18 March 2009

Saya Bukan Mahasiswa Lagi

BAGIKAN
Oleh SUKRON ABDILAH

Mahasiswa salah satu perguruan tinggi! Begitulah gelar kehormatan yang sempat saya emban selama lima tahun lebih. Semenjak tahun 2002 sampai 2007, kata mahasiswa seakan tak pernah terukir dalam jiwa. Kritis dipandang secara sinis, kreativitas dihalangi agar tak meretas dan progresivitas tak dibiarkan meranggas. Atmosfer hidup mahasiswa di PTN/PTS lebih menampilkan keindahan “cangkang luar”. Keindahan intelektual jarang diperhatikan.

Ketimbang hunting buku terbaru ke toko atau perpustakaan dan belanja online dalam satu bulan; malah memburu sepatu, celana dan baju di mall-mall ternama untuk memodali kencan di malam minggu. Biar terlihat gaya , katanya.

Sebetulnya ada banyak “embel-embel” istilah untuk merepresentasikan life style mahasiswa. Mulai dari istilah calon intelektual, aktivis, akademis, pemuda harapan bangsa, sampai ada juga yang menyebutnya si “pungky” dan si “trendi”. Mau ikuti gaya hidup mana. Itu terserah mahasiswa. Apakah bakal tergusur pada life style calon intelektual yang kerjaannya diskusi, baca buku, menulis artikel, dan menjadi peneliti kecil-kecilan, bahkan anti berpacaran? Atau malah mengikuti para aktivis mahasiswa yang berteriak keras di depan gedung rektorat, anggota dewan dan kantor pejabat pemerintahan ketika mengeluarkan kebijakan-kebijakan sumbang?

Ah…, tapi bisa juga mereka terjebak pada rutinitas belajar-mengajar seperti yang dianut mahasiswa silabi. Berangkat kuliah, duduk mendengarkan dosen yang bersilat lidah, pulang ke kosan, dan paling banter membaca buku yang dianjurkan bahkan diwajibkan dosen saja. Maka ketika selesai kuliah, mereka kelabakan mencari lowongan kerja di koran-koran lokal dan nasional setiap hari Sabtu dan Minggu. Kedua hari itu bukanlah hari yang digunakan untuk merehatkan diri dari kepanatan. Ya, tepatnya hari berpusing ria untuk mencari lowongan kerja.

Namun, bisa juga ada mahasiswa yang ikut-ikutan bergerombol dengan mahasiswa pecinta fashion merk luar negeri. Sampai-sampai (maaf) celana dalamnya juga berbau asing dan susah dilafalkan mahasiswa dari Pesantren seperti saya. Tak heran kalau para budayawan pernah berpandangan bahwa kita merasa lebih Amerikanis daripada orang Amerika sendiri.

Lantas, bagaimana trik jitu menghadapi perubahan budaya dari seragam “putih abu-abu” ke arah kebebasan tanpa terikat warna? Sebab, budaya SMA dengan Universitas berbeda betul. Bahkan, kita juga tahu bahwa mahasiswa di Universitas bebas memakai pakaian dan celana berwarna apa saja, kecuali lembaga pendidikan yang berorientasi kerja.

Makna pakaian

Apa makna dari bebas berpakaian di Universitas? Ya, bebas menentukan jalan hidup yang dianut ketika dirinya memasuki lanskap baru bernama Universitas. Dari mulai gaya hidup mahasiswa “proletar” sampai mahasiswa “borjuistik”. Komplit betul gaya hidup mahasiswa perguruan tinggi bagaikan bintang-bintang yang bertebaran di angkasa raya. Posisinya juga hampir sama dengan seorang pendaki gunung yang harus menentukan langkahnya ketika berhadapan dengan jalan yang bercabang.

Coba rasakan, adakah perbedaan dengan masa SMA dulu? Lantas, gaya hidup manakah yang bakal kita jadikan pedoman beraktivitas di dunia kampus? Mahasiswa intelektualkah, aktiviskah, akademiskah, atau mahasiswa gaul? Itu terserah suara batin. Tak ada paksaan dalam memilih gaya hidup ketika peralihan budaya dari kebiasaan generasi “putih abu-abu” menuju kebiasaan (baca: budaya) generasi bebas tanpa ikatan warna terjadi.

Yang pasti, setiap kebudayaan dalam pandangan antropologis memiliki bermacam dimensi, diantaranya: Pertama, sangat berdimensi material seperti baju yang dipakai, musik yang didengarkan, bahkan sampai patung-patung yang di pajang di laboratorium Universitas. Kedua, lebih bersifat immaterial seperti nilai-nilai kearifan yang dijabarkan, kedisiplinan yang konsisten kita lakukan, kesopansantunan yang terus dipegang teguh, dan sikap-sikap konstruktif yang dijadikan landasan berperilaku.

Nah, Bagi mahasiswa (baru) atau juga baru merasa menjadi mahasiswa (bagi yang lama), biar tidak pusing, kita ambil saja dua dimensi tersebut. Campur aduk hingga bentuknya berubah menjadi sebuah produk yang nikmat dikonsumsi bagaikan “es campur”. Meminjam istilah Hikmat Budiman – generasi “Multitasking”, sebuah istilah yang merepresentasikan aneka macam fungsi laiknya program Microsoft Office dalam perangkat lunak komputer.

Misalnya, dalam program layanan komputer tersedia berbagai program yang bisa digunakan hanya dalam satu tampilan layar monitor. Program seperti Microsoft Office Word, Microsoft Office Excel, Microsoft Office Ficture, dan Microsoft Office
Publisher bisa difungsikan dalam satu ruang seperangkat komputer Pentium II, III, atau IV untuk mengefektifkan pekerjaan. Mahasiswa juga begitu. Ia memiliki multifungsi dan multimanfaat yang mestinya dipraktikkan. Tidak harus akademis saja, organisatoris semata, intelektualis an sich, bahkan jangan pernah menjadi mahasiswa korban produk kapitalisme doang.

Dalam bahasa lain, silahkan mahasiswa nongkrong, tapi harus tahu waktu. Kapan moment yang tepat untuk nongkrong. Kapan juga saatnya untuk belajar hidup dan tentunya saat yang paling tepat untuk memberikan manfaat pada masyarakat. Acep Iwan Saidi, sastrawan dari Jawa Barat pernah menulis puisi cantik dan estetik: Aku mengeja aksara di keningmu/Ketika setetes harapan/Mengalir menjadi embun/Membasahi pagi yang mekar menjadi mawar//.

Lantas, akankah mahasiswa dari pedalaman atau pelosok daerah mampu mengalirkan setetes harapan menjadi embun saja untuk memekarkan semangat memeroleh pendidikan tinggi yang murah? Ah, mudah-mudahan saja mampu!
BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: