13 July 2009

God and My Life

BAGIKAN

Bagi saya kehidupan laiknya luapan Lumpur Sidoarjo yang tak pernah bisa ditanggulangi pemerintah dan perusahaan Bakrie. Ada saat dimana saya – seperti halnya warga sekitar semburan Lumpur – bebas dari bencana. Namun, ada saatnya juga saya harus berjuang keluar dari impitan hidup. Saya merasa nyaman melupakan Tuhan ketika hidup ini senang dan bahagia. Tatkala ditempa derita, Tuhan menghadir kembali dalam benak. Itulah realita hidup. Tuhan kadang tenggelam dan muncul di ubun-ubun kesadaran kita.

Tuhan berbeda dengan pemerintah dan perusahaan pimpinan Abu Rizal Bakrie. Ketika menimpakan ujian dan cobaan, Dia tidak pernah angkat “tangan”. Lepas tanggung jawab begitu saja. Itu rumusan pertama kenapa Tuhan adalah sang pencipta kehidupan. Karena pemerintah dan pemilik modal bukan pencipta kehidupan, logis kiranya kalau kadang berbuat maker. Bikin kehidupan warga kelabakan menyadari makna kehidupan. Warga di Sidoarjo marah dan kesal? Itu wajar bin wajib!

Katak di dalam tempurung tidak akan tersadar atas realita kehidupan. Karena ia selalu bersemayam di dalam ruang sempit yang tertutup dengan dunia luar: realitas. Ia merasa nyaman dengan berada dibalik tempurung itu. Tak heran ketika berada di luar alam bebas, ia melompat-lompat ketakutan. Mungkin, inilah kenapa katak jalannya melompat-lompat. Untuk menghindarkan diri dari ancaman. Hehe.

Kangguru juga dong? Ya iyalah, karena kangguru melihat bahwa di hutan ada seribu satu marabahaya. Karena tangannya super duper pendek, ia menjadi piawai melompat. Ah…, ada-ada saja kau ini Sukron!

Itulah hidup saya bilang. Jalannya terjal penuh rintangan. Ketika kita tidak pandai melompat-lompat, boleh jadi tidak bakal mampu menjalani hidup ini. Begitu juga dengan keimanan dan keyakinan saya terhadap Tuhan. Di satu sisi kadang saya melupakannya. Ini jujur! Karena tidak mungkin ada orang yang terus menghadirkan-Nya dalam seluruh gerak kehidupan. Maksimalnya dari 60 detik tidak ada orang yang akan mampu mengingat-Nya. Kecuali orang yang berzikir terus selama satu hari satu malam. Itu juga kalau dia dapat bertahan dari kehausan dan kelaparan.

Makanya, dong, Tuhan membagi kehidupan saya menjadi dua: Dunia dan akhirat. Ketika berada di dunia, Tuhan bisa menolerir kelupaan yang dilakukan manusia. Wong, manusia itu mahalul khaththa wa nisyan. Seperti didendangkan band Kuburan – kuburan juga kadang kita lupakan sebagai bagian dari hal ukhrawi – lupa. Lupa…lupa…lupa. Lupa lagi syairnya! Itulah manusia kadang lupa bagaimana menyanyikan syair kehidupan.
Seperti halnya saya lupa bahwa di blog ini jarang menghadirkan Tuhan. Nah, mulai kemarin lusa sampai nanti, saya akan memposting hubungan akrab saya dengan Tuhan di blog ini. Karena Tuhan – kasihan juga – banyak dilupakan eksistensi-Nya di muka bumi ini.

Semoga Tuhan menghadir dalam hidup saya. Amiin!

Because Your (God) Miracle come to me every day. Bersyukurlah atas hidup!!!!



BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: