23 May 2009

“Lembur” dan Sastra Sunda

BAGIKAN
Oleh SUKRON ABDILAH
(Artikel ini dimuat di Kompas Jawa Barat, Sabtu 23 Mei 2009)

Lembur mengacu pada istilah sosio-geografis dan geo-kultural yang digunakan masyarakat Sunda menyebut tempat tinggal sekelompok warga. Apakah karena sastra Sunda identik dengan bahasa Sunda sehingga perlu menyertakan situasi dan kondisi lembur, dalam melahirkan karya sastra? Ataukah hal itu dideterminasi latar belakang sosio-kultural sastrawan Sunda yang dilahirkan di pedesaan (pilemburan)? Bisa juga sikap sastrawan Sunda yang di kedalaman imajinasinya masih menyisakan relief ketentraman hidup di lembur.

Seperti Andika, seorang tokoh cerita dalam novel karya Aam Amilia bertajuk: Buron (terbit tahun 1985 dan 2006). Di dalam novel itu, Andika mengajak istrinya (Umi) meninggalkan salah satu kota B menuju sebuah lembur di daerah berinisial T. Kepindahan Andika dari kota menuju lembur karena merasa tidak nyaman hidup di tengah kota yang banyak menampilkan kemunafikan. Terutama ketika dia ditipu klien bisnisnya. Ia merasa bahwa praktik kehidupan di kota telah menimbulkan ketidaktenangan.

Karenanya, ia berusaha buron (kabur) dari kejaran nilai-nilai hidup kota yang semakin tergerus pada tingkah polah hedonis, individualis, dan menggadaikan idealisme. Pemendaman ketidaksetujuan Umi atas sikap Andika juga membuahkan kesadaran bahwa orang kota dan orang kampung bisa bersatu hidup di daerah yang bukan lembur. Bukan pula kota. Lebih tepat, daerah transisi!

Daerah semacam ini bisa dilihat dari surat yang ditulis Andika kepada Umi, sang istri yang masih mengharapkan Andika menetap di kota B. Isi sebagian surat itu sbb: Akang tos insap kana harti hirup saeunyana. Urang reureuh sareng, nya. Di kampung CK Akang mendak hiji kombinasi kahirupan kota sareng lembur. Di ieu kampung parantos lebet kamajuan elektronik, tapi pangeusina angger keneh nyeupeung kabudayaan nu nyunda. Umi moal keueung kawas di S. Di dieu mah tos aya listrik, TV, blue jean. Cai teu keudah ka walungan, aya kamar mandi, sumur kompa. (hlm. 156).

Keindahan alam

Ada beberapa karya sastra Sunda yang menarik ditelaah berkaitan dengan istilah “lembur”. Di antaranya: Buron (Aam Amilia), Jodo Pakokolot (Memed Sastrahadiprawira), Baruang Ka Nu Ngarora (D.K. Ardiwinata), dan Gunem Rencep Sidem (Enas Mabarti). Dalam keempat teks sastra Sunda itu, penulisnya menggambarkan kehidupan di lembur secara unik dan beragam. Tapi, tetap bermuara pada satu gambaran. Ya, keindahan alamnya!

Penilaian sastrawan Sunda tersebut memberikan pelajaran pada kita, lembur merupakan tempat yang tepat untuk menenangkan diri, bahkan mengasingkan diri seperti dilakukan Raden Suria ketika ia berbuat kriminal (mencuri dan dihukum) karena jalinan cintanya dengan Enden Ratna kandas di tengah jalan (Memed Sastrahadiprawira, Jodo Pakokolot, 1913 dan 2000).

Ruang dan waktu di lembur dalam imajinasi empirik Memed S yang lahir di Manonjaya (1897), menggambarkan kaendahan eksotik alam priangan dan posisi lembur sebagai medium asosiasi bebas Freudian, karena memompa kesadaran retrospektif manusia hingga kenangan hidup muncul kembali. Ini terbukti dari ingatan Raden Suria pada pengalaman masa lalu. Ras anjeuna emut ka alam baheula, waktu keur lubak-libuk senang taya ka kurang…butbat kacipta jalan-jalanna dayeuh urut anjeunna calik ti aalit, riung mungpulung jeung sepuh, … bruy bray tarembong deui: breh Enden Ratna nu geus cidra tina subaya. (hlm. 41).

Karya sastra tentunya mengemas fakta sosial secara naratif dan sederhana hingga kesadaran represif pembaca menyeruak ke permukaan alam sadar. Mereka yang telah sekian lama meninggalkan lembur dan menetap di kota akan merasa rindu pada kampung halaman tatkala hirupna katalangsara. Ketentraman, ketenangan dan keindahan kampung yang sejak lama terpenjara di kedalaman rasa, dengan membaca karya sastra Sunda – novel, cerpen, puisi, frosa, roman – seolah hadir kembali.

Kampung vis a vis kota

Lain halnya dengan Nyi Piah – istri Jang Kusen dalam roman Baruang Ka Nu Ngarora (Cetakan Pertama, 1914) – ia tidak menyukai alam pilemburan yang berada di sisi dayeuh dan terkesan sepi. Bahkan tidak menjanjikan secara sosio-ekonomi. Nyi Piah pun kabengbat lelaki lain bernama Aom Usman yang tinggal di dayeuh dan disinyalir sebagai biang keladi keretakan rumah tangga Jang Kusen dengan Nyi Piah. Alasan yang dikemukakan Nyi Piah ketika mengadu pada orang tuanya pun digusur pada persoalan ekonomi di lembur yang begitu susah sehingga keluarganya menuntut Jang Kusen untuk menceraikan Nyi Piah.

Ketidakbetahan Nyi Piah pada suatu hari ditumpahkan pada Jang Kusen dalam kalimat, “Kang, kumaha kuring teh geus teu kuat cicing di dieu teh; lain kuring teu ngawula. Teu biasa ti tadina, kudu turun gunung unggah gunung, ka cai sakitu haresena…jeung kahayang kuring mah montong nyangsara teuing maneh, da akang putra nu beunghar, bapak kuring oge teu malarat ” (hlm. 83).

Sebagian orang kota (dayeuh) yang terbiasa hidup senang, ketika menjalani kehidupan di pilemburan akan mengalami ketidakbetahan. Itu terjadi karena terbiasa dengan gaya hidup kota yang hedonis, individualis, dan jalinan interaksi sosial yang mekanik. Tapi rasional. Namun, tidak demikian dengan masyarakat lembur. Irasionalitas, mitologi, altruisme, harmonisasi dengan alam, kesederhanaan dan sabilulungan masih dipegang kuat. Bahkan jika ada warga lembur yang urban ke kota – tapi masih memegang nilai-nilai pilemburan – akan menjadikan lembur sebagai medium penguatan spiritualitas.

Salah satu karya sastra berbentuk prosa religius karangan Enas Mabarti bertajuk: Gunem Rencep Sidem (2000) mengindikasikan hal itu. Enas Mabarti dengan rekayasa bahasa yang memukau, estetik, artistik dan profetik membawa kesadaran kita bahwa pengalaman bisa dijadikan alat mengingatkan diri pada asal-usul (purwadaksina) kemanusiaan. Alhasil, karya ini merefleksikan “lingkaran spiritualitas”: Gusti Allah, kanjeng Nabi Muhammad, orang tua dan alam sekitar.

Refleksi atas gejala kehidupan – meminjam bahasa Jakob Oetama – adalah providentia Dei, semacam penyelenggaraan Tuhan yang bukan kebetulan. Seperti terdapat pada tulisan Enas Mabarti: “Jungjunan. Mugi salira maparin ka pun bapa, syafaat, oge ka pun biang, nu parantos teu aya dikieuna”. Itulah deretan kata yang disusun sastrawan kelahiran Tasikmalaya ini, sebagai permohonan purifikatif atas ayah dan ibunya yang berada di alam kalanggengan.

Jadi, eksistensi lembur – di mana saya, anda, dan sastrawan Sunda pernah mengukir pengalaman hidup –memberikan andil bagi lahirnya karya sastra Sunda sebagai bentuk perjalanan hidup manusia Sunda. Dan, lembur dalam karya sastra Sunda lahir bukanlah didasari kebetulan-kebetulan. Wallahua’lam

BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: