31 July 2009

Jihad Bukan Qital

BAGIKAN
Kematian memang benar adanya. Seateis apa pun seorang manusia, dia pasti memercayai bahwa mati adalah nyata. Dari kematian inilah, seperti dibilang M. Quraish Shihab – dalam kata pengantar buku Psikologi Kematian – menumbuhkan optimisme dan pesimisme. Tindakan teror pengebom di Kuningan, Juli 2009, saya pikir masuk ke kategori orang-orang yang pesimis. Hidup yang sedemikian berharga diakhiri dengan ledakan bom bunuh diri. Pesimis karena tidak mau atau bosan atau tidak menganggap hidup sebagai lahan menuai pahala.

Saya bertanya pada diri sendiri, apakah pepatah Nabi, “Hayatuna kulluha ibadatun” (Hidup di dunia adalah ladang beribadah kepada-Nya) tidak mereka simak baik-baik? Apakah si M.Top – yang dicurigai antek intelejen asing – itu memahami jihad sebagai qital (perang)? Teman saya, Ahmad Fuad Fanani, di harian Kompas memberi pemahaman ada kesalahan memahami istilah jihad. Padahal, lanjutnya, jihad berbeda dengan perang fisik. Jihad, lebih dekat dengan pengerahan potensi pikir.

Maka, di dalam khazanah keilmuan Islam kita mengenal istilah “ijtihad” dan “mujtahid”. Kedua istilah ini seakar kata dengan jihad dari wajan jahada. Ja-ha-da arti dasarnya adalah sungguh-sungguh. Jadi kalau diartikan perang fisik itu tidak tepat. Perang fisik tepatnya menggunakan istilah “qital” dan dalam Islam si qaatil (pembunuh) dengan si maqtul (yang dibunuh), mereka masuk neraka (fi al-nar). Ini bukan berarti yang menjadi korban ledakan masuk neraka. Tidak, mereka tidak akan pernah masuk neraka. Karena saya bukan Tuhan, yang berhak memasukkan ke surga dan neraka.

Maksud si qaatil dan si maqtul itu masuk neraka adalah ada pesan perdamaian yang diusung agama Islam. Kita, sesama manusia jangan pernah berperang. Adapun soal peperangan zaman nabi, itu adalah usaha defensif dari serangan musuh. Dan, di zaman kini peperangan adalah cara kuno alias barbar, apalagi melihat ledakan bom di Kuningan. Itu bentuk pesimisme yang agresif dan tak manusiawi. Dan, sekali lagi itu bukan jihad.

Saya mempunyai kisah singkat penuh anekdot tentang muslim Indonesia. Mang Udin di kampung saya dibikin bergeleng-geleng kepala. Triping karena kepusingan, ada umat Islam yang bertindak seperti itu (meledakkan diri untuk membunuh warga tak berdosa). Saking pusingnya, dia tidak mau shalat ke masjid dan malu mengaku sebagai Muslim. Dia juga menamai anak-anaknya dengan nama Asep Groban, Melly Swallow, dan yang bungsu dinamai dengan Makmur Geliat.

Ketika ditanya kenapa melakukan hal itu, dia menjawab: “Berabe, dik, kalau anak saya dinamai Muhammad, Ghifarie, Musthafa, Abu Bakar, Umar, dan nama muslim lainnya. Nanti kalau dia sekolah keluar negeri, khususnya Amerika Serikat, bakal dipersulit. Boleh jadi si Asep kalau saya namai Saifullah, si Melly saya namai Maimunah, dan si
Makmur saya namai Muhamad, mereka susah mendapatkan beasiswa ke luar negeri.”

Lagi-lagi kejadian teror bom itu membentuk si Muslim menjadi pesimis tentang masa depan anaknya. Meski ini anekdot, namun ada hikmah yang tersebunyi: kita mesti menjaga nama baik. Citra, tentunya, ditentukan oleh gambaran baik dan buruknya perilaku. Dari 100 persen penduduk muslim Indonesia, yang memahami jihad sebagai qital; saya pikir tidak lebih dari lima persen. Namun, meskipun kecil, suaranya seperti kendaraan bajaj di Jakarta. Kecil, tetapi brisik!!!.

Itulah Ayat-Ayat Antiteror dari saya. Sebuah pemahaman akan tanda-tanda yang Tuhan berikan kepada manusia untuk mengarifi kehidupan: berdamai dengan sesama manusia, bukan berperang dan saling menghancurkan. Terorisme adalah penghancur peradaban, yang sempat jadi alasan malaikat memprotes Tuhan, kenapa menciptakan manusia. Nanti disambung surambung lagi. Saatnya blogger menyuarakan antiteror!!!!

BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: