29 June 2009

Saya Menyukai Kemudahan di Bank Syariah

BAGIKAN

Saya seorang muslim. Jujur saja, saya adalah salah seorang warga Negara yang tidak gemar menabung. Pernah membuat rekening tabungan di Bank Muamalat, Ujungberung, Bandung; tapi sampai tulisan ini dibuat, depositonya bukan bertambah. Malah berkurang. Hehe.

Berdasarkan pengalaman membuka rekening itulah, saya merasa ada kemudahan. Saya juga merasa diberi kepercayaan karena bisa membuka rekening meskipun ber-KTP Garut. Pelayanannya memuaskan. Sayangnya karena rekening saya terkena praktik pishing di dunia maya, terpaksa harus dinon-aktifkan. Maka, untuk keperluan transfer honorarium dari penerbit dan Koran terpaksa harus menggunakan rekening calon istri saya. Hehe lagi!!!

Motivasi saya membuka rekening di Bank Syariah karena faktor keyakinan menjalankan syariat Islam. Saya tidak begitu mempersoalkan tentang produk yang diberikan bank tersebut. Sekali lagi, saya sampai sekarang belum pernah membuka rekening di Bank Konvensional. Kecuali terpaksa, sekitar 2000-an, karena pihak kampus waktu itu bekerja sama dengan BNI menyediakan kartu mahasiswa. Kartu yang sudah bisa digunakan sebagai kartu ATM dan tanda sebagai mahasiswa. Asyik!! Dual function!

Ngomongin tentang kampus. Saya jadi berpikir, bagaimana kalau Perbankan Syariah menggandeng kampus berbasis Islam (seperti IAIN/UIN, STAIN, atau perguruan tinggi Islam swasta lainnya). Formatnya bisa dalam bentuk kerjasama pembuatan kartu mahasiswa yang sudah bisa difungsikan sebagai kartu ATM. Selain itu, sebagai pencetak generasi penerus bangsa dan umat, mahasiswa juga bisa lebih sadar atas pentingnya menabung di perbankan Syariah.

Syukur-syukur kalau ada mahasiswa yang menyukai dunia kewirausahaan. Dari ribuan siswa yang memiliki kartu tersebut, bakal ada ratusan mahasiswa yang menjadikan Bank sebagai partner berbisnis. Tentunya dengan menggunakan prinsip Bank Syariah seperti musyarakah, mudharabah, mu. Yang jelas,

Secara bahasa, Syariat (al-syari’ah) berarti sumber air minum (mawrid al-ma’ li al istisqa) atau jalan lurus (at-thariq al-mustaqiim). Sedang secara istilah Syariah bermakna perundang-undangan yang diturunkan Allah Swt melalui Rasulullah Muhammad SAW untuk seluruh umat manusia baik menyangkut masalah? ibadah, akhlak, makanan, minuman pakaian maupun muamalah (interaksi sesama manusia dalam berbagai aspek kehidupan) guna meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Dengan demikian, upaya untuk membangun “learning culture”, upaya mendorong para karyawan untuk terus merengkuh ilmu, atau upaya untuk menumbuhkan “knowledge management system”, merupakan serangkaian proses yang senantiasa perlu digerakkan. Sebab, semua ini sesungguhnya merupakan perwujudan dari dimensi spiritualitas kita dan juga bentuk ibadah kita kepada Yang Maha Mengetahui.



BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: