1 March 2009

Diobok-obok Facebook!

BAGIKAN
Oleh Sukron Abdilah

Facebook, entah kenapa rame diperbicangkan. Pandangannya beragam. Ada yang mengaku memperoleh dampak positif. Bahkan, tidak sedikit juga yang menganggap Facebook tidak ada artinya. Teman saya, misalnya, dengan alasan produk seorang Yahudi, akun Facebook-nya tidak pernah dibuka. Sok islami, tetapi tidak bisa memberikan alternatif bagi relasi di dunia maya. Ah.., emang ada-ada saja manusia! Padahal, dengan situs jaringan sosial ini, kita akan menjadi manusia terbuka dan lapang dada ketika menyikapi perbedaan.

Why? Yang jelas, si Dasam yang dulunya sehari-hari di Mesjid, ketika membuka akun Facebook(tanpa disengaja kali), mempunyai teman sekelas Christina Aguilera, Brithney Spear, Alesandro Del Piero; meskipun hanya bisa menulis i’m happy, yes or no saja. Saya, misalnya tidak suka dengan calon legislatif dari partai manapun. Tetapi, ketika ada seorang caleg yang mengirim permintaan berteman, meskipun hanya seremonial, saya izinkan saja untuk menjadi teman.

Itulah hebatnya jejaring persahabatan ini. Setiap orang meskipun di dunia nyata, Fanatis terhadap satu pemahaman “dominasi tunggal-nya”, ketika berada di ruangan bernama Facebook, melebur dan tidak tampak. Sentimentalisme keagamaan, kesukuan, dan ideologi melebur ketika ada seseorang yang berbeda pemahamannya mengajaknya berteman. Seperti si dasam, teman saya, yang dulunya “nyantri” banget. Setelah mengenal internet, pemahamannya semakin lapang dan luas saja ketika menyikapi perbedaan di sekitarnya.

Akan tetapi, senior saya, tepatnya teman saya yang panatis lainnya, kini memberikan petuah kepada adik kelas dulu, bahwa kita sudah diobok-obok Facebook. Sehingga, tidak memiliki loyalitas terhadap ajaran Islam. Begitu timpas teman-teman yang ngakunya, ya, anti-Yahudi.

Ah…, tetapi saya kira Islam hari ini harus seperti para pengguna Facebook. Mereka tidak memilah dan memilih teman. Meskipun berasal dari aliran politik, agama, suku, dan kebudayaan yang berbeda, mereka memperlakukannya sebagai seorang sahabat. Minimalnya ketika menulis di dinding Facebook seseorang, akan mendapatkan jawaban dalam beberapa detik saja. Tidak pernah sama dan bertatap muka, bukan berarti tidak boleh menghormati orang lain.

Dan, sekali lagi hijab sosial — kalau agama, ideologi, dan budaya dikatakan penghalang relasi sosial; tetapi saya tidak menganggapnya seperti itu — dapat dibongkar sehingga setiap umat manusia dapat berkumpul dan bersatu atas nama kesenangan. Hehe, ini curhatan pribadi saja. Tahu tidak, kalau saya lagi membuka akun di Facebook, lupa tugas menulis, ngedit, dan nyari naskah lho. Apakah saya diobok-obok sama Facebook, sehingga sedikit mabok dan kecanduan?

BAGIKAN

Penulis: verified_user

2 komentar: