27 July 2009

Berhenti Menggonggong

BAGIKAN

Di salah satu rumah, dekat sebuah kolam; dua ekor anjing itu berhenti menggonggong. Dulu, saya memiliki tiga ekor anjing untuk menjaga kebun jeruk Garut dari sergapan maling. Kendati, sudah dijaga tiga ekor anjing masih ada saja yang mencoba mencurinya. Entah itu teman, warga kampung lain atau saya bersama kakak saya, Arif. Namun kedua anjing itu selalu menggongong kepada setiap orang. Termasuk dua kakak-beradik yang akan berangkat sekolah, yang kebetulan melewati rumah bercat putih indah tersebut.

Dalam menghadapinya, kakak beradik itu memiliki metode yang berbeda. Kalau sng adik selalu membawa beberapa potong singkong rebus. Kakaknya, membawa kerikil tajam.
Setiap berangkat sekolah kalau anjing itu menggonggong, sang adik melemparkan sepotong singkong. Sisanya, untuk nanti pas pulang dari sekolah. Alhasil, anjing itu berhenti menggonggong. Nah, anjing yang satunya lagi terus saja menggonggong sang kakak. Sebab, dia melemparkan batu kerikil ke depan anjing itu. Celakanya, sang kakak malah lari sehingga sang anjing mengejarnya. Dia pun terjatuh. Pakaiannya kotor.

Sementara sang adik, malah dijilati anjing yang menjulur-julurkan lidahnya. Dia berlari tidak cepat, karena anjing itu tidak menggonggongnya. Anjing itu sekejap mata menjadi jinak. Akhir cerita, anjing itu menjadi sahabat sang adik dan musuh bebuyutan sang kakak.

Wah, kisah di atas kendati sederhana memuat pelajaran berharga bagi kita. Bagi kaum agamawan, ketika mempraktikkan religiusitas, jangan mudah merendahkan agama lain. Jangan pernah keras dalam membimbing umat. Bahkan, jangan sekali-kali meligitimasi praktik terror. Itu tidak akan mengundang simpati. Melainkan aksi kebencian.

Kemudian, ini tafsir kisah yang sangat saya sukai. Kakak beradik itu kalau diumpamakan pemerintahan, hmmm, seperti praktik politik bapak-bapak kita. Ketika ada partai yang diindikasikan akan menggonggong terus-terusan, jabatan pun ditawarkan kepada mereka. Jabatannya pun yang sangat “basah”. Sehingga, sedikit demi sedikit suara gonggongannya meredup. Bahkan, tidak terdengar. Itulah tindakan elegan seperti yang dilakukan sang adik.

Nah, kalau sang kakak, mirip dengan pemerintahan otoriter. Setiap suara gonggongan ditekan secara keras agar tidak bersuara lagi. Banyak orang yang diculik, bahkan dibunuh, ada juga yang di penjara. Hal itu dilakukan supaya kaum oposan tidak bersuara lagi. Ngomongin pemilu kemarin, saya tak begitu jelas menyimak siapa yang menjadi penjaga suara kiritis rakyat. Sebab, politikus kita bukan satu spesies dengan hewan kesayangan saya ini.

Kita tunggu saja, bulan Oktober. Apakah ada yang terus menggonggong atau malah berbalik haluan mendukung gonggongan pemerintah. Gonggongan yang tidak dibarengi aksi nyata, karena sudah kenyang memakan singkong dari sang adik.


BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: