1 April 2009

Ih…Selain Dingin Hujan Bisa Ngundang Bencana

BAGIKAN
Oleh SUKRON ABDILAH
(Baca juga di Kompasiana)

Di luar hari ini hujan turun deras sekali. Saking besarnya, saya jadi sedikit agak takut nih. Biasa…karena musim hujan di Indonesia, selalu menyisakan bencana alam. Seperti halnya terjadi di beberapa daerah di Indonesia, Banjir bandang beserta lumpur banyak memakan korban jiwa dan harta bendanya. Pikiran buruk ini muncul ketika musim hujan akhir-akhir ini selalu membuat macet jalan raya, air sungai meluap, dan bukit yang longsor. Kemarin juga, saya melihat di daerah Garut, ada gunung yang longsor ratusan meter. Musim hujan bagi saya selalu menyisakan degupan kencang dari dada. Malam tak bisa tidur, siang tidurnya pulas kayak mayat.

Hujan kalau dipikir-pikir memberikan dua rasa bagi saya: takut dan senang. Takut karena jangan-jangan tanpa disangka daerah tinggal saya akan terkena bencana. Senang, karena bisa menghirup udara yang sejuk. Bau air hujan juga saya rasa sangat nikmat. emmm…! untung tidak diminum.

Selain dingin, hujan juga untuk sekarang ini bisa mengundang adanya bencana alam. Kalau berada di daerah yang rawan bencana. Seharusnya BMG tanggap terhadap kondisi alam setiap daerah. Apakah di daerah saya itu, misalnya, rawan banjir atau longsor. Sehingga masyarakat dapat mewaspadai setiap hal yang akan menimpa dirinya. Tentunya kalau sudah diberi pengarahan, tentang potensi kerawanan suatu daerah terhadap salah satu dari berbagai bencana, kita bisa berwaspada atuh.

Itu dilakukan agar tidak terlalu banyak memakan korban. Karena masyarakat sudah mengetahui bencana apa saja yang akan menimpanya: banjir, longsor, atau angin puting beliung. Ini sudah dilakukan oleh bangsa Jepang, yang secara topografis daerahnya rawan gempa. Sehingga ada sebagian orang yang berlatih menghadapi gempa. Nah, karena sekarang sedang hujan, saya belajar berlari; karena jangan-jangan ada air bah yang menyerang. Ini bukan berarti saya suudzan kepada Tuhan. Ya, karena Nabi utusan-Nya sudah habis, hanya kewaspadaanlah yang harus dimiliki umat manusia.

Btw, ketika saya masih kecil kampung waruga (tempat tinggal saya) pernah terkena bencana angin puting beliung. Ketika orang tua rame-rame mengumandangkan adzan — meskipun tidak pernah kelihatan shalat berjamaah — saya dan teman-teman malah asyik huhujan. Kadung saja, ada teman saya yang terbang karena memegang payung besar berwarna hitam. Lucunya lagi, teman saya itu sedang buang air besar di pesawahan. Dan, saya melihatnya terbang beberapa meter; setelah itu akhirnya ia melepaskan payung tersebut.

Ceburrrrrrr…, badannya jatuh ke kubangan sawah. Waktu itu juga ada teman saya yang terseret angin besar sampai ke kebun awi (bambu). Saya bersama dua orang teman saya, sibuk memunguti buah-buahan yang jatuh menumpuk di tanah miliknya pak Adang. Ketika kecil, hujan telah mengakrabi hidup saya. Dan, baru mengenal bencana Tsunami pada tahun 2004 saja. jujur saja. saya tidak pernah mengenal istilah Tsunami sebelum bencan di Aceh. Sekarnag, dengan jebolnya Situ Gintung, saya juga tersadar: jangan-jangan waduk jatiluhur juga bakal bernasib sama. Andai boleh usul nih, bagaimana kalau setiap rumah membeli sekoci.

Tapi, kalau sudah diserahkan kepada Tuhan. Ya…, kita hanya bisa pasrah sumerah. Ini sudah takdir…, katanya. “Oh…..begitu ya pak ustadz?”, jawab saya, “pantesan Islam nggak maju-maju”.

BAGIKAN

Penulis: verified_user

2 komentar:

ironetea said...

Jangan pernah bosan main hujan-hujanan Mas Sukron!!Coz' Q juga suka.He..he..

Sukron Abdilah said...

iya...sama aku juga masih suka hujan-hujanan.