27 March 2009

Dasar Manusia, Sukanya “Keluh-Kesah”

BAGIKAN
Oleh SUKRON ABDILAH
(Baca juga di Kompasiana)

Wuih….saya berpikir manusia itu pandai mengeluh. Seperti saya akhir-akhir ini. Mengeluh karena ada sesuatu yang bikin sebagian diri saya menghilang. Semangat!!!! itulah yang kini menjadi alasan kenapa keluhan itu terus hinggap seperti kupu-kupu menemukan bunga (apa saja lah…terserah anda). Pasalnya, sebagai seorang pemuda, saya membutuhkan cukup besar energi untuk bertahan hidup. Semangat adalah modal awal untuk tetap survive, di tengah kondisi hidup yang pilih kasih (cat: ini bisikan hati buruk saya).

Untung saja akhir-akhir ini saya selalu berdekatan dengan kitab suci Al-Quran, karena saya muslim. Meskipun agak subjektif, saya merasa ada semacam daya dorong untuk mengalahkan ketidaksemangatan dalam diri, ketika membaca surah (Ar-Ra’d [13]: 11), di mana perubahan itu memerlukan modal semangat. Itulah inti pemahaman saya terhadap ayat tersebut. Keluh kesah muncul akibat ada ketidaksanggupan dan keputusasaan diri untuk melakukan sesuatu.

Seorang anak kecil di kampung saya, kemarin bermain bola di tanah becek. Ketika berlari, mereka selalu terjatuh. Bahkan, kalau hendak menendang bola, mereka tidak memiliki tenaga yang kuat. Akhirnya, terjatuh…terjatuh…dan terjatuh lagi. Saya jadi ingat lagu: Jatuh Bangun Aku ….ah lupa lagi. Pokoknya dangdutan lah. Eh…ada hikmah yang saya renungi ketika melihat anak-anak bermain bola. Untuk menendang bola di tanah becek, sangat membutuhkan kepiawaian, keseimbangan, dan kekuatan.

Nah, begitu juga hidup. Untuk dapat mencapai tujuan, diperlukan tiga modal tersebut: kepiawaian, keseimbangan atau keteguhan dan kekuatan atau keberanian mengambil risiko. Seandai anak-anak yang bermain bola terus berkeluh kesah dan menangis ketika tidak optimal menendang bola; saya jamin mereka akan tidak ngeh dengan permainan sepak bola. Mereka akan memilih diam di pinggir lapangan, dan menyaksikan anak-anak lain yang bermain bola seasyik-asyiknya. Sesekali tertawa, tersenyum kecil, kadang berkata kotor: “goblok” ketika ada pemain dari tim dukungannya yang dijegal dan dihajar lawan.

Untuk merasakan hidup, Surah Ar-Ra’d ayat 11 tentunya harus direnungi dan dipahami sebagai perintah untuk menjadi pemain kehidupan. Saya jamin lapangan tidak akan penuh. Karena bukan berjarak 100 meter. Tetapi seperluas yang tak terhitung manusia, di bawah ketakterhinggaan Tuhan pencipta Alam raya ini. Hmmm…., emang hidup jangan dibikin susah, kali. Biar kita tidak berkeluh-kesah…hahaha.

Nggak lucu ah…!

Ya iya lah…ini kan tulisan superserius, tapi santai. Sesantai kita berenang di danau Toba…atau di Situ Bagendit, dekat kampung saya di Garut. Sekian!!!!

BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: