14 February 2009

"Valentine's Day" dan Kedamaian

BAGIKAN
Oleh SUKRON ABDILAH

Hari Valentine kini menjadi tren bagi kalangan muda untuk mengungkapkan rasa cintanya. Pada tahun 2004, saya bersama kawan-kawan diundang untuk mengisi materi pada pengajian yang diadakan Ikatan Remaja Mesjid (IRMA) Kec. Ciwidey. Waktu itu, kita asyik tenggelam dengan diskusi tentang perayaan Hari Valentine. Karena saya masih belum bisa meninggalkan pemikiran “wahabi”, ya bisa dibayangkan kalau perayaan Valentine itu tidak pantas dirayakan. Ndak penting, Ah! Kesimpulan saya waktu itu.

Sampai sekarang juga saya tidak memperlakukan tanggal 14 Februari sebagai hari kasih sayang. Sebab, dalam kacamata saya kasih sayang itu harus terus-menerus diusung selama hayat belum meninggalkan jasad. Dengan kasih sayang inilah kedamaian di bumi akan tertancap kuat.

Johann Christoph Arnold, rohaniwan Kristen pecinta kedamaian, dalam buku Seeking Peace; Note and Conversations Along the Way (1998) mengatakan dunia akan berbeda ketika setiap orang sungguh-sungguh berdamai sepanjang hari. Akan tetapi, lanjutnya, jika itu hanya basa-basi kesopansantunan, konflik bersimbah darah akan menampakkan kita sebagai manusia yang tak ber-Tuhan. Jadi, saya pikir hari kasih sayang itu sepanjang hari yang diejawantahkan dalam perilaku keseharian. Shalom..adalah damai yang tidak pasif, tetapi aktif mengatasi kekerasan. Itulah damai sejati.

Hari Valentine kini harus mulai kita resapi terus-menerus seperti air yang mengalir tak henti-henti dari hulu ke hilir. Seandainya pemberian cokelat merupakan wujud kasih sayang, berikanlah cokelat setiap hari kepada warga miskin, kaum minoritas, dan warga Palestina di sana. Berikanlah kedamaian kepada orang-orang sekitar. Tidak memandang agama, suku, kelas sosial, dan status ideologi seseorang. Itulah damai sejati yang kalau diresapi pada 14 Februari sudah disalahartikan sebagian kalangan muda dengan menggelar seks bebas.

Padahal, kedamaian bukan pada kepuasan seksual. Kedamaian itu lebih tinggi dari hal-hal seksual. Kedamaian adalah sutra putih dan bening dari prasangka-prasangka yang bisa menggusur seseorang untuk berperilaku kasar. Kalau cokelat adalah simbol perhatian atas kasih sayang, si udin miskin dan tak punya apa-apa harus diberi kedamaian. Kedamaian untuk mendapatkan kebutuhan hidupnya. Memberikan harapan kepada seseorang untuk mewujudkan keinginan, itulah damai sejati. Seperti halnya warga sipil di daerah konflik yang dari dasar hatinya menginginkan kedamaian dalam hidupnya.
BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: