26 July 2009

Happy Blogging!

BAGIKAN

Satu alasan yang bikin saya ketagihan dengan ngeblog. Saya bebas berekspresi. Ketika menulis untuk media cetak, dalam benak saya kerap muncul wajah “beringas” redaktur. Itu kalau pertama kali saya mengirim artikel ke sebuah media. Mungkin sudah menjadi penyakit, ketika saya hendak menulis ke media pengalaman seperti itu terus berulang-ulang. Sekarang penyakit itu hilang. Tepatnya ketika saya sering berinteraksi dengan Ibn Ghifarie – kawan saya di komunitas blogger UIN SGD Bandung – saya diberikan wawasan seputar blogging.

Saya pendatang baru di blogosphere. Begitu pun di dunia tulis-menulis. Saya tidak memiliki teurah penulis atau lingkungan yang mendukung saya untuk menjadi penulis. Meskipun ayah saya – katanya seorang guru dan pernah menulis – aset berharga berupa buku ketika beliau wafat, habis diambil teman-temannya. Ya, sedekah ilmu, kata ibu saya ketika ditanya soal buku-buku ayah saya yang menghabiskan satu ruangan untuk menyimpannya. Kalau waktu itu saya berusia belasan tahun, pasti buku-buku itu tidak akan saya berikan begitu saja. Sayangnya, saya baru berusia lima tahun.

Sekarang tidak terasa saya sudah mendekati usia kepala tiga. Dan, tradisi membaca, menulis, serta berdiskusi terwariskan kepada saya. Itu kata ibu saya. Selama masih hidup ayah saya sering melakukannya. Sayang, Anda tidak akan mengenalnya karena ayah saya hidup di perkampungan yang dulu dan sekarang masih senjang dari informasi. Salah satunya Koran dan media cetak lainnya. Namun, saya masih ingat bahwa ayah saya selalu menyempatkan membeli Koran dan majalah. Salah satu Koran yang sering dibelinya adalah Harian Pos Kota. Saya sangat menyukai tokoh kartun “Doyok” lengkap dengan pakaian khas jawa-nya. Sepeninggal ayah saya, Koran itu tetap ada. Itulah kenapa saya tahu ada “Doyok” di Pos Kota.

Bukan kebetulan. Saya minggu kemarin pulang ke kampung halaman. Saya mengambil kembali kitab klasik berbahasa Arab milik ayah saya dari seorang kyai kampung. Untuk kepentingan memperkaya referensi menulis buku agama populer. Ketika sampai pada pembahasan syukur, saya terkaget-kaget. Ternyata, selain seorang guru, ayah saya piawai menerjamahkan kitab berbahasa arab dan menuliskannya secara runtut. Bahkan lebih sistematis daripada saya. Terjemahannya ditulis pada beberapa carik kertas yang sekarang warnanya telah menua.

Hebat saya bilang dalam hati. Ayah saya ternyata seorang warga Indonesia terdidik dan kritis. Seperti dibilang kakak saya yang paling besar, “Ayah saya dulunya adalah pembaca buku yang kritis. Ia pernah membeli buku tentang komunisme dan islam.” Sebagai seorang penceramah, ia mencoba menyelami pelbagai khazanah keilmuan. Dari mana saja tanpa pandang bulu. Ia juga seorang pendukung parpol Golkar yang berpikiran maju. Ketika tahun 70-an akhir partai ini bertarung, ia masih sempat menjalin hubungan akrab dengan temannya yang aktif di partai berlambang Ka’bah (PPP). Ia tidak lantas bermusuhan satu sama lain. Karena partai politik bukan tujuan utama dari berindonesia.

Itulah sosok ayah yang saya kenal hanya beberapa tahun saja dalam kehidupan ini. Ia menulis, membaca, dan berdiskusi sampai akhir hayat. Sayangnya, buah pemikiran ayah saya tidak pernah dipublikasikan di media. Sekarang, saya hanya bisa melanjutkan tradisi keilmuannya di ruang dan waktu yang berbeda dengannya. Tradisi yang harus dibiasakan itu adalah blogging. Dengan ngeblog kita bebas berkarya tanpa ada “sensor intelektual” dari sang redaktur sebuah perusahaan media. Meskipun di media cetak jarang melakukan opini publik, di media online dan blog, saya terus menyempatkan menulis apa saja. Tentang catatan kecil yang tidak begitu penting, namun bagi saya adalah ide besar penuh inspiratif.

Itulah yang saya lakukan beberapa tahun terakhir ini. Kompasiana sebagai media online – ternyata mampu menampung ide-ide yang saya miliki. Blog saya juga dengan sekejap mata, akan bergembira kalau terus diperkaya tulisan-tulisan saya yang bagi media mainstream itu tidak bernilai apa-apa. Menjadi intelektual publik bukan hanya mempublikasikan pemikirannya di media cetak saja. Di media online juga, kita bisa menjadi seorang intelektual publik. Sebab, yang saya sukai dari media ini adalah interaktivitasnya. Berbeda dengan media cetak. Ketika kita menulis, soliterisme intelektual terasa sangat melekat. Karena tidak ada yang member komentar. Di sini, di blog atau media online, dalam hitungan menit dan jam, tulisan kita kalau menarik untuk dikomentari akan terjadi suasana diskusi yang hangat.

Yu, mari ngeblog; berkarya untuk kepentingan peradaban umat manusia. Tentunya ngeblog dan ngoment dengan tata-cara yang lebih beradab. Karena, blogger itu adalah generasi beradab. Bukan generasi biadab bin haram jadah. Sekian!!! Saya KOPDAR dulu sebentar ya!!! Itulah yang saya istilahkan Happy Blogging!

From “Kamar Sempit” at 26 Juli 2009 pukul 15.00-1520


BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: