20 February 2009

Menyoal "The Death University"

BAGIKAN
Oleh SUKRON ABDILAH

(Artikel ini dimuat di Pikiran Rakyat, 26 Februari 2008)

KETIKA membaca artikel Bobby Rahman pada hari Jumat (20/2), saya kaget juga. Kok, ada beberapa ketidaktepatan memahami opini saya berjudul "Ospek dan Relasi Tuan-Budak"? Misalnya, Bobby Rahman menulis, bahwa saya mengatakan kampus ITB merupakan kampus pembantaian (the death university). Kesimpulan tidak tepat ini bisa dilihat dari paragraf kelima,"Apalagi pada kesimpulan akhirnya dengan mengatakan bahwa kampus ITB merupakan kampus pembantaian (the death university)."

Padahal saya tidak menyimpulkan seperti itu. Lihat saja pada subjudul "Pencegahan kekerasan" paragraf kedua, saya menulis: "Dalam bahasa lain, kampus tidak bisa dan tidak boleh disamakan dengan kamp pembantaian. Ya, lembaga perguruan tinggi bukan kampus pembantaian (the death university)." Mungkin, saya tidak menambahkan kata "not yet" sehingga ada indikasi pemahaman yang keliru tentang paradigma ospek, yang saya gusur pada gagasan kritis "tuan-budak". Jadi, deh, Bobby Rahman menganggap saya mengatakan ITB sebagai kampus pembantaian. Padahal, tidak kan?

Memang betul menganalogikan kamp konsentrasi Auschwitz dengan kampus sekelas ITB, adalah sesuatu yang – meminjam peribahasa Sunda – "jauh tanah ka langit". Tetapi, inti tulisan saya dengan meminjam Emmanuel Levinas, berusaha menjadikan ospek sebagai kegiatan yang dipenuhi relasi a-simetris antar mahasiswa satu dengan yang lain. Hubungan antar mahasiswa yang memperlakukan peserta yang berbeda dengan dirinya secara mulia, manusiawi dan terhormat.

Kekacauan metode

Bobby Rahman, seorang mantan Sekjen OS-KM ITB 2006 dan Menteri Dinamisasi Kampus Kabinet KM ITB 2008/2009 menulis pada subjudul Klarifikasi, paragraf terakhir: "Dalam kondisi ekstrem, seperti peperangan fisik, metode tersebut dapat digunakan dan oleh institusi yang tepat. Bukan berarti organisasi kemahasiswaan tidak berhak, tetapi apakah hal tersebut relevan dengan kondisi saat ini dan kebutuhan?". Inilah superioritas mahasiswa yang menganggap kekerasan fisik maupun simbolik tidak apa-apa dilakukan pada kegiatan ospek. Dan, kata "relevan" sarat penafsiran subjektif dari sebagian panitia ospek.

Sekarang publik bisa menilai, apakah dalam OS ataupun Ospek, dengan diganti penyebutan istilahnya sudah bersih dari praktik kekerasan? Ataukah masih terjadi? Perlu ditekankan bahwa kegiatan ospek tidak bisa tidak, saya katakan didalamnya rawan terjadi kekerasan terselubung. Itu terjadi apabila kekacauan paradigma dalam melaksanakan ospek terus dipelihara.

Jadi, saya pikir praktik kekerasan yang terjadi pada kegiatan ospek – meskipun pada kali ini – katanya dengan korban almarhum Dwiyanto Wisnugroho merupakan tragedi yang tak disengaja. Ini bukan berarti Bobby bebas melegalkan pembinaan bergaya militeristik, seperti yang dikutip awal subjudul tulisan. Johann Christoph Arnold (1998) mengatakan dunia akan berbeda ketika setiap orang sungguh-sungguh berdamai sepanjang hari. Namun, jika hanya basa-basi kesopansantunan, mengakibatkan konflik bersimbah darah terus terjadi dan menampakkan kita sebagai manusia tak ber-Tuhan.

Saya tidak setuju kalau pola militeristik, seperti dipaksa long march, push-up, sit up, dibentak-bentak dan sebagainya digunakan untuk menghukum peserta yang melanggar aturan "berat sebelah". Kekerasan, meskipun dilakukan untuk mengarahkan mahasiswa menggapai tujuan diadakan ospek, misalnya, agar tercipta kemandirian atau kedisiplinan, tetap saja mengakibatkan lahirnya generasi yang menyukai pratik kekerasan. Meskipun dalam draf keputusan pelaksanaan ospek tidak boleh dibarengi kekerasan, misalnya, tentu saja ke depan bakal ada oknum mahasiswa yang menindas peserta.

Hal itu dilakukan sebagai ajang menumpahkan kekesalan dalam bentuk kekerasan simbolik dan fisik. Ya, semacam ajang balas dendam yang bisa diposisikan sebagai gejala psikologis – meminjam istilah Sigmund Freud – rasionalisasi! Sederhananya, rasionalisasi dalam konteks kegiatan ospek, mahasiswa senior membalas perlakuan senior dulu kepada dirinya, dengan membentak atau menolak ajuan kritis yang dilontarkan peserta. Banyak kasus diabaikannya kesehatan peserta ospek – meskipun dirinya sakit atau lemah – dengan terus menyertakan dalam kegiatan ospek.

