16 February 2009

Sekarang Sepeda Itu Lusuh

BAGIKAN
SUKRON ABDILAH

SETELAH keluar dari sekolah tingkat dasar (SD), saya melanjutkan ke sebuah Pesantren. Jarak dari kampung saya sangat jauh. Maka untuk menghemat biaya saya tinggal di asrama. Pada tingkat pertama, saya agak sedikit betah dengan suasana di pesantren. Ya, banyak teman baru, ilmu baru, dan kamar tidur baru. Apalagi, ketika saya menginjak kelas lima SD, pernah kepincut dengan status Kyai.

“Asyik betul ya kalau saya terkenal dan dihormati. Setiap kali bertemu orang, pasti mereka akan terbungkuk-bungkuk menghormati. Terus, saya juga akan diberi pahala oleh Allah. Karena telah menyebarkan ajaran-Nya”. Begitulah alasannya mengapa saya mau melanjutkan pendidikan ke pesantren, tidak ke SMP Negeri. Meskipun pada saat itu nilai di izajah bisa dibilang paling besar diantara teman-teman.

Tak heran jika guru saya yang bernama pak Tatang dan teman-teman sekelas merasa heran. Apalagi pesantren pada saat itu identik dengan para lulusan yang tak berizajah, kolot, dan tradisional. Pokoknya, masa depan yang tidak menjanjikan.
Tapi, alhamdulillah, ternyata pesantren tempat saya menimba ilmu itu disamping memberikan pelajaran agama, tidak melupakan pelajaran umum. Malahan, setiap santri akan memeroleh tanda kelulusan yang diakreditasi pemerintah. Asyik, juga kan? Karena saya bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi.

Itulah pesantren yang menggodok jiwa dan raga saya hingga seperti sekarang ini. Minimalnya, saya bisa sedikit tahu tentang norma-aturan agama, jadi tidak tergesa-gesa memutuskan suatu perkara. Meskipun karena kelemahan pribadi, saya kerap kali terjebak dengan yang namanya mencaci-maki para pejabat negara.

Tepatnya, pada saat saya menginjak kelas dua Tsanawiyah (setingkat SMP), karena sering berbuat onar, saya ditarik ke kampung halaman. Tadinya saya merasa gembira karena tidak akan kembali lagi ke pesantren. Ya, akan lebih gembira lagi jika berhenti sekolah.

Namun, tidak demikian dengan ibu saya. Beliau sekuat tenaga setengah banting tulang menyuruh saya untuk terus melanjutkan sekolah di Pesantren Persatuan Islam (PPI) No. 19 Garut.

“Ya, pupus sudah harapanku”. Ujar saya sembari dipendam dalam hati.
Saya pun sedikit berdalih kepadanya: “Bu.., cape ah kalau harus pulang pergi ke pesantren”.

Coba saja bayangkan jarak kampung saya dengan jalan raya yang dilewati angkot saja sekitar 4,5 Km. Busyet! Bisa-bisa betis saya seperti Maradona. Padat-berisi bagaikan tukang becak!

Akhirnya saya mengalah dan sekolah pun mulai berjalan kembali. Selama beberapa hari, saya berangkat ke pesantren berjalan kaki. Karena jarak ke jalan raya jauh, berangkatnya juga sekitar pukul 05 pagi.

Wah, kebayang tidak sih! Kalau harus berjalan kaki saat udara dingin dan matahari belum bersinar? Tapi, asyik juga. Mengapa? Dengan berjalan kaki, saya bisa berlari kencang ketika mengejar bola dilapangan Cimacan pada turnamen sepak bola antar kelas. Bahkan, saya bisa mengenal kawan-kawan dari kampung lain yang sama-sama berjalan kaki. Enak punya teman baru.

Kalau dibandingkan ketika saya di asrama dulu. Karena saya jarang pulang, maka teman yang dikenal juga hanya teman-teman sekelas waktu di SD saja. Atau paling banter teman sekelas dan sekamar di pesantren.

Lama kelamaan, saya juga bosan kalau harus berjalan. Karena semenjak saya didugdag (pulang-pergi) ke pesantren, sering kali masuk terlambat dan absen. Tak disangka-sangka saya pun dibelikan sepeda baru oleh ibu. Sepeda yang harganya sekitar Rp 300 ribu pada tahun 1996 itu dibeli kakak pertama saya dari kenalannya di Bandung.

Kalau saya harus memakai sepeda ke pesantren yang jaraknya puluhan kilo meter, pasti berbahaya. Maka, trik menghemat tenaga saya aplikasikan. Caranya, pada pukul setengah enam pagi saya berangkat dari rumah membonceng teman paling setia, namanya Sutisna. Kebetulan, sejak berumur tujuh tahun ia sering mondok moe (menginap) di rumah saya. Sesampainya di jalan raya, saya pun tidak lagi ketinggalan angkutan umum yang pada waktu itu langkanya minta ampun.

Teman saya Sutisna pun kembali ke kampung sembari membawa sepeda. Oh iya.., dia tidak melanjutkan sekolahnya. Entah apa alasannya, saya juga tidak tahu dan tidak pernah menanyakannya sampai sekarang. Yang jelas tanpa kehadiran dia, sekarang saya tidak akan menjadi seperti saat ini. Tidak akan bisa menulis. Tidak akan bisa mengeksplorasi ide-gagasan. Dan pasti dong tidak akan suka membaca buku. Boleh jadi sekarang ini saya sedang menggembalakan kerbau atau kambing. Hehehe

Apalagi ketika semangat belajar saya di pesantren turun karena kecapean berjalan sekitar 4,5 Km. Sepeda baru dan dirinya adalah penghantar meraih cita-cita. Cita-cita menjadi seorang Kyai? Bukan. Bukan itu. Tetapi cita-cita untuk menjadi manusia yang berguna bagi bangsa, negara dan agama.

Kurang lebih selama enam bulan saya bersepeda ria berangkat menuntut ilmu ke pesantren. Setelah itu, saya pun kembali lagi ke asrama karena keliaran hidup saya sudah mulai melunak. Kembali lagi ke asrama adalah alasan tepat dari ibu saya sehingga saya bisa lebih tenang mempelajari ilmu yang disajikan. Bisa menghafal hadits, al-quran, dan pelajaran-pelajaran yang lainnya.

Sekarang sebelas tahun berlalu, sepeda itu pun seakan tidak baru lagi. Bongkahan besinya terhempas di gudang belakang rumah saya. Namun, tidak akan pernah dijual. Mudah-mudahan besi tua ini mengingatkan saya akan pengorbanan seorang teman, ibu, dan guru ngaji (ustadz) di pesantren.

Tanpa menaiki gunung, ternyata kita tidak akan pernah sampai ke puncak. Kita hanya bisa melongo terjebak pada keindahan khayalan puncak gunung tersebut. Tanpa belajar di sekolah kehidupan, kita tidak akan menjadi manusia arif dan bijaksana. ***


BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: