nya. “Emang bakal digaji?”, timpal mang Udin di kampung saya.

“Ah.., nggak apa-apa, Mang”, jawab saya. “Meskipun warga mengingat nama pemimpin negeri ini, tetap saja lapar dan tidak bisa beli lauk pauk”. Mendingan mengingat saya. Kalau ada artikel saya di Koran, pasti kebagian jatah. Meskipun tidak sebesar gaji para menteri dan pejabat?

Buat saya, jangan lupa bahwa saya adalah orang pelupa. Sekian saja, lebih tepatnya, curhat yang sedikit tak berarti bagimu. Tapi, bagi saya ini sangat berarti.

Sebab, jangan-jangan saya lupa sekarang sedang menulis di www.kompasiana.com. Dan, besok baru ingat. Bahwa kemarin saya sudah memposting tulisan di situs ini. Nah, berarti saya tidak lupa kan?

Buat pejabat, jangan lupa juga, untuk tidak melupakan rakyat. Lucu saya kira. Kalau para pejabat seperti saya. Ketika ada calon legislatif atau presiden yang dimintai pertanggungjawaban rakyat. “Oi…pemilihan kemarin anda berjanji akan menyejahterakan rakyat”. Entengnya dia menjawab, “Ah…, maaf pak, ibu, saudara, saudari; saya lupa membawa catatannya. Hilang pas pulang dari sini!!!”

“Huh…”

BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: