29 June 2009

Pejabat, Bukan Monyet dan Kura-kura!

BAGIKAN


Berkarya buat bangsa tidak hanya dengan mencalonkan diri jadi anggota legislatif. Apalagi kalau harus menjadi Presiden. Berkarya buat bangsa adalah menjalani profesi dengan jujur, berdasarkan kepentingan orang banyak, dan tidak memanfaatkan kesempatan di balik kesempitan orang lain. Itu panduan praktis paling sederhana. Karena yang tersulit adalah menahan diri untuk berbuat jahat dan korup.


Mari kita tengok kisah tutur kakek saya tentang persaingan seekor Monyet dan Kura-kura yang menemukan pohon pisang berbuah segar di kebun petani. Si monyet sembari meloncat girang mengajak si Kura-kura untuk memetik buah pisang tersebut. Singkat cerita, si Monyet dan Kura-kura pergi membawa kantong untuk memetik buah milik petani itu. Karena keduanya sangat serakah,tipu daya dan jegal-menjegal antara dua teman itu (Monyet dan Kura-kura) terjadi.

Si Monyet yang jago menaiki pepohonan berbisik, “asyik dong kalau nanti buah pisang itu sudah aku kantongi, langsung saja aku lari meninggalkan si Kura-kura”. Sementara itu, si Kura-kura tidak mau kalah akal. Ia pun melubangi kantong yang akan dibawa si Monyet. Akhirnya setiap kali si Monyet sibuk memetik dan memasukkan pisang ke kantong, tiap kali itu juga pisangnya jatuh ke tanah. Si Kura-kura tanpa berkeringat, ia mendapatkan buah pisang lebih banyak dibandingkan si Monyet.

Kisah di atas, adalah salah satu cerita dari kakek saya yang masih terekam kuat sampai kini. Ada tersimpan keserakahan dalam diri si Monyet dan si Kura-kura. Karena ini hanya cerita, tentunya tidak menggambarkan sifat sebenarnya kedua hewan itu. Tapi, didalamnya saya menemukan bahwa dalam perebutan kekuasaan (buah pisang) tidak ada kawan dan lawan yang abadi.

Mungkin si Monyet dan si Kura-kura pada awalnya adalah dua sahabat akrab. Namun, ketika hendak memetik buah pisang muncul persaingan. Akibatnya, mereka berubah saling mengambil keuntungan untuk mendapatkan buah pisang tersebut. Keserakahan semakin jelas kentara ketika satu sama lain berbuat licik agar buah pisang itu dapat dikuasai sendiri-sendiri.

Dunia kepolitikan kita, tidak jauh berbeda dengan perebutan buah pisang kedua hewan tersebut. Caleg, partai politik atau capres dan cawapres saling melancarkan manufer politik agar dapat mencapai kekuasaan tertinggi. Saling menjatuhkan dan menyusun strategi politik untuk mendongkrak raihan suara pada pemilu nanti. Buah pisang sebagai simbol kekuasaan dalam kisah tutur ini adalah milik petani yang dari dulu dipelihara dan diurus sebaik mungkin.


BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: