3 March 2009

Pertolongan Pertama kepada Korban PHK

BAGIKAN
Oleh Sukron Abdilah
(Silahkan kunjungi Kompasiana.com)

Saya tertidur dari pukul 19.00 WIB sampai pukul 22.30 WIB. Kadung saja, tidak bisa merapatkan mata sampai azan shubuh berkumandang. Apalagi, setelah terbangun saya disuguhi pembicaraan dua orang yang terkena pemutusan hubungan kerja atau PHK sekitar 3,5 tahun silam. Meskipun mereka hanya berpendidikan SMA, ternyata pengalaman hidupnya tidak kalah berbobot dengan apa yang sering diungkapkan guru kehidupan maupun motivator ulung.

Salah satu dari mereka, misalnya, melontarkan kalimat yang menyentuh keimanan saya pada Tuhan. Begini katanya, “kita akan merasakan kenikmatan sehat ketika sedang dalam keadaan sakit”. “Kita akan merasakan nikmatnya hidup kaya ketika sedang dalam keadaan miskin”. Malam tadi, setelah terbangun dari tidur, saya mendapatkan pelajaran bahwa hidup harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.


Dibalik obrolan kami, terlihat ada semacam nostalgia hidup. Dalam bahasa lain keindahan ketika mereka sedang menjadi pekerja. Minimalnya, penghasilan mereka terjadwal secara rutin per bulannya. Tetapi, sekarang ketika mereka menjadi korban PHK, meskipun telah berusaha menjadi pedagang kecil, tidak ada kejelasan penghasilan yang tetap. Bulan sekarang, penghasilan mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup anak dan istrinya. Bulan kemarin juga sama. Salah satu dari mereka harus meminjam ke sana kemari untuk dapat menutup kebutuhan sandang, papan dan utamanya pangan.

Bahkan, selama beberapa bulan mereka terlilit utang kepada rentenir. Untuk menambah modal dagangan, suatu ketika mereka meminjam uang sebesar Rp. 2,5 juta kepada lintah darat itu. Untuk jangka pembayaran satu bulan, mereka dibebani bunga sebesar Rp. 500 ribu. Jadi, kalau meminjam uang sebesar 2,5 juta pada bulan Januari, maka di bulan Februari mereka harus membayar Rp. 3 juta. Nah, dalam menutupi utang itu, mereka sempat kelabakan mencari pinjaman lagi kepada orang lain.

Saya waktu itu, hanya dapat memberikan pinjaman Rp. 700 ribu, tentunya tanpa bunga. Bahkan, diberi diskon sebesar Rp. 300 ribu agar tidak dihitung sebagai utang. Sisanya, bisa dibayar kapan pun juga. Bahkan secara pribadi saya tidak mengharapkan uang itu dapat dibayar melihat kondisi keuangannya. Suatu hal yang mengiris hati hari ini adalah saya tidak bisa menolongnya kembali memperoleh pinjaman. Sebab, kondisi keuangan saya lagi cekak alias pailit.

Setelah ditelusuri, kenapa ia kembali meminta pinjaman. Ternyata, untuk menutupi kekurangannya ia kembali meminjam sebesar 1,8 juta kepada rentenir yang berbeda. Dan, pada bulan ini, ia terbebani utang sebesar Rp. 2,3 juta. Untuk kalangan elit, utang sebesar itu tidak ada apa-apanya. Tetapi, bagi korban PHK itu sudah menjadi luar biasa membebaninya. Saya jadi berpikir, seandainya hidup ini mimpi; saya akan bermimpi jadi seorang miliuner. Alhasil, saya dapat membantu dua korban PHK yang sulit memperoleh penghasilan tetap itu.

Untung saja mereka tidak menjalani profesi sebagai pencuri. Apalagi di tengah kondisi ekonomi yang sedang terkena dampak krisis global. Pekerjaan sulit diperoleh. Mau berdagang dengan cara membuka warung, kalah bersaing dengan mall dan super market. Lantas, siapakah yang harus kita salahkan jika suatu hari mereka menjadi seorang pengutil barang untuk dijual? Apa yang harus dilakukan untuk memberikan pertolongan pertama kepada korban PHK, yang kebetulan menjadi tokoh dalam kisah kehidupan Anda? Yang jelas, bukan dengan menyalahkan mereka sebagai warga yang tidak memiliki sumber daya memadai!

BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: