8 March 2009

Semangat Perubahan "Maulid Nabi"

BAGIKAN
Oleh SUKRON ABDILAH

“Katakanlah: jika kamu (benar-benar) mencintai Allah,
ikutilah aku (Muhammad)” (Q.S. Ali-Imran [3]: 31).

DALAM bahasa saya, maulid nabi yang jatuh pada 12 Rabiul Awal atau 9 Maret, ialah moment tepat untuk menyuntikkan kembali semangat kenabian dalam diri. Secara etimologis, maulid atau milad adalah hari kelahiran. Nah, ketika dipahami secara subtansial, maulid nabi adalah ekspresi penghormatan kepada Nabi Muhammad Saw. Akan tetapi, peringatan itu bakal terasa hambar seandainya umat tidak menangkap semangat perayaan maulid nabi.

Sejarah mencatat, motif dibalik legalisasi maulid nabi semasa pemerintahan Sultan Salahuddin Al-Ayyubi (1138-1193) untuk membangkitkan semangat juang muslimin yang bertempur. Sekarang kita tidak lagi berada di zaman peperangan. Semangat itu mestinya ditransformasi untuk menyelesaikan persoalan kongkrit secara praksis sehingga kita dapat keluar dari pelbagai keterpurukan. Ini berarti, bagi umat Islam baginda Rasul Saw. ialah sosok teladan yang mestinya mampu menancapkan semangat “perubahan” agar dapat keluar dari kondisi tidak baik menuju kondisi baik.

Perubahan

Ary Ginanjar Agustian, mengatakan dalam diri manusia harus terwujud prinsip hidup yang memandang masa depan (visioner). Sebagai manusia, kita, mampu menggapai kemuliaan hidup, dengan cara menanamkan pengharapan akan keberhasilan di masa mendatang (futuristik). Dari sinilah, lahir motivasi dahsyat sehingga memicu diri kita terus bertahan meskipun berjuta penderitaan siap menghajar dan menerjang. Di dalam Al-Quran dijelaskan, “Sesunggunya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu sendiri yang melakukan perubahan akan nasibnya” (QS. Ar-Ra’d [13]: 11).

Kita berubah menjadi manusia yang kokoh, kukuh, dan keukeuh ketika mengharapkan keridhaan Tuhan menghampiri. Semangat Nabi Muhammad Saw. dalam melakukan perubahan konstruktif, harus mulai kita ejawantahkan dalam konteks kekinian, yakni di zaman penuh ketidakadilan ekonomi, sehingga kemiskinan masih menggurita di bawah sistem dan dominasi ekonomi kapitalis. Momentum maulid nabi kali ini, diharapkan memberi spirit bagi umat melakukan perubahan di bidang sosial-ekonomi ke arah kemajuan. Inilah mengapa Ibnu Khaldun berpendapat, kemajuan ekonomi pilar kemajuan peradaban Islam.

Kita tahu, banyak upaya transformatif Nabi Muhammad Saw. dalam mereformasi ekonomi, dalam konteks zamnnya. Upaya itu dengan mengatur secara ekonomis bidang moneter, fiskal, mekanisme pasar (harga), peran negara dalam menciptakan keadilan (hisbah), membangun etos entrepreneurship, menegakkan etika bisnis, memberantas kemiskinan, melakukan pencatatan (akuntansi), dan pendirian Baitul Mal. Beliau juga mereformasi pelaksanaan bisnis dari pelbagai praktik fasid (rusak) dengan cara yang baik dan berkeadilan.

Misalnya, beliau menggagas praktik bisnis yang didalamnya terdapat praktik maysir atau spekulasi agar segera dibersihkan. Dari reformasi yang dilakukan Muhammad Saw., praktik riba mendapat perhatian utama darinya. Sehingga, untuk umat sekarang, ekonomi berbaju syariah ini seakan menjadi tren ekonomi Indonesia. Itu semua dalam rangka perubahan menuju kondisi ekonomi umat yang lebih baik. Jadi ada semacam pandangan ke depan (visioner), dengan tren lembaga keuangan atau perusahaan berbasis syariah di Indoenesia.

Bisnis dengan jujur

Kini, konsep ekonomi Islam itu lebih banyak diadofsi lembaga-lembaga keuangan, seperti perbankan, asuransi, pasar modal, pegadaian, koperasi, dan MLM yang semuanya menyertakan landasan syariah. Seorang guru marketing negeri ini – Hermawan Kartajaya – menyebutnya bisnis berbasis kejujuran.

Allah Swt., berfirman: “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa Sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, Pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?” (Al Muthaffifin [83]: 1-6).

Konsep ekonomi Islam bukan hanya berorientasi materialitas, tetapi juga spiritualitas. Oleh karena itu, keuntungan yang diperoleh mesti memiliki kemashlahatan bagi orang lain. Seiring keuntungan yang diperoleh, selama itu juga, perusahaan yang berbasis syariah atau spiritualisasi Islam, harus berkontribusi dalam memberantas kemiskinan. Kedermawanan itu adalah ketika kita memiliki harta yang bermanfaat untuk orang banyak. Ekonomi Islam bukan memonopoli keuntungan seperti halnya perusahaan atau lembaga keuangan kapitalis.

Pada posisi ini, rajinlah membentuk kebiasaan kita untuk sudi berbagi dengan sesama manusia. Zakat, infaq dan sedekah adalah sebentuk kearifan memperlakukan harta dan kekayaan dengan memanfaatkannya untuk kepentingan manusia, sehingga semangat hidup tidak hanya dimiliki orang kaya, tetapi kaum miskin. ‘Arifin, dalam konteks kekinian, bukan saja orang yang asyik beribadah sendirian di mesjid. Tetapi seorang muslim yang asyik beribadah kepada-Nya bersama orang lain yang ditolongnya dari kesengsaraan.

Dalam sebuah keterangan dijelaskan, tiap menjelang shubuh dua malaikat turun ke bumi. Malaikat pertama berdoa: "Ya Allah, karuniakanlah bagi orang yang menginfakkan hartanya tambahan peninggalan." Sedangkan malaikat lain berdoa: "Ya Allah, timpakan kemusnahan bagi harta yang ditahannya (dibakhilkannya)." (HR Mutafaqun 'Alaih).

Agama (Islam) diturunkan ke muka bumi untuk menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapi umat manusia. Nah, kalau kita mengaku sebagai hamba bersyukur, cobalah berterima kasih dengan menyisihkan harta dan berlaku jujur ketika berbisnis. Wallahua’lam



BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: