14 July 2009

Kebebasan “Tidak Beragama”?

BAGIKAN

Akhir-akhir ini saya dibuat gelisah dengan berita media massa. Tak tanggung-tanggung, berita itu mengusik saya untuk bertanya kepada pakar kebebasan beragama UIN Bandung, Ibn Ghifarie, bagaimana dengan masyarakat China. Katanya, di negeri “Tirai Bambu” itu agama tidak bebas. Ada tekanan, tindak represif dan diskriminasi pemerintah komunis bagi satu bumbu kehidupan: Agama.

Saya jadi berpikir, memang dunia ini terbalik. Di suatu negeri, Agama ditindas. Namun di lain negeri, Agama ada juga yang menjadi penindas. Untuk konteks China, katanya, Islam sudah berkembang selama 1300 tahun yang lampau. Bahkan ada juga yang menyebutkan Islam di sana sudah berkembang sejak masa Rasulullah Saw. Satu yang tak pernah saya tahu, bahwa umat Islam China sekitar puluhan juta orang. Sayangnya Islam di sana menjadi objek penindasan!

Di sini, di Indonesia berbeda; saudara kita, warga China mayoritas beragama non-Islam. Padahal, tanpa kita ketahui di negeri asalnya jumlah penganut Islam tak jauh berbeda dengan Negara kita. Perkembangannya juga lebih pesat ketimbang Islam kita dan lebih lama waktunya. Laksamana Cheng Ho adalah bukti kuat bahwa kejayaan Islam China pernah mengukir sejarah di bumi pertiwi ini.

Dari uraian saya yang agak formal ini, ada satu pelajaran yang mesti kita benamkan kuat-kuat di hati dan jiwa. Bahwa ketika suatu ajaran, ideologi, atau kredo Agama menjadi sedemikian fanatis dianut, lahirlah aksi yang mengarah pada tindak kekerasan. Seperti di Provinsi Xinjiang sana. Warga China yang berasal dari Suku Uighur, mayoritas muslim, sedang ditimpa kekejaman. Saya, misalnya, teriris hati ini ketika menyaksikan photo-photo korban pembantaian suku Uighur oleh suku Han yang dikirim via facebook oleh kawan saya.

“Astaghfirullah, persoalan politik kok menelan korban jiwa dari warga sekitar,” bisik saya.

Inilah ini, saya bilang. pembantaian yang tak berperikemanusiaan. Karena yang namanya pembantaian tentu saja tidak berperikemanusiaan. Inilah ini, saya bilang. kebebasan beragama yang terus ditutup agar tidak merongrong kekuasaan komunisme di China. Inilah ini, saya bilang. Ada perlawanan dari warga kalau pemerintah menjalankan roda pemerintahannya secara represif. Dan, terakhir; inilah ini, saya bilang. Seperti yang kita lakukan (umat Islam dan pemerintahan dulu) kepada para anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia. Inilah ini, saya bilang. Udah ah cape!

Nah, agar tidak terjadi seperti di China sana, saya kembali bertanya kepada Ibn Ghifarie, apakah harus ada juga gerakan “kebebasan tidak beragama”. Supaya komunisme atau atheisme dan pemeluk agama dapat hidup berdampingan. Bukankah kita, kebanyakan, dalam praktik kehidupan sering meniadakan Tuhan? Nah, itu juga atheis lho. Jadi di mana batas pemilah orang yang bertuhan dan tidak bertuhan? Beragama dan tidak beragama? Kalau kita dari sisi praktis melupakan terus-terusan Tuhan, Allah Swt. Tidak ada salahnya, kan, kalau mengkampanyekan: Kebebasan Tidak Beragama. Ini buat saudara kita yang merasa terbebani dengan kredo Agama yang katanya, njlimet, irasional, dan mistis.

Buat saya sendiri, masih tetap berpegang teguh pada jalur kampanye bikinan Ibn Ghifarie: Kebebasan Beragama. Kumaha tah Lur?!!! Hehehe
From “kamar sempit” 14 Juli 2009, Pukul 02.40-03.00 WIB.

BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: