5 March 2009

Hewan Berpikirkah Kita?

BAGIKAN
Oleh Sukron Abdilah

Bisa dibaca di Kompasiana.com

Saya, merasa memiliki kesamaan dengan hewan. Saya makan, hewan pun makan. Bedanya, saya makan untuk berpikir. Hewan, tidak tahu; entah untuk apa ia makan. Tidak tahu karena saya bukan hewan. Namun, Rene Descartes membedakan manusia (saya) dan hewan (dia). Saya, kata si Descartes bisa menciptakan pikiran dengan jiwa saya. Sementara, hewan, ujarnya, ia menjadi tidak berdaya. Dalam bahasa lain, saya atau manusia selama waktu berjalan akan terus melahirkan peradaban. Si hewan, tentunya, tidak akan seperti di Film-film Hollywood yang bisa mengalahkan manusia, dalam hal membangun peradaban.

Dalam hal kekejaman, manusia atau saya, bisa menjadi lebih buas daripada hewan. Gnosida yang dilakukan beberapa rezim pemerintahan, tanda adanya kebuasan manusia melebihi hewan. Singa di Afrika Selatan atau di daerah Sumatera yang menerkam manusia, buas karena ekosistemnya di bantai manusia.

Sementara, manusia, jika tidak memiliki kesadaran eksistensial bahwa “the other” adalah fartner hidupnya; laku buas dan keras pun dilakukan untuk memuaskan hasrat dominasi kekuasaan. Dengan demikian, saya jadi bertanya benarkah manusia adalah hewan berpikir? Kalau benar, kenapa kekejaman manusia lebih dahsyat dibandingkan dengan hewan yang tak berpikir? Apakah betul potensi berpikir manusia bisa menggerusnya menjadi lebih biadab ketimbang hewan?

Saya, lebih mengapresiasi mang Dadang, yang tidak menjadi manusia berpikir, tetapi tidak pernah melakukan kekejaman terhadap manusia lain, alam, dan binatang. Saya jadi berpikir andai saya tidak memikirkan kekuasaan, kira-kira tapi nyata, orang lain bukan musuh yang harus disingkirkan atau didiskriminasi. Orang lain adalah beda, tetapi harus diperlakukan mulia dan terhormat.


BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: