24 February 2009

Senyuman itu Sedekah Murah

BAGIKAN
Oleh SUKRON ABDILAH

MANUSIA hidup dalam dua kondisi jiwa: senang dan sedih. Kesenangan adalah energi positif. Dengan suasana hati riang dan senang, seseorang banyak menemukan kebahagiaan karena hidup tidak dijadikan sumber penderitaan. Sementara itu, kesedihan identik dengan energi negatif, berupa kekecewaan. Ketika seseorang tak mampu melihat dibalik setiap kejadian yang menimpa, misalnya, kadangkala kesedihan yang dihasilkan kekecewaan akan menjadi sumber derita.

Sebetulnya tertawa bukan sesuatu yang harus dijauhi. Ia adalah bagian dari hidup seluruh umat manusia. Dan, Islam sebagai way of life memang tidak pernah melarang umatnya untuk tertawa. Muka manis, senyum, dan keceriaan sangat dianjurkan dalam ajaran Islam. Banyak riwayat menerangkan Rasulullah Saw., terlihat gigi putihnya saat bercanda dengan istri dan sahabat-sahabatnya.

Tertawa, kalau mampu mengobati luka, tidak salah rasanya kalau dilakukan saat ragam musibah menimpanya. Asalkan, jangan menertawakan penderitaan dan kelemahan orang lain saja. Di balik tertawa ada rahasia jiwa yang sehat! Pepatah itu memang benar adanya. Ketika Kita tertawa lepas, jiwa terasa sehat dan hidup menjadi menyenangkan. Bukan hanya itu, tertawa juga merupakan indikasi dari kesehatan fisik. Orang yang sedang sakit, tidak akan terlihat tertawa.

Akhir-akhir ini ditemukan bahwa senyum dan kesehatan mulut bisa membebaskan orang dari penyakit jantung dan stroke. Orang yang banyak senyum, kata Rasulullah Saw., seakan bersedekah dan berbuat baik untuk orang di sekitar. “Tabassuka fi al-wajhi shadaqatan”. Dengan humor-humor segar, kita telah membuat orang senang. Ketika orang itu senang, posisinya sama dengan orang miskin yang kita beri makan dan uang. Mereka akan merasa senang sehingga sedekah harta itu berbalas terima kasih.
Orang yang jarang tersenyum, katanya, rentan terkena stroke dan penyakit jantung. Saking berbahaya muka masam, Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah membenci orang-orang yang bermuka muram ketika berada di hadapan kawan-kawannya” (HR. Dailami).

***

Suatu hari Nashruddin “Khoja” dipercaya untuk mengisi ceramah di Masjid. Namun, ia merasa belum siap menyampaikan ajaran Islam pada warga sekitar. Setelah setengah dipaksa, akhirnya Nashruddin menyanggupi permintaan jamaah Masjid itu. Kemudian ia naik ke mimbar, mengawalinya dengan doa dan berkata:

“Wahai saudara sekalian! Tahukah kalian apa yang akan aku sampaikan dalam khutbah kali ini?”

“Tidak tahu!!”, jamaah menjawabnya kompak seperti sedang mendengarkan juru kampanye.
“Kalau kalian tidak tahu, sia-sia saja aku berceramah”, sambung Nashruddin sambil turun dari mimbar meninggalkan jamaah.

Keesokan harinya, Nashruddin masih dipercaya jamaah Masjid untuk berceramah di hadapan mereka. Ia pun kembali naik ke mimbar dan berkata:

“Saudara-saudaraku, sekarang aku akan bertanya kepada kalian, tahukah apa yang akan aku katakan hari ini”

“Kami tahu!”, jawab jamaah bersemangat seperti sedang mengantri menerima bantuan BLT.
“Kalau begitu, kalian sudah tahu dan sia-sia saja kalau aku berceramah”, kata
Nashruddin sambil duduk kembali bergabung dengan jamaah yang keheranan.

Pada keesokan harinya, warga jamaah Masjid masih memercayai Nashrudin untuk bercuap-cuap di hadapan mereka. Warga berpikir, kali ini Nashruddin Khoja sudah siap menyampaikan materi khutbahnya.

Nashruddin kembali menaiki mimbar, mengucapkan doa dan mulai berkata:
“Wahai saudaraku tercinta dan semoga dirahmati Allah, sudahkah kalian mengetahui apa yang akan aku katakan kali ini?”

Sebagian jamaah ada yang menjawab “kami tahu”. Sebagian lagi, menjawab “tidak tahu”.
“Nah, kalau begitu bagi orang yang sudah tahu dianjurkan memberitahu yang belum tahu. Dan, orang yang belum tahu aku anjurkan bertanya kepada yang sudah tahu”.

