11 February 2009

Interaktivitas Media "Cetak-Online"

BAGIKAN
Oleh SUKRON ABDILAH

Bill Gates, raja software dunia (Microsoft) pernah meramalkan, digitalisasi informasi dan komunikasi sejak 1990-an akan mematikan surat kabar 10 tahun sejak ramalannya. Meskipun agak meleset, ramalannya telah menimpa beberapa surat kabar di Amerika Serikat dan Eropa. Kebangkrutan media mainstream seperti Chicago Tribune, yang berada di AS merupakan indikasi pihak media cetak harus melakukan kolaborasi media. Apalagi di era internet ini, berita menjadi basi dan akan ditinggalkan pembaca kalau tidak melakukan kolaborasi.

Kekuatan detikcom, yang memuat news breaking, misalnya menjadikan media online ini diminati oleh pembaca dari generasi digital. Bukan hanya media online saja. Zaman sekarang, kehadiran web personal di dunia maya menjadikan perubahan budaya pembaca dari cetak ke digital. Apalagi dari kalangan generasi muda yang notabene melek internet. Mereka dengan kemampuan mengelola weblog bisa menciptakan media bagi diri sendiri. Tanpa campur tangan editor seperti di surat kabar, mereka bebas mempublikasikan ide dan informasi secara cepat.

Pada awalnya, blog atau weblog adalah semacam diary online, namun di era kecepatan akses internet dan keterbukaan informasi mengubah peran dan fungsi blog di jagad maya. Saat ini, tidak jarang kalau fungsi blog melebihi peran jurnalistik media mainstream, karena menyajikan informasi secara realtime! Tidak hanya itu, advokasi warga juga banyak berawal dari propaganda blogger yang dilakukan melaui web personal miliknya. Independensi blogger menjadikan weblog tidak sekadar media komunikasi personal. Tetapi, telah menjadi kekuatan sosial untuk menyuarakan suara sumbang yang tidak diangkat media mainstream.

Seorang blogger ketika mengelola kelangsungan blog-nya dengan memposting tulisan-tulisan berkala, memiliki dua efek samping. Pertama, ia menemukan minat atau bakatnya di salah satu bidang. Kedua, ia akan menghargai opininya dan berupaya keras menghadirkan konten yang keabsahannya tidak diragukan. Sebab ketika ia memposting tulisan, gambar, atau video – sebagai opini – akan mendapat komentar para pengunjung. Inilah komunikasi interaktif yang membedakannya dengan media cetak.

Ketika khalayak membaca tulisannya, mereka dapat melakukan sanggahan, pujian, atau pengajuan ide yang lebih baru. Alhasil, ia akan lebih hati-hati dan berpikir sebelum memposting ide dan gagasannya (think before posting) karena akan terjadi komunikasi interaktif antara dirinya dengan pembaca. Maka, ketika menulis artikel di weblog pribadi, misalnya, seorang blogger akan semakin percaya diri dan berusaha memenuhi wawasannya seputar yang dia tulis.

Maka, diperlukan penguasaan terhadap masalah yang akan kita tulis supaya pembaca tidak menganggapnya sebagai hal remeh temeh yang tidak layak dibaca. Dengan interaktivitas ini, seorang blogger akan langsung menerima masukan dan melakukan jawaban secara langsung. Di internet, menurut Hikmat Budiman (2002: 57), setiap orang dapat merengkuh media tradisional berupa teks, gambar, citra audiovisual, dan realitas virtual secara interaktif dan tidak searah.

Media cetak konvensional yang satu arah dari produsen kepada audience atau khalayak pembaca, bertransformasi menjadi interaktif. Di dalamnya ada pelbagai proses produksi, reproduksi, dan penyebaran informasi secara bolak-balik antara konsumen dan produsen informasi. Inilah yang disebut sebagai interaktivitas!

Kalau di media cetak, ketika seseorang tidak menyetujui opini, ide, dan gagasan yang dimuat di sebuah kolom opini misalnya, membutuhkan waktu yang cukup lama. Memang betul kalau tahun 1980-an ketika internet belum menjamur seperti sekarang, satu hari pemuatan adalah waktu yang cepat. Namun, sekarang hitungan hari akan terasa lama, karena setiap orang telah dimanjakan dengan kecepatan mengakses informasi.

Apalagi teknologi Wi-Fi (Wireless Fidelity) kian mudah diperoleh. Pengakses internet dapat menikmati kecepatan mengakses internet nirkabel (wireless) melalui teknologi Wi-Fi di lokasi yang berada dalam jangkauan. Sekarang cukup dengan menenteng notebook yang dilengkapi fasilitas Wi-Fi, WLAN, atau modem USB ketika berada di pusat pertokoan, kantor pemerintahan, dan restoran, setiap orang bisa mengakses informasi secara online.

Ketika media cetak tidak ingin ditinggalkan pembacanya yang mulai beralih ke gaya hidup digital (digital life style), kolaborasi cetak dan online merupakan salah satu cara untuk memelihara kelangsungan surat kabar. Dengan pengguna internet di Indonesia yang mencapai 25 juta orang lebih, kiranya menjadi potensi pasar bagi para penerbit surat kabar untuk melakukan kolaborasi ini. Suatu keniscayaan bagi surat kabar (cetak) melakukan kolaborasi dengan dunia online (digital).

Itu juga kalau surat kabar melihat ada potensi dibalik fenomena merebaknya weblog sebagai media independen para blogger yang menjadikan budaya digital sebagai gaya hidup. Joshua Karp adalah orang yang mampu melihat peluang itu dengan merencanakan akan mencetak surat kabar yang kontennya diambil dari para blogger dengan nama The Printed Blog.



BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: