31 March 2009

Rihlah Jiwani Ke Garut

BAGIKAN
Oleh SUKRON ABDILAH

Perjalanan Bandung-Garut adalah perjalanan unik bagi saya. Didalamnya ada kesadaran primordial untuk menelusuri jejak langkah nenek moyang saya. Garut, kini menyisakan secercah rasa penasaran menelusuri kegundahan-kegundahan jiwa. Di dalam bus ekonomi Bandung-Garut, saya selalu menyempatkan menengok ke arah gunung yang berjejer indah. Meskipun tidak serimbun dulu, tetap saja ada aura keindahan tersimpan. Saya jadi terharu kalau tubuh ini sampai di kota dodol, tempat dilahirkan beta.

Keturunan siapa saya ini? Harus berbuat apa untuk memajukan Garut tercinta? Popularitas ataukah kesuksesan yang harus saya berikan untuk sekecil kampung saya yang tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah? Kenapa kampung saya tidak diperhatikan? Ya, dari dulu sampai sekarang, tidak ada peningkatan berarti yang dapat mengangkat kesejahteraan warganya.

Di kampung saya, orang yang melanjutkan sekolah bisa dihitung jari. Tidak lebih dari tiga orang. Saya, saudara saya, dan saudara saya lagi. Selebihnya, tidak ada yang sudi melanjutkan sekolah, apalagi sampai ke perguruan tinggi. Alasannya sederhana.
“Ngapain sekolah tinggi-tinggi. Nanti juga balik lagi menjadi tukang cukur?!!!”.

Itu jawaban beberapa keluarga yang berprofesi sebagai tukang cukur. Jadi, di kampung saya, hampir seluruh pemudanya ketika selesai sekolah sampai SMP bahkan ada juga yang SD, menjadi tukang cukur. Termasuk saya, dulu juga pernah menjadi tukang cukur di Bekasi selama 2 minggu. Dan, di Bandung selama delapan bulan. Karena ada dorongan untuk terus menimba ilmu, akhirnya meneruskan kuliah di UIN Bandung. Saya tidak muluk-muluk merangkai cita-cita. Tidak ada niat satu pun untuk menjadi pengacara, anggota dewan, bahkan menjadi presiden. Itu mimpi kali.... !

Pokoknya waktu itu, saya bertekad melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Titik tanpa koma.... !

Sekarang, setelah dua tahun lebih menyelesaikan kuliah ; Garut semakin membuat saya resah. Dengan koruptorisasi di lembaga pemerintahan lah, warga yang banyak utang lah, bahkan angka pengangguran yang tidak bisa dibilang sedikit lah. Dan segala macam kalimat yang diakhiri lah. Saya jadi resah, karena merasa masih menjadi bagian dari Garut. 21 tahun lamanya saya sudah minum dan makan dari tanah Garut.

Saya tidak ingin kalau tua nanti, pulang dan menetap di Garut tidak berkarya apa-apa. Saya ingin diri ini bermanfaat untuk Garut tercinta. Tapi, bukan hanya dengan cara mencalonkan diri sebagai bupati dan anggota dewan di legislatif. Saya ingin seperti Muhammad Yunus yang bisa meningkatkan kesejahteraan 6,6 juta warga miskin di Bangladesh.

Semoga ini tak sekadar mimpi.... ! Sekali lagi..., semoga ini tak sekadar mimpi. Dua kali lagi semoga ini tak sekadar mimpi. Semoga ini tak sekadar mimpi. Akhirnya, ketika terbangun saya tidak lagi kecewa. Dan, bisa melihat Garut tidak bangkrut. Sesuai slogan..., Garut pangirutan... !


BAGIKAN

Penulis: verified_user

3 komentar: