2 March 2009

Pengamen Bus, Siiiip lah!

BAGIKAN
Oleh SUKRON ABDILAH
(Silahkan Kunjungi Kompasiana.com)
Setiap kali pulang kampung ke Garut, saya lebih suka naik bus ekonomi yang sumpek dan sesak. Apalagi di dalam bus ekonomi suasananya seramai pasar dadakan. Inilah yang membedakannya dengan bus AC yang dingin, sepi dan para penumpang terlihat asyik dengan dirinya masing-masing.

Suasana tersebut membuat saya ketagihan – disamping sekadar menghemat – untuk menggunakan jasa bus ekonomi, Bandung-Garut. Satu lagi yang membuat betah berada di Bus ekonomi ini. Ya, para pengamennya yang ramah, asyik dan nikmat didengarkan.

Ketika naik bus ekonomi, di sekitar jalur Cibiru, saya disuguhi atraksi empat pengamen yang membawakan beragam lagu. Empat orang pengamen itu dengan alat musik masing-masing unjuk gigi seperti di pagelaran musik. Biasanya permainan musik mereka sebagus kelompok pengamen jalanan atau KPJ lain. Gitar, kadang disertai biola, dengan tetabuhan yang mendendang membuat saya terhanyut menafakuri diri.

“Wuihh…, emang musik itu berasal dari jiwa. Jadi, jiwa saya tak salah jika tersentuh-sentuh.”

Nah, kalau soal kualitas suara pengamen ini jangan diragukan. Ya…, boleh dibandingkan dengan Michael Heart atau Iwan Fals. Saya tidak merasa terganggu dengan pengamen di jalur Bandung-Garut. Disamping tidak sedikit pun mengecewakan, ketika pulang ke Garut, selalu saja saya dapat mendengarkan lagu Sunda “Hayang Kawin” dari para pengamen. Ngomongin lagu Sunda, siapa saja yang menyanyikannya akan terasa enak didengar lho. Meskipun oleh saya yang tidak pernah bermusik atau bernyanyi.

Pengamen di Kota Bandung lebih hebat lagi. Ketika mendengarkan suara mereka, yang katanya Kota Bandung adalah kota seni, kualitasnya tidak begitu mengecewakan. Tetapi tidak semuanya lho!

Saya pernah dibikin menangis oleh pengamen jalanan. Bukan karena dipalak. Syair, suara dan permainan musik mereka sungguh menggugah. Saat itu, ketika pengamen mulai memainkan gitar dan biolanya, hati ini teriris pedih menyaksikan seorang kakek tua berjalan di trotoar. Saya tidak ingat lagu mereka, mungkin ciptaan dan gubahannya sendiri.

Yang jelas, berkat mereka saya menjadi sadar akan menjadi apa setelah tua nanti? Kalau saja pengamen jalanan kualitasnya seperti itu, saya rasa banyak orang yang akan memberikan uang secara ikhlas. Tanpa dipaksa-paksa. Tapi, bagi saya memberikan seribu atau dua ribu bagi pengamen, tidak menjadi soal. Sebab, saya mencintai setiap suara yang diracik dengan musik secara sempurna. Ya, meskipun suaranya seperti suara keledai. Tetapi, itu kan seni suara namanya?

BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: