6 February 2009

Kebiasan Membudaya "Adu Jotos"

BAGIKAN
Oleh SUKRON ABDILAH

DULU, di daerah saya para pemudanya suka adu jotos dengan pemuda dari kampung lain.
Wajar, saya kira, karena pemuda di kampung saya banyak yang tak sekolah. Hanya satu-dua orang saja. Tak lebih. Apalagi ketika hari raya Idulfitri, pasti di sana-sini Polsek Banyuresmi dibikin sibuk. Sekarang, itu jarang terjadi. Mungkin zaman telah modern, hingga banyak pemuda yang sekolah atau urban ke kota.

Jadi, pemuda di kampung saya sudah pada cerdas dan terbuka. Tak suka lagi berkelahi rame-rame, tawuran atau keroyokan tea. Dan, lebih menghargai perbedaan. Buktinya, antara pemuda kampung saya dengan kampung yang lain, sekarang jarang terjadi bentrokan. Saya sih, gembira betul melihatnya.

Tapi, kaget juga ketika dulu mendengar dan membaca berita penganiyaan Praja IPDN. Bahkan, pernah membaca di media bahwa ada mahasiswa IPDN (dulu STPDN) mengeroyok warga tidak berdosa sampai babak belur. Ya, sampai korban yang dikeroyok meninggal dunia. Memang betul jika “adu jotos” sudah jadi kebudayaan kita. Susah untuk dihilangkan, meskipun dirinya menjabat sebagai anggota DPR.

Tak heran jika dulu pernah ada anggota DPR yang berlagak seperti atlet tinju. Saling memukul dan balas menonjok. Bahkan, sampai melemparkan apa saja yang bisa dilemparkan. Kalau saja ada tunjangan buat HP baru, pasti itu HP sudah melayang ke udara. Kemarin-kemarin, kejadian chaos dan anarkis para pendemo juga membuat saya sedikit mengintip malu-malu demokrasi Indonesia. Pengeroyokan ketua DPRD Sumut yang mengakibatkan dirinya meninggal, sangat mengotori demokrasi kita. Masa, kekerasan dilakukan untuk sebuah kepentingan politis. Meskipun, ketua dewan itu penyebab kematiannya masih diselidiki, tapi tetap saja ada yang cacat dalam sistem demokrasi kita.

Kita pun tersadar kembali betapa sistem pendidikan masih menyisakan gaya militeristik. Lulusan IPDN yang semestinya dicetak jadi pamong, yang bertugas ngemong atau melindungi rakyat; ternyata malah jadi pangreh, yang kerjaannya mangreh atau menguasai dan menindas rakyat. Bagaimana nasib bangsa ke depan? Ketika calon pemimpinnya hanya dengan persoalan sepele sampai-sampai berani merenggut nyawa orang. Ironis!

Bahkan, belum juga menjadi pemimpin, mereka sudah berani menyiksa sampai meninggal dunia hanya karena sebatang rokok. Malunya lagi, kejadian ini terjadi di tempat Biliar, pada pukul 22.30, di mana seharusnya siswa tidak keluar. Calon pemimpin, kok, liar begitu?

Ada kisah tauladan yang menarik dari pribadi Nabi Muhammad. Ketika ada seorang Arab pedalaman (baduy) yang (maaf) kencing di Mesjid, ia tidak lantas menjambretnya.
Bahkan tidak memukulnya. Apalagi sampai membunuhnya. Beliau malah melemparkan senyuman dan mencegah Umar bin Khaththab yang hendak memukul orang Arab pedalaman itu. Beliau tidak menyukai kekerasan dan selalu menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Sekarang ini, zaman tidak lagi sedang berada di era "barbarian". Atau bukan lagi masyarakat Machiavelis yang menghalalkan segala macam cara – termasuk kekerasan – untuk menyelesaikan masalah.

Kita dianugerahi Tuhan akal-pikiran yang semestinya difungsikan sebagai alat pencerna segala sikap dan tindakan, hingga melahirkan tindakan arif dan luhung. Karenanya, untuk yang suka memperlihatkan kekuatan fisik (“ngadu jajaten”) ketika menyelesaikan masalah, saatnya berkaca pada para pemuda di kampung. Mereka, kendati tidak pernah dibiayai pemerintah untuk sekolah tinggi-tinggi, sudah bisa menanggalkan kebiasaan "adu jotos".

Mungkin, lebih tepat jika para perenggut nyawa warga tak berdosa itu, di simpan di sasana tinju, tempat mencetak petinju handal. Biar jadi samsat para atlet tinju, dan merasakan sakitanya di-jebs oleh orang lain. Seperti dalam pertandingan tinju di televisi. Oh iya, Chris Jone juga kepalanya plontos kan? Tapi, ia tidak pernah nojos nyawa orang lain!. Apalagi sampai adu Jotos, setelah bola biliar selesai di-tojos. Ah, teu kahartos!


BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: