4 March 2009

Kita, Mengkhayalkan Kesejahteraankah?

BAGIKAN
Oleh SUKRON ABDILAH

Saya yakin betul jika kesejahteraan dan penderitaan tiap tahun akan terus berperang. Seolah tidak ada akhir dari peperangan berkecamuk ini. Kemenangan penderitaan melahirkan kesenjangan di bumi pertiwi hingga membuat kita asyik mengkhayalkan kesejahteraan. Harapan, keinginan dan cita-cita hanya penghias siklus waktu yang bergerak riak-riak tak tentu. Kandas di dalam kubang khayal puluhan juta warga miskin.

Ketika mendekati pemilu 2009, pikiran rakyat dipenuhi janji dan pengharapan baru absurd. Di tengah turunnya harga BBM yang kerap dipolitisasi, kini kesejahteraan masih tetap menghunjam di alam khayal. Mas Kurdi atau Kang Yana, seorang kepala keluarga korban PHK masih bingung mencari pekerjaan tetap. Sopir angkutan umum, malah tawar-menawar untuk tidak menurunkan ongkos ketika harga BBM turun.

Memasuki hajatan “pemilu 2009”, rakyat diiming-imingi janji kesejahteraan selama kampanye. Banyak orang/warga/masyarakat/rakyat meletakkan harapan dan ketakutan pada janji. Berharap janji itu terbukti dan dirinya tidak lagi terlilit utang adalah kata yang tak mungkin nyata. Sekaligus takut bahwa janji itu hanya bumbu penghias agar terasa lezat, nikmat, dan beraroma harum sesaat.

Hanya saat gegap gempita suara riak demokrasi itu menggema. Ya, saat puluhan partai bertarung menjajakan dagangan politik (basi)-nya. Selama masih ada masa depan, harap dan khayal akan terinternalisasi dalam setiap insan manusia. Harapan mampu membangkitkan potensi khayal. Gemerlap dan kesejahteraan, hari ini adalah platform setiap parpol atau caleg yang tak mungkin diperoleh rakyat.

Semoga pemilu 2009 menjadi awal dari masa depan Indonesia yang lebih baik. Kita lantas harus terus bekerja keras. Untuk kejayaan ekonomi, kemajuan teknologi, masa keemasan peradaban, dan kebeningan nurani politik yang pro rakyat. (Catatan penting buat caleg dan capres-cawapres), bangsa Indonesia jangan kalian bikin mengkhayal dan berkhayal. Berharap cemas agar kesejahteraan itu meruang dan mewaktu dalam hidupnya. Kesejahteraan, di negeri ini, harus menjejakkan di alam riil yang membumi. Supaya kita bukan menjadi bangsa yang dihuni puluhan juta warga miskin. Sekian!


BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: