10 July 2009

God…, I Love You so Much!

BAGIKAN

Hari ini saya coba merenung tentang hidup. 27 tahun lebih saya diberi kepercayaan oleh Tuhan untuk bergerak dan menjejaki bumi ini. Namun, ada semacam ganjalan yang terus mengelabui pikiran saya. Ya, tentang segala hal yang tak pernah saya selesaikan. Segala hal yang tak pernah saya rancang sebelumnya, tapi tiba-tiba hal itu hadir dalam hidup ini. Sesuatu yang menghantam bangunan imajinasi yang saya rangkai hingga ancur berkeping-keping.

Dialektika yang terus terjadi adalah: keinginan dan harapan saya versus kehendak Tuhan. Saya berharap hari ini adalah A. Sedangkan sang pencipta saya, Allah Swt. berkehendak lain. Maka B tidak bisa tidak menghadir atau mengada dalam rangkaian hidup saya. Hmmm…, tak bijak rasanya kalau saya – yang lemah dan hina dina ini – melawan kehendak-Nya.

Seperti bencana Situ Gintung, Tsunami di Aceh, bahkan longsor di daerah tetangga saya di Garut. Saya tidak menyalahkan Tuhan atas ketaksesuaian keinginan dengan kehendak-Nya. Itu sah-sah saja dilakukan-Nya. Pada saat saya di pesantren dulu pernah membaca buku yang membahas konsep keadilan Tuhan. Si penanya mencoba menggugat ketidakadilan Tuhan atas bencana yang menimpa. Kemudian sang ulama penulis buku itu, kalau gak salah Ahmad Hassan, dari Bangil mencoba membela konsep keadilan Tuhan.

Katanya, “Tuhan bebas melakukan apa pun juga kepada seluruh ciptaan-Nya. Termasuk menghancurkan dirimu dan alam raya ini. Seperti halnya kita bebas menyembelih ayam peliharaan milik kita. Tidak ada yang akan menangkap kita karena kita telah menyembelih ayam.”

Ketika hari ini tidak seperti yang direncanakan hari kemarin, percayalah Tuhan mencatatnya sebagai satu kebaikan. Namun bukan berarti kita harus jadi manusia yang sibuk merangkai angan tanpa karya nyata. Tidak ! bukan itu maksud saya. Ini pelajaran bahwa hidup selalu memutarkan seseorang agar pusing tentang eksistensi Tuhan di muka bumi. Ketika ada ketidaksesuaian dalam hidup ini, banyak orang berakhir pada satu tesis kesimpulan hidup: Tuhan harus disingkirkan dalam hidup.

Saya jadi teringat seorang tua renta miskin di perkampungan sana. Seandainya saya menjadi dirinya, Tuhan sudah dibenamkan dalam-dalam di belakang otak saya. Penderitaannya melebihi penderitaan saya. Nasib kehidupannya tidak seberuntung hidup saya. Kesempatan mendapatkan pendidikan tidak seperti kesempatan saya. Hmmm…, kalau melihat mereka yang tak seberuntung saya; jadi muncul tesis: Gue sayang banget Tuhan gue.

God…, i love you so much!


BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: