2 January 2009

Tafakur Tahun Baru

BAGIKAN
Oleh SUKRON ABDILAH
(artikel ini telah dimuat di Harian Pikiran Rakyat, 02 Januari 2009)

"Sungguh, dalam semua ini terdapat pesan bagi mereka yang
dapat membaca tanda-tanda," (Q.S. Al-Hijr [15]: 75).

BAGI umat Islam, sejenak merenungi diri untuk mengubah kondisi ke arah yang lebih baik adalah misi suci tanpa henti. Di sini, di bumi ini, tugas kita ialah menyampaikan pesan suci langit kepada manusia. Menyampaikan keluhuran, kesucian, dan kedamaian hingga terasa nyata oleh seluruh alam semesta. Itulah mengapa Islam memegang teguh prinsip "rahmatan lil alamin".

Transformasi diri dalam perspektif Islam tidak hanya dilakukan pada saat-saat tertentu, tetapi sepanjang hayat di kandung badan. Dalam bahasa lain, seumur hidup, perubahan ke arah yang lebih baik harus memenuhi visi dan misi hidupnya. Tujuan akhir (ultimate goal) umat Islam adalah terus bekerja keras, demi menggapai kasih sayang (al-ridha) Allah, pencipta kehidupan ini.

Begitu juga ketika Dia (Allah) menciptakan waktu. Itu adalah wujud dari kasih sayang-Nya kepada umat manusia. Dengan perputaran waktu, setiap manusia yang sadar mampu menghargai pemberian-Nya. Salah satunya keberkahan usia. Tahun kemarin, tanggal di kalender adalah tanggal yang berada di tahun 1429 H. Sekarang, tahun itu berubah jadi tahun 1430 H. Begitu pun dengan tahun Masehi, sekarang berganti dengan tahun 2009. Lantas, sudahkah kita bertafakur ?

Tafakur, adalah istilah Arab untuk menyebutkan aktivitas berpikir. Di dalamnya, ujar pakar linguistik, ada upaya reflektif, kontemplasi yang hati-hati dan sistematik. Tafakur juga dapat menjembatani pandangan hidup manusia, bahwa ada yang disebut dunia dan akhirat, bahkan ada makhluk dan pencipta. Tafakur disebutkan Alquran sebanyak 18 kali yang digunakan sebagai "kata kerja" ketimbang "kata benda". Artinya, menjukkan bahwa tafakur merupakan suatu proses, bukan hanya konsepsi abstrak.

Jamal Badi dan Mustapha Tajdin, dalam buku Islamic Creative Thinking (Mizania, 2008: 17-20), merunut istilah lain dari tafakur. 1) Nazhar, yakni memperhitungkan, memerhatikan, dan memikirkan; 2) Tabashshur, yang berarti memahami; 3) Tadabbur, yaitu merenungkan; 4) Tafaqquh, berarti memahami sepenuhnya, menangkap makna, dan sungguh-sungguh mengerti; 5) Tadzakkur, ialah mencamkan dalam pikiran atau hati; 6) I`tibar, diartikan belajar, mengambil, atau memetik pelajaran dari sejarah, pengalaman, dengan maksud agar tidak mengulangi kesalahan; 7) Ta`aqqul, adalah menggunakan pikiran dengan benar; 8) Tawassun, merupakan aktivitas membaca tanda-tanda yang tersirat.

Dari beragamnya sinonim tafakur dalam Alquran, satu yang harus kita garis bawahi, yakni menggunakan akal dan pikiran untuk merenung, berefleksi, dan berpikir tentang bangsa adalah inti dari penciptaan waktu oleh-Nya. Sebagai Sang Pencipta, Allah SWT, mewajibkan kita untuk mengisi waktu sebaik mungkin. Pergantian tahun, bukan berarti kita harus melupakan tahun-tahun yang lalu. Namun, terus tenggelam pada masa lalu pun tidak akan mengubah apa-apa, kecuali kekecewaan. Oleh karena itu, dalam Islam hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin, bukan lantas meratapi apa yang telah diperbuat pada tahun yang lalu.

Hari Jumat ini adalah awal yang baik untuk bertafakur tentang kondisi bangsa, negara, agama, dan laku lampah pribadi kita. Orang yang dapat membaca dan menangkap tanda-tanda yang diberikan-Nya adalah individu yang dapat mengubah dirinya ke arah yang lebih baik. Tentunya dengan memanfaatkan potensi akal dan hati yang dianugerahkan-Nya kepada seluruh umat manusia.

Kesejatian pribadi Muslim dan Muslimah akan terwujud seandainya kita mengetahui segala kesalahan di masa lalu, dan berupaya mengubahnya menjadi lebih baik. Dalam hal ini, tafakur bisa berarti upaya intelektual untuk mengubah diri, masyarakat, bahkan dunia. Tetapi, jangan melupakan bahwa di samping bertafakur, kita juga mesti memunajatkan doa kepada-Nya.

Ali Syari`ati berpandangan, doa adalah tanda dari kehausan dan kasmarannya hati untuk melakukan mikraj keabadiaan. Pendakian ke puncak kesuksesan yang mutlak, dan perjalanan memanjat dinding keluar dari batas alam fisik (mundus sensibilis). Artinya, doa adalah sarana perlawanan terakhir; di saat semua potensi perlawanan yang lain telah dibabat habis. Doa adalah raison d`etre keabadian spirit manusia untuk keluar dari ancaman bencana kepunahan.

Pada zaman Salafushalihin, masyarakat kota Basrah, Irak, kedatangan ulama shaleh, Ibrahim bin Adham. Waktu itu, warga kota Basrah sedang menghadapi kemelut sosial yang tak kunjung reda. Melihat ulama besar kharismatik yang langka itu, mereka tidak menyia-nyiakannya untuk bertanya.

"Wahai Aba Ishak, Allah berfirman dalam Alquran agar kami berdoa. Kami sudah bertahun-tahun berdoa, tapi kenapa tidak dikabulkan?" tanya mereka.

Ibrahim bin Adham menjawab, "Wahai penduduk Basrah, hati kalian telah mati dalam beberapa perkara, bagaimana mungkin doa kalian akan dikabulkan. Kalian mengakui kekuasaan Allah, tapi tidak memenuhi hak-hak-Nya. Membaca Alquran, tapi tidak mengamalkannya. Mengaku cinta kepada Rasul, tapi meninggalkan sunahnya. Membaca taawudz, berlindung kepada Allah dari setan yang disebut musuh, tetapi setiap hari memberi makan setan dan mengikuti langkahnya".

Terakhir, ia mengatakan, "Wahai penduduk Basrah, ingatlah sabda Nabi. Berdoalah kepada Allah, tetapi kalian harus yakin akan dikabulkan. Hanya saja kalian harus tahu bahwa Allah tidak berkenan mengabulkan doa dari hati yang lalai dan main-main". ***

Penulis, editor lepas DAR!Mizan, serta alumnus Universitas Islam Negeri (UIN) Bandung.


BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: