15 July 2009

Ciptakan Keharmonisan

BAGIKAN

Ayam, kucing, dan anjing saya selalu berdekatan mesra. Sang ayam tidak mematuk-matuk punggung kucing. Pun begitu dengan kucing. Tidak pernah mencakar dan mengunyah ayam yang masih hidup. Apalagi dengan si dogy. Dia tidak mengisi hari-harinya dengan mengejar ayam dan kucing. Tahukah kenapa mereka harmonis seperti itu?
Saya selalu memberi makan mereka bersama-sama. Sederhana bukan?

Namun manusia tidak sesederhana itu. Kendati kita hidup berdampingan dengan orang yang berbeda. Bertetangga. Berkawan. Dan berteman akrab. Ada satu hari yang tak bisa dilepaskan dari perkelahian. Karena kita memiliki hasrat, keinginan, dan kepentingan. Tak seperti hewan peliharaan saya. Hasrat ada, keinginan ada; namun kepentingan hanya nol persen. Kepentingan itu adalah membangun peradaban. Hewan tidak pernah berkepentingan untuk membangun peradaban. Sementara manusia, memiliki kepentingan yang mengarah pada pembangunan peradaban. Inilah yang melahirkan persaingan vis a vis.

Sebuah persaingan yang banyak membutakan nurani kita. Persaingan yang banyak melahirkan tindakan makar. Persaingan yang banyak memicu eksploitasi besar-besaran. Persaingan yang memunculkan segala tetek bengek problem dan ketakutan. Inilah yang diistilahkan dengan callenge. Tantangan yang didalamnya ada sejuta peluang. Untuk meyakinkan bahwa manusia harus melawan dan menaklukkan tantangan tersebut.

Mang Udin, si miskin dari kampung; ketika mencoba bekerja harus memutar otaknya untuk melawan eksploitasi bos perusahaan. Karena dia bekerja sebagai buruh tani, tentunya harus tunduk pada aturan yang diberikan sang pemilik sawah. Islam, agamaku sampai mati, mengajarkan relasi sama rata. Relasi yang tidak memilah-milah. Tidak ada istilah kaya-miskin. Tidak berlaku hukum sosiologis homo homoni lupus. Serigala – dalam Islam – semestinya dapat bergandengan dengan domba yang masih hidup.

Namun, itu sulit terealisasi. Harmonis lahir ketika sebelumnya terjadi pertentangan dan konflik. Tuhan selalu membuat manusia tertawa. Menertawakan perilaku yang tidak bisa dijaganya. Perilaku seperti apakah itu? Memberi optimisme hidup kepada orang-orang tak beruntung. Kepada si miskin. Kepada si pengangguran. Kepada siapa saja yang membutuhkan uluran tangan kita. Gitu aja kok repot!!!



BAGIKAN

Penulis: verified_user

1 komentar:

Sukron Abdilah said...

contoh ieu mah...kmh tampilanna.