26 March 2009

Kebijaksanaan Pemilihan Umum 2009

BAGIKAN
Oleh SUKRON ABDILAH
(Baca juga di Kompasiana)

Bagi saya, apatisme muncul bukan berasal dari kebodohan. Jangan-jangan berasal dari kepintaran karena mengetahui belangnya peserta pemilu nanti. Maaf, saya menulis lagi, meskipun teringat kopi hitam, tapi biarlah karena ada ide menyeruak ke otak saya. Ini soal pemilu yang supersibuk karena sebentar lagi akan ditabuh gong tanda dimulainya hajatan demokrasi ini. Yang namanya hajatan, tentunya memiliki konsekuensi berupa pengorbanan dan kehabisan modal.

Apalagi bagi peserta atau saya menyebutnya kontestan dagelan politik. Pengorbanan materi jangan ditanya akan habis? Sebab, jawabannya pasti 50 juta ke atas. Bahkan, bisa2 lebih. 50 juta mah hanya cukup untuk sekali kunjungan sepertinya. Kebijaksanaan ditest pada pemilu kali ini: memilih dan tidak memilih. Kebijaksanaan secara bahasa ada kebijakan atau keputusan diri yang dieksternalisasi keluar diri. sedangkan, ada satu lagi yang harus disebutkan disini, yaitu kata kebijaksinian. Ini lebih berorientasi ke internalisasi. Dengan fenomena golput pada pemilu 2009 nanti, saya pikir itu merupakan kebijaksanaan karena sebagai wujud dari kritisisme terhadap pemerintahan.

Seperti saya hari ini, belum kebayang siapa yang akan dicontreng nanti. Apakah partai A, B, C, atau D. Apakah caleg dari A, Capres dan Cawapres dari B; saya belum mau menunjukkan kebijaksanaan saya kepada siapa pun. Inilah yang menjadi pertanyaan Camer saya. Ia bertanya kalau nanti “nyoblos” (ini kalimat kadaluwarsa sebenarnya karena yang lebih tepat adalah mencontreng) siapa, partai apa, dan capres mana. Haha…belum tahu atuh, mam!

BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: