3 April 2009

Kebebasan Finansial Versi Mang Udin

BAGIKAN
Oleh SUKRON ABDILAH

Saya tidak begitu mengerti dengan maksud kebebasan financial. Setiap orang pasti berbeda memahami istilah ini. Pun demikian dengan Mang Udin dari sebuah kampung di pelosok desa, daerah Garut. Tepatnya, di kampung saya. Dia tidak memiliki profesi tetap karena saya tidak melihatnya bekerja sebagai tukang cukur atau buruh tani, seperti kebanyakan warga di kampung saya.

Dia tidak kaya. Bahkan bisa dibilang super duper miskin. Tapi, di balik itu semua ada yang menyentuh hati saya tentang kebebasan yang terpancar dari wajahnya. Dia tidak terlihat tua. Badannya juga sehat wal afiyat. Berbeda halnya dengan para miliuner, yang tiap hari berurusan dengan duit, pulus atau uang. Kusut, semrawut, dan kesehatannya terganggu akibat memikirkan keinginan untuk kaya. Inilah yang mungkin disebut dengan orang-orang yang tidak memiliki kebebasan financial. Uang, dalam pandangannya adalah sumber pemuas keinginan-keinginan.

Saya jadi teringat pepatah ustadz di pesantren dulu, bahwa keinginan manusia bakal terus meningkat. Ketika satu keinginan terwujud, dia akan beralih kepada keinginan-keinginan yang lebih tinggi daripada sebelumnya. Berkaca pada pribadi mang Udin, saya menemukan rahasia untuk menjalani hidup tanpa beban. Rahasia itu adalah meniadakan keinginan dalam diri. Sekaya apa pun orang, kalau keinginan terus dipelihara, kehidupan akan dianggap sebagai suatu persaingan yang melelahkan.

Mang Udin, karena ia sadar diri atas kondisinya, keinginan selalu berakhir pada kegagalan. Sekarang, dia mengalami kebebasan finansial menurut versinya sendiri.
Kebebasan finansial, diperolehnya ketika keinginan-keinginan untuk menjadi kaya dikubur dalam-dalam di luar dirinya. Kebebasan finansial bukan berarti harus memiliki segalanya. Tetapi, kemampuan untuk mengendalikan dan meniadakan keinginan-keinginan yang tidak mungkin terjadi dalam hidup.


BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: