8 February 2009

Menggagas Kampung (Tempat) Belajar

BAGIKAN


Oleh SUKRON ABDILAH

Daerah tertinggal dan pelosok desa di Jawa Barat, membutuhkan semacam model pendidikan murah yang membebaskan warganya dari kebodohan. Oleh karena itu, Tepas Institute, seperti yang telah dilakukan menggagas perpustakaan di tiap desa yang sulit mengakses informasi. Program pendidikan bagi warga marginal ini, alhamdulillah, telah dijalankan di empat daerah di Jawa Barat, di antaranya, Kuningan, Bandung Barat, Tasikmalya, dan Kabupaten Pemalang.

Dengan berbekal jaringan para anggotanya, Tepas Institute, yang dipimpin oleh Roni Tabroni, sekarang sedang menggodog supaya daerah tertinggal di setiap daerah, khususnya Jabar, warganya mampu membebaskan diri dengan cara memberantas buta huruf, yang sudah kadung menjangkiti kalangan tua di daerah-daerah terpencil.

Seperti yang diungkapkan dalam (kampungbelajar.blogspot.com), konsepsi Kampung Belajar merupakan program pemberdayaan masyarakat yang fokus di bidang pendidikan non formal. program ini untuk sementara di fokus ke pendirian perpustakaan warga. Program ini dibuat secara swadaya. Dan, setelah berjalan beberapa bulan saja, antusiasme warga yang membaca ataupun yang menyumbangkan bahan bacaan kepada kami meningkat, "Ujar salah seorang penggiat Tepas Institute dalam weblognya."

Kampung Belajar, sebagai salah satu program kemanusiaan Tepas Institute mengucapkan terimakasih kepada berbagai pihak yang telah menyumbangkan buku dan bahan bacaan lainnya. Namun setelah berbincang dengan warga (tokoh masyarakat), khususnya di Kampung Bungur Bandung Barat, kini membutuhkan kitab-kitab sebagai bahan ajar dan pegangan anak-anak dan remaja yang mengaji setiap sore dan malam.

Kampung Belajar juga adalah salah satu program yang digagas anak-anak muda
Muhammadiyah Jawa Barat, yang tergabung dalam LSM Tepas Institute, Bandung. Kampung Belajar merupakan program unggulan TEPAS Institute. Program ini adalah bentuk pemberdayaan masyarakat yang terfokus di daerah minim pendidikan. Program ini akan berjalan bertahap, mulai pendirian perpustakaan masyarakat, kegiatan belajar non formal hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat. Koordinator Program untuk Kabupaten Bandung Barat (Dewi Mulyani), Kabupaten Tasikmalaya (Kelik Nursetyo W.), dan Kabupaten Kuningan (Isa Nur Zaman).

Mudah-mudahan dengan adanya program ini, warga pelosok akan terbebaskan dari belenggu kebodohan. Aktivitas pembebasan ini bisa diambil dari suri tauladan, K.H. A. Dahlan, tokoh Muhammadiyah, yang membebaskan anak yatim dari kemiskinan dan kebodohan. Meskipun, ada beberapa anggota yang mengelak bahwa kampung belajar adalah bersih dari kepentingan ideologis, ormas Islam, namun sebagai warga Muhammadiyah kita wajib bangga, sebab ada segelintir anak muda yang sudah memberikan kontribusi bagi kemajuan bangsa ini ke depan. ***


BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: