28 June 2018

Capek Juga Mencuci Pakaian Sendiri

BAGIKAN


SUDAH tiga hari ini Kota Bandung cuacanya mendung kelabu. Tiga hari juga pakaian yang saya cuci belum dijemur. Mencuci memang pekerjaan yang membuat otot bagian belakang saya keram-keram. Meskipun sudah lama malang melintang mencuci pakaian sendiri, kadang saya mencela pekerjaan ini. Mungkin, saya adalah laki-laki. Di mana dalam sebagian mindset warga kita, mencuci adalah pekerjaan wanita.



Jujur saja, saya salut kepada ibu di kampung yang selama puluhan tahun selalu mencuci pakaian kotor anak-anaknya. Ketika pakaian saya, adik, dan kakak saya atau ayah saya sudah sedemikian kotor, ia rela mewakafkan tenaganya. Ini pekerjaan mulia. Betapa tidak, dengan tumpukan pakaian kotor itu, ibu saya dan wanita lain dapat mengelola emosinya. Tidak seperti kebanyakan laki-laki yang menggerutu ketika membersihkan pakaian kotor.

Hari ini ketika saya tidak bisa menyelesaikan pekerjaan mencuci karena mendung menyelimuti kota Bandung, berpikir sejenak. Atas jasa ibu saya, kakak saya, dan adik saya yang tidak menggerutu ketika mencuci pakaian. Mereka tidak meminta bayaran atas kerja ini. Mereka juga tidak pernah meminta balas jasa berbentuk materi. Bahkan, lihat hasil cucian mereka. Bersih, harum, dan indah terlihat. Tidak seperti pakaian yang dicuci laki-laki. Sedikit bersih, agak kusut tak beraturan, dan kadang aromanya tidak seharum yang dicuci kaum hawa.

Hal itu bukan berarti saya setuju dengan pandangan bahwa wanita pekerjaannya di dapur, di sumur, dan di kasur. Tidak seratus persen. Maka, dengan bekal pengalaman mencuci yang dimiliki, saya akan rela membagi tugas rumah tangga dengan istri saya kelak. Sebab, saya sudah terbiasa sejak menginjak SMP mencuci pakaian sendiri. Tapi, harus tahu risikonya, bahwa cucian saya tidak akan sebersih cucianmu…, sayang.
Begitu pun ketika istri saya tidak sempat memasak makanan, karena kesibukan mengejar karir, saya akan bersedia memasak. Ya, paling juga saya memasak tumis kangkung, sambal goreng tempe, ceplok telur, sambal goang, dan satu lagi, makanan kesukaan saya “cobe belut”. Hehe

Karena kebiasaan saya selalu menunggu tiga hari mencuci pakaian, ingin rasanya mendapatkan trik dan tips supaya dapat mencuci pakaian sebersih yang dilakukan ibu saya dan calon istri saya. Mereka berdua mencuci pakaian hingga bersih dengan cara yang berbeda. Ibu saya, selalu menggunakan sikat ketika menggosok pakaian. Hingga kotoran yang menempel di pakaian menjadi bersih. Kalau calon istri saya, mencucinya dengan menggunakan teknologi modern, yakni menggunakan mesin cuci. Ah, tapi dua-duanya memang hebat. Mampu mencuci pakaian hingga terlihat bersih kembali. 


BAGIKAN

Penulis: verified_user

2 komentar:

Anonymous said...

Hohohohohoho..

Itu baru cuci pakaian sendiri Maz...Gimana kalo disuruh nyuciin baju temen juga,...????

He he he he bakalan ga bisa nulis tuwh hihihihi...

Salam...

Sukron Abdilah. said...

iya nih, karena cuaca mendung, cucian saya jadi terbengkalai. salam juga