27 February 2009

Jakartaphobi; Ketakutan pada Cuaca Jakarta?

BAGIKAN
Oleh Sukron Abdilah

(Baca juga di Kompasiana.com)

Ini bukan tulisan sentimental tentang Jakarta. Selama saya bernafas, Jakarta adalah Ibu Kota Negara Indonesia. Dan, Jakarta adalah jantung negara Indonesia. Kalau di tubuh manusia, jantung adalah bagian terpenting berlangsungnya usia hidup seseorang. Coba bayangkan kalau Jakarta (entah Timur, Barat, Selatan, Utara atau Pusat) cuacanya panas menyengat. Bagi saya, yang tulen berasal dari daerah dingin, Kabupaten Garut, Jawa Barat, wow sangat tidak enak sekali. Apalagi saya gampang keluar keringat ketika bergerak sedikit saja. Nggak tahu saking sehatnya, hehe, meskipun di daerah dingin, sesekali keringat itu bakal keluar perlahan-lahan dari dahi.

Ya, berdasarkan pengalaman, meskipun baru beberapa kali ke Jakarta, air untuk mandinya tidak terasa seperti di kampung saya. Kalau di kampung saya sih, itu dulu tidak tahu sekarang mah; terasa seperti air kemasan saja. Kalau sedang mandi, bisa sambil minum. Inilah yang saya lakukan ketika kecil dulu. Heueuh…, mandi sambil minum di bulan puasa pada pukul 12 siang. Hehe, sekarang ya tidak lagi dong. Nah, ngomongin tentang cuaca di Jakarta, saya jadi tidak pernah nyaman. Kebetulan, setelah bulan puasa yang lalu, saya mengunjungi teman di Menteng, tepatnya, geduh Dakwah PP Muhammadiyah. Tahu tidak, kalau selama perjalanan menuju ke Menteng saya berkeringat terus-terusan.

Ya, meskipun berada di dalam bus yang ber-AC, Bushway. Apalagi ketika naik angkutan umum (baca; angkot), saya jadi sedikit gusar karena orang lain tidak berkeringat. Saya justru berkeringat sekujur tubuh. Jaket yang dipakai juga saya lepaskan, dan pasti dong, para penumpang, saling berpandangan. Nggak tahu kenapa, ya? mungkin…., anda juga tahu lah. Kemudian, ketika malamnya tiba, saya tidur di Gedung itu sambil membuka baju, meskipun di sana sini banyak ase. Dan, sekali lagi, ketika pukul 5 saya mandi, busyet, airnya tidak sedingin di pegunungan. Heueuh…, tidak seperti di Garut.

Itulah yang tidak kuat saya jalani. Sehingga, tidak begitu ngeh dengan ajakan dari teman-teman di Menteng, untuk aktif berorganisasi. Biar di Jabar saja, jawab saya. Nanti, kalau sudah kuat dengan cuaca panas Jakarta, saya pikir-pikir lagi deh.

“Berarti, saya phobia dengan Jakarta atuh?”

“Bisa tidak, bisa juga ya.”

Phobia, seperti yang saya dapatkan dari www.artiku.com, adalah ketakutan berlebihan terhadap sesuatu. Ketakutan itu bisa terhadap benda, situasi, atau kejadian, yang ditandai dengan keinginan untuk menjauhi yang ditakuti itu. Nah, ketika saya takut berkeringat ketika berada di Jakarta, kalau berlebihan, bisa dikategorikan ke dalam perilaku phobi, dong. Saya bukan takut oleh Kebisingan Jakarta, sehingga malas untuk bepergian ke Jakarta. Tapi, tidak kuat dengan panasnya cuaca Jakarta.

Istilah warga Sunda, “asa teu betah”. Mungkinkah saya Jakartaphobi?

Tidak juga, itu hanya wajar. Sebab, meskipun takut nanti berkeringat, toh saya masih bisa berkunjung ke tempat kerja kakak di Jakarta. Permasalahannya, kalau sampai di jakarta pukul 10 malam, pasti deh, pukul 5-nya saya sudah kabur terbirit-birit. Bukan takut digrebek satpol PP. Tapi, tidak enak saja tinggal berdesakan dengan cuacanya yang panas. Coba kalau orang Indonesia di daerah seperti saya, hehe, mungkin fenomena melonjaknya pendduduk Jakarta, bisa tertanggulangi.

Pada tahun 2006, sekitar 7.512.323 (2006) tinggal di Jakarta dan bertambah pada siang harinya, oleh pekerja dari Bekasi, Tangerang, Bogor, dan Depok. Data ini diperoleh dari wikipedia dan tidak tahu, apakah pada 2009 ini jumlahnya bertambah atau berkurang. Saya rasa, selama kemiskinan dan kekurangan akses ekonomi di setiap pelosok negeri Indonesia masih ada; Perantau yang memenuhi Jakarta bakal bertambah banyak.Dalam bahasa lain, ketidakenakkan menetap di Jakarta bisa dikalahkan oleh ketidakenakkan menjadi orang miskin dan tidak punya uang untuk beli makan istri beserta anak. Kalau betul Jakarta adalah jantung-nya Indonesia, peliahralah agar tidak terkena serangan jantung…? Maksudnya jangan dibikin gerah. Tapi, mungkinkah itu terlaksana sesuai harapan? Semoga saja. Amiin

BAGIKAN

Penulis: verified_user

3 komentar:

Wijaya Kusumah said...

ke kang saya siapkan segala sesuatunya

Sukron Abdilah. said...

ok...mangga nuhun nya...ku abdi dipasihkeun no kontaknya ya.

infoGue said...

Artikel anda di

http://cuaca.infogue.com/jakartaphobi_ketakutan_pada_cuaca_jakarta_

promosikan artikel anda di infoGue.com. Telah tersedia widget shareGue dan pilihan widget lainnya serta nikmati fitur info cinema, game online & kamus untuk para netter Indonesia. Salam!