Makna tanggug jawab

Saya memahami mahasiswa atau civitas academica lainnya memiliki tanggung jawab hidup bagi dirinya dan orang lain. Dalam buku Man's Search for Meaning (1985), yang diterjemahkan dan diterbitkan Nuansa tahun 2004, Victor L. Frankl menulis bahwa sikap bertanggung jawab adalah esensi dasar kehidupan manusia. Dalam konteks kegiatan ospek di mana pun, sebagai seorang mahasiswa dituntut untuk selalu bertanggung jawab agar dirinya menemukan makna hidup, yakni "kedamaian aktif" dengan tidak melakukan kekerasan kepada mahasiswa lain.

Apabila paradigma ospek masih ditentukan dengan banyaknya kekerasan yang dilakukan atas nama "kaderisasi" atau pembinaan. Merebaknya kekerasan yang dilakukan mahasiswa, saya anggap salah satu benih yang akan melahirkan perilaku sadistis sehingga menciptakan relasi "tuan-budak" di Indonesia dan lingkungan perguruan tinggi. Menurut saya ITB bukan kampus pembantaian, karena tahu dari kampus ini lahir tokoh-tokoh nasional yang berperan bagi kemajuan Indonesia.

Semestinya kejadian ini merupakan pesan dari langit yang harus dijadikan pemicu membenahi atau menyingkirkan ospek dari sesuatu yang bisa mengarahkan para panitia melakukan kekerasan. Ingat, kekerasan bukan berarti tidak akan pernah ada di muka bumi, tapi dengan mulai mengarahkan mahasiswa untuk tidak menyelesaikan masalah dengan kekerasan adalah benih perdamaian di masa depan.

Karena itu juga, Hutomo Dananjaya, pakar pendidikan Universitas Paramadina, berpendapat kegiatan ospek harus dikemas semenarik mungkin. Seperti diketengahkan pada artikel: "Ospek dan Relasi Tuan-Budak", outbond diselingi permainan interaktif, relasi komunikatif dan atraktif adalah metode tepat dalam menggapai tujuan ospek itu sendiri. Bukan dengan menyelipkan kegiatan yang membebani fisik dan menyingkirkan kebebasan mahasiswa baru.

Mahasiswa, sepertinya tidak tepat kalau diposisikan bagai mesin yang tak berpikir? Di ITB ada pemikir dan sastrawan yang saya kagumi, Yasraf A Pilliang dan Acep Iwan Saidi. Jadi, sekali lagi, saya tidak memprovokasi publik dengan menyebut ITB sebagai kampus pembantaian! Wallahua'lam

Penulis, Sekretaris Bidang Keilmuan DPD IMM Jawa Barat 2008-2010, Mantan Peserta Ospek 2002

BAGIKAN

Penulis: verified_user

2 komentar:

Anonymous said...

Assalammu'alaikum

Bung Sukron
Terima Kasih atas tulisan klarifikasi atas opini yang saya tulis tersebut.
Kalau ada waktu kita bisa berdiskusi sekaligus melihat perubahan yang terjadi di kampus ITB. Dari kutipan dan pesan yang disampaikan saya bisa menangkap maksud baik dari bung sukron. Tetapi terlepas dari hal tersebut kadang kita terjebak pada pandangan sepihak. Saya sepakat harus ada perubahan dan cara berpikir dari paradigma OSPEK. Maka dari itu saya mengatakan permasalahan ini harus dilihat dari sudut pandang perubahan.

Salam persahabatan
Bobby Rahman

Sukron Abdilah. said...

Sama2 saya yakin juga bakal ada perubahan dalam paradigma OSPEK. Kalau metode penguatan fisik harus diberlakukan kenapa tidak bareng-bareng dengan panitianya. kalau peserta push up, panitia juga. kalau peserta long march, panitia long march juga. Dulu, ketika saya mengkader anggota baru IMM menerapkan metode seperti ini. Asyik, karena ketika kami (panitia) kecapekan, seluruhnya beristirahat dulu. Asyiknya juga kami waktu itu adalah bisa lebih dekat dengan para peserta. Tidak ada semacam sekat senior-junior. Tapi, ketika melaksanakan kegiatan Ospek di jurusan masih tetap terlihat pola-pola intimidasi seperti menekan peserta dengan cara menyalahkan argumentasi yang sebetulnya benar. Yang bikin aturan kan panitia Ospek, jadi panitia kayaknya berkuasa menentukan siapa yang salah. Dalam tulisan yang ditulis Bobby sebetulnya saya merasa disudutkan karena menulis sesuatu yang tidak pada tempatnya. misal, saya mengatakan ITB Kampus pembantaian. Itu kan sama saja saya sudah memfitnah.

Perubahan bagi saya adalah memosisikan peserta dan panitia secara terhormat dan mulia. peserta menghormati. begitu juga dengan panitia. Saya berharap Kang Bobby bisa mengubahnya. Dan, saya yakin bisa diupayakan. Kami juga, di UIN, meskipun sudah tidak aktif kuliah, masih menasihati mahasiswa2 untuk melaksanakan Ospek seramah mungkin. Tapi, itu tadi seperti yang dikatakan Bobby, masih saja ada oknum. Akhirnya, mahasiswa kita jago berkelahi dan ahli perang saja. Tapi, melihat dan membaca tulisan Bobby, saya yakin Bobby bukan mahasiswa seperti itu. Makasih yang masukan dan kritikannya.

jujur saja, saya jadi lebih berhati2 kalau menulis. Hidup Mahasiswa ITB.

Salam Erat Persahabatan
SUKRON ABDILAH
untuk kirim2 informasi bisa di Facebook atau YM ya...sukronabdilah@yahoo.com.