***

Sarmin baru sekali ini ke Jakarta. Maklum dia baru saja menjual hasil panennya, jadi sekali-sekali ingin menikmati pelesiran ke ibukota. Untuk oleh-oleh sanak saudara di kampung, dia berniat membeli beberapa barang. Tanpa panjang berpikir, ia pergi ke
Pasar Mangga Dua. Setelah berkeliling, ia mampir ke kios pakaian. Pemilik kios itu adalah seorang Cina totok.

“Berapa baju yang ini ?”, tanya Sarmin sambil memegangnya

“Hayya, cuman GO CENG saja lah!”

Berkerut jidat Sarmin, karena tak tahu berapa GO CENG.

Si empunya kios karena melihat Sarmin terdiam lantas berkata:

“Boleh tawal lah sedikit”

Karena sudah terlanjur bertanya, untuk menjaga gengsi, dengan mantapnya Sarmin menawar:

“NING NONG boleh nggak?”

“Haa?’ terbelalak si engkoh.

“Belapa itu NING NONG?”

“Lha GO CENG itu berapa hayo?” Sarmin balik bertanya.

“GO CENG itu lima libu woo!” jawab si engkoh.

Setelah berpikir sebentar Sarmin pun bilang:

“Ooo, kalau begitu, NING NONG itu yaa….. kira-kira tiga ribu lima ratus lah!”


BAGIKAN

Penulis: verified_user

2 komentar:

Anonymous said...

Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Membaca cerita saya sangat tersentuh. Terus terang saat saya membaca cerita anda, keaadaan saya sedang terjepit kesulitan keuangan, karena saya dikejar-kejar orang untuk menagih hutang. Orang itu sangat kasar, saya pernah meminta penangguhan untuk utang saya supaya bisa dicicil. Tapi dia menolak dan mengancam untuk menghancurkan motor saya, yang dulu sebagai jaminan.
Sebelumnya, saya ceritakan dulu, kenapa motor itu ada di orang itu. Dulu saya berencana menjual motor saya ke saudara ipar saya, saya disanggupi dibeli 6 Juta. Tapi saudara saya hanya bisa memberi 2 Juta saja kepada saya. Saya percaya saja kpd sdr saya itu. Nanti sisanya akan dibayar bila dia dapat pinjaman dari bank. Motor saya serahkan. 4 bulan kemudian, ada seseorang yang menagih kepada saya, krn saya hutang ke dia sebesar 2 juta dengan jaminan motor saya yang dulu dibawa saudara saya. Saya katakan sebenarnya, tapi dia taka mau tahu. Maka saya minta penangguhan untuk menyelesaikan dengan saudara saya 1 minggu.
Saya ke rumah saudara ipar saya, ternyata dia sudah tidak ada di rumah kontrakan tersebu. Saya bingung, ke saudara yang lain, tidak ketemu, katanya ada yang bilang ke luar kota. Akhirnya saya yang kelabakan, orang itu terus menagih saya dan tak mau urusan saya dengan saudara saya.
Saya bingung, harus kemana saya mencari uang 2juta tersebut. Saya hanya seorang sales dan mempunyai tanggungan istri dan putri saya yang sudah 1 smp.
Untuk itu, saya minta pertolongan kepada anda, bisakah saya dipinjami uang 2 juta, karena saya dan keluarga saya terus diancam dan diteror oleh rintenir itu. Saya hanya bisa mengetuk hati saudara agar bisa menolong saya. Demi Allah, saya akan mengembalikan ke saudara, apabila saya punya rejeki lebih dari pekerjaan saya sebagai salea. Atau saya cicil ke saudara, 20 kali. Terus terang penghasilan saya hanya 500 ribu, kalau saya cicil 100 ribu/bulan saya mampu. Kalau anda bisa membantu saya saat ini, saya tidak akan lupa kebaikan saudara. saya berjanji akan membalas kebaikan saya.
Tolong, saya berkata jujur dan benar atas nama Allah. Bila anda berniat membantu saya, kirim saja via BCA : 3310421218 a/n Arief Fianto.

Terima kasih atas perhatian saudara dan saya berharap bantuan anda.
Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

Sukron Abdilah. said...

silahkan sebuutkan alamat anda. kalau memang anda sangat membutuhkan. Atau bisa datang ke tempat tinggal saya di Bandung..atau kontak saja saya di mobile phone. Yang jelas uang sekitar 2 juta untuk saat ini saya tidak bisa memenuhinya. ya..kalau lebih kecil dari itu mudah2han bisa membantu tapi dalam jangka waktu yang bisa dibilang agak lama.