13 February 2009

Penulis: Profesi Atau Kerja Sampingan ?

BAGIKAN
Oleh SUKRON ABDILAH

SIAPA sangka kalau menulis bisa menghasilkan uang. Dulu, saya beranggapa seorang penulis hidupnya akan sejahtera. Namun, seiring waktu berlalu saya berkesimpulan menjadi seorang penulis membutuhkan mental yang kuat. Kesejahteraan orang yang hanya menggantungkan hidupnya dari profesi menulis, sangat beragam. Ada penulis yang tidak sejahtera atau miskin. Ada juga penulis yang kaya raya dengan penghasilan yang mencapai miliaran rupiah.

Sekarang, alhamdulillah, saya termasuk seorang penulis yang berada di tengah-tengah. Tidak kaya dan tidak juga terlalu miskin. Selain menulis, saya seesekali mengedit buku di salah satu penerbit di kota Bandung. Dengan dua naskah yang saya edit, sekitar Rp. 700 ribu sudah bisa dinikmati. Biasanya, buku yang saya edit itu memakan waktu sekitar satu minggu. Bahkan, kalau tidak sedang menulis artikel untuk blog dan media massa, pekerjaan itu sudah bisa saya selesaikan selama 2-3 hari.

Selain penghasilan dari mengedit naskah buku, selama tahun 2004-2008 saya rajin menulis artikel ke media massa. Hampir tiap bulan sekitar 2-3 tulisan dipublikasikan di koran Pikiran Rakyat dan Kompas Jawa Barat. Penghasilan dari menulis artikel ini, kadang-kadang mencapai Rp 1-1,5 juta per bulan. Belum lagi dengan pendapat royalti 2 buku saya dari DAR!Mizan, sekitar Rp 3-4 juta per tiga bulan. Maka, penghasilan saya per bulan lebih dari cukup, tetapi tidak membuat saya terdaftar sebagai orang-orang kaya dengan menjalani profesi sebagai penulis.

Saya mempunyai pengalaman yang bisa dibilang mengecewakan. Suatu ketika, ada tulisan saya di empat media. Tiga tulisan dimuat di majalah dan dua tulisan dimuat di media koran. Sampai sekarang, saya tidak pernah menerima honor dari tulisan yang mereka muat di medianya. Yang jelas, setelah pengalaman itu saya tidak lagi menulis untuk mereka. Bukan berarti saya matre. Tapi, ada sesuatu yang mereka manfaatkan dengan cara menjual gagasan saya, tetapi tidak ada penghargaan terhadap gagasan yang saya rangkai dengan mencari referensi.

Ingat, mencari referensi itu memerlukan biaya yang tidak kecil. Dan, dengan honor yang diterima itu, para penulis tidak menggunakannya untuk berpoya-poya. Tetapi, untuk membeli kembali gagasan dari penulis lain berupa buku, majalah, Koran, web, dan sebagainya. Karena karakter saya yang susah menghilangkan rasa jatuh cinta, begitu pun ketika saya mengirim tulisan atau naskah. Saya memercayai media dan penerbit yang teruji kejujurannya. Pikiran Rakyat, Kompas, dan Penerbit Mizan – di mana karya saya banyak yang dipublikasikan – adalah fartner yang saya percayai. Sehingga, saya berkonsentrasi menulis artikel untuk media ini.

Jadi, jangan heran kalau tulisan saya jarang nongol di media lain. Saya menulis bukan karena materi. Tapi, ketika saya tidak punya sedikit pun uang untuk membeli buku, bepergian, menghadiri diskusi, dan browsing atau blogging; kekesalan saya pada media yang belum memberikan honor berbulan-bulan teringat lagi. Saya jadi berpikir, penulis adalah profesi sampingan. Bukan profesi tetap.

Nanti, kalau penghasilan saya sudah di atas 10 juta per tiga bulan, baru saya anggap bahwa menulis adalah profesi tetap. Saya tidak berharap menghasilkan uang miliaran rupiah dari tulisan-tulisan saya. Sepuluh juta juga saya rasa cukup untuk hidup di kampung yang bebas dari segala polusi batin dan lahir. Saat itulah, apabila tulisan tidak dibayar juga tidak apa-apa, yang penting secara eksistensial saya mengada, meruang dan mewaktu.

Sekarang, saya sedang belajar ikhlas menulis artikel dan buku remaja. Seperti yang pernah dipesankan ibunda tercinta di kampung. Bahwa menulis harus seperti (maaf) “buang hajat”. Setelah membuangnya kita akan merasa tenang, tentram dan melupakan kepentingan. Ada keuntungan – salah satunya kesehatan – yang diperoleh setelah kita membuang kotoran itu. Begitu juga dengan menulis artikel. Akan banyak keuntungan yang diperoleh, ketika gagasan abstrak kita rangkai dengan simbol huruf.

Kelanggengan ide-gagasan, diakuinya eksistensi, keilmuan mendekati kepakaran, dan ada duit yang tidak kecil bagi artikel yang dimuat sebuah media. Yang jelas, kalau mau mendapatkan keuntungan materi jangan seperti saya. Selalu menunggu dihubungi pihak media. Padahal, seharusnya aktif menanyakan tentang honor tulisan….!

Pokoknya, ketika kamu menulis tanpa berpikir mendapatkan keuntungan material, akan menghasilkan tulisan-tulisan yang berbicara dengan hati. Bukan dengan nafsu…..kawan! inilah rahasia dibalik kesuksesan novel Laskar Pelangi dari seorang Andrea Hirata. Kalimatnya mengindikasikan bahwa ia mengerjakannya untuk suatu misi yang luhur…!!!

Itulah pelajaran pertama tentang profesi penulis. (bersambung)


BAGIKAN

Penulis: verified_user

5 komentar:

JUNAEDI said...

Sampean masih muda tapi dah punya buku, salut euy!

dulu saya juga pernah nulis di koran nasional, di muat tapi gak di kasih honor padahal dah diminta no rekening! di koran lokal jombang bahkan sampai belasan artikel saya di muat, tanpa honor sekalipun!

hanya koran kompaslah yang perhatian sama penulisnya. kalau gak layak muat, pasti dikembalikan dan dikomentari, ini yang saya suka Mas. Honornya juga lumayan buat nambah energi anak kost he he he ... tapi sekarang dah hampir setahun gak kirim ke kompas jabar. Iu makanya saya juga hanya setia ngirim ke kompas saja plus blog pribadi saya.

salam dari ladang,

http://pencangkul.blogspot.com

Sukron Abdilah. said...

pantesan saya jarang liat nama mas Jun...tapi di kompas jawa timur suka nulis ya...? kompas memang hebat. lebih profesional.

Ugie said...

honor di koran tak dibayar? pernah juga ngalami. Silakan singgah di http://ugieyogyakarta.blogspot.com/2006/09/kesel-sama-media.html

Ugie said...

pengalaman honor gak dibayar pernah saya alami. silakan mampir di http://ugieyogyakarta.blogspot.com/2006/09/kesel-sama-media.html

Sukron Abdilah said...

mas ugie...yang penting jangan sampai berhenti menulis...