31 July 2009

Main Petak Umpet dengan Tuhan

BAGIKAN

Tuhanku, Allah yang Maha Super Kebaikan-Nya menciptakan matahari dengan iktikad yang Maha Super Kebaikan juga. Hari-hari ini saya begitu terobsesi dengan matahari. Terobsesi bukan berarti saya penyembah matahari. Hanya mengagumi begitu taatnya matahari pada sang pencipta untuk terbit dan tenggelam sesuai yang diperintahkan Tuhan. 2012 nanti, katanya, matahari bakal pensiun karena ada ramalan yang menggegarkan kalangan cerdas perkotaan. Ya, ramalan itu adalah KIAMAT! Kenapa bagi warga perkotaan?

Sebab, film-film yang diproduksi orang asing, seperti DoomDay, terlihat ada semacam ilmiahisasi KIAMAT ini. Dari mulai penjelasan ilmiah tentang meteor yang jatuh ke bumi dan menghancurkan, sampai pada mencairnya kutub Utara. Itu bisa disaksikan di film-film tentang Kiamat. Ya, perusahaan film menangkap peluang pasar penonton yang notabene masih memercayai bahwa Kiamat benar adanya.

Saya sempat bergurau dengan blogger, Dasam Syamsudin dan Ibn Ghifarie, tentang kiamat 2012. “Wah, harus cepat-cepat menikah nih! Sayang kalau belum menikah. Belum merasakan surga dunia.”

Kembali pada sang matahari yang sebegitu taat menjalankan titah Tuhan. Bisa anda bayangkan kalau matahari seperti manusia. Ketika disuruh A, malah melakukan B. Pun begitu ketika dilarang melakukan B, ia masih main petak umpet dengan Tuhan, melakukan C. Seperti yang terjadi pertengahan juli 2009. Bom meledak di dua hotel, yang malas saya tulis namanya. Tuhan, memerintahkan jangan melakukan itu. Eh, malah ada juga orang yang melakukannya. Kalau betul para pelaku dari kalangan beragama, itu adalah bentuk dari petak umpet tak asyik dengan Tuhan.

Kalau juga betul, muslim ada di belakang kejadian ini. Saya merasa tidak sependapat dengan peneror. Mereka menggusur pemahaman agama ke arena publik yang plural dan majemuk. Sebuah kondisi yang sangat dihargai oleh Al-Quran dengan memuat kalimat “lita’arafuu” (saling kenal-mengenal) dalam teks suci nan kramat. Kenapa Tuhan menciptakan keragaman ialah untuk mempraktikkan “saling kenal-mengenal”. Memang betul kalau jaringan M.Top itu dikenal masyarakat internasional. Namun, dikenal karena merusak citra umat Islam.

Saya baru tahu, kalau M.Top itu singkatan dari Muhammad Top dari Koran Kompas. Tapi, tidak percaya kalau dia asli memiliki nama Muhammad. Nabi Muhammad sudah dijual dan dirusak oleh si M.Top karena ada kesan bahwa junjungan kita melegitimasi teror. Berlakulah hukum Shakespeare, “what’s name?”, apalah arti sebuah nama. Muhammad adalah orang suci, orang yang ramah, sopan, santun, dan tidak gampang emosi. Bahkan ketika ada sahabat yang mencoba melakukan bunuh diri dengan cara terjun langsung ke gerombolan para penyerang atau musuh, dia melarangnya. Saya menemukan ayat berbunyi, “wala taqtulu anfusakum bil bathili”. Artinya, jangan (sekali-kali) kalian membunuh diri sendiri atau orang lain dengan cara-cara yang batil.

M.Top dengan menggunakan nama Muhammad serasa tidak enak di dengar. Nama pavorit umat Islam ini juga, akan sedikit tercoreng dan bahkan ketika ada nama Muhammad di passport, so pasti, dong, bakal terganjal di bandara Amerika sana. Ini akibat ulah peneror yang mencantumkan nama Muhammad. Seperti dalam buku teranyar, Bambang Q-Anees berjudul, “Bila Rasulullah Bertamu ke Rumahmu” (MPP, 2009). Di buku itu saya menemukan sindiran-sindiran kritis bagi pelaku teror. Mereka, seperti dibilang Bambang Q-Anees, piawai mengutip Al-Quran dan Hadits, namun melupakan sunah rasul. Sunah itu adalah kesopanan, menghargai, kesantunan, dan kelemah-lembutan yang dipraktikkan sang rasul. Bahkan, ketika beliau ditimpuki kotoran (maaf) tai unta, tidak membalasnya. Malahan, menjadi orang pertama yang mengunjungi sang pelempar tai unta itu.

Ledakan bom di Kuningan, termasuk cara bathil. Definisi bathil, adalah segala sesuatu yang tidak sesuai dengan garis norma yang berlaku di masyarakat. Yang menyimpang, salah, dan biadab. Makanya shalat akan terkategori batal kalau tidak memenuhi tata aturan yang berlaku. Misalnya, shalat dilaksanakan dengan hanya memakai (maaf) celana dalam saja. Sambil ketawa-ketawa, mencubit orang di samping kita, dan memukul imam yang sedang membelakangi. Itulah ibadah shalat yang batal secara fiqihiyah, sufistik, maupun secara muamalah. Sebab, selain mengganggu kenyamanan dan keamanan; itu pantas dilakukan orang gila yang tidak diwajibkan melaksanakan shalat.

Jaringan teroris di Indonesia, salah kalau ditimpakan kepada masyarakat sebagai orang-orang yang permisif. Membolehkan tindakan teror. Saya pikir itu tidak bijak dikeluarkan oleh pemerintah dengan cara menuduh mereka membiarkan teroris berkembang dilingkungannya. Masyarakat mungkin tidak akan ada yang merasa enak dibilang mendukung - meskipun menggunakan kata permisif - gerakan aksi teror.

Tak arif kalau kita menyalahkan orang lain. Pemerintah juga semestinya mulai membenahi sistem kependudukan yang tidak memberlakukan KTP daerah untuk melakukan transaksi administrasi kepemerintahan. Misalnya, nomor induk KTP saya, seakan tidak berlaku di suatu daerah; sehingga ketika diam di sebuah daerah saya harus rela dipersulit secara administrasi dengan cara harus membuat surat keterangan dari desa. Kalau ada KTP, kenapa penduduk masih dicurigai. Memberlakukan satu KTP untuk satu orang, adalah gagasan tepat. Apalagi, kalau sampai KTP itu bisa dipergunakan untuk mengurus kewajiban membayar PPN.

Selama pemerintah belum memperbaiki sistem kependudukan, jaringan teroris di Indonesia bakal tetap ada. Namun, dengan adanya sistem One Number Identity for all juga bukan berarti teroris bakal terkikis habis. Perlu semacam kerja sama pemerintah dengan pihak organisasi keagamaan untuk merealisasikan pesan-pesan antiteror. Terutama di wilayah pedesaan yang kerap dijadikan tempat persembunyian mereka. Warga jangan disalahkan, dong, wong mereka sudah memercayakan kepemimpinan di Indonesia dengan berpartisifasi di pesta demokrasi. Kewajiban pemerintah membenahi kinerjanya. Politik akal sehat, kok, lain di bibir lain di hati; pasti juga lain di tindakan.

Lagi-lagi, pemerintah yang gampang menuduh masyarakat - padahal sebagian individu masyarakat - sudah melenceng dari prinsip “lita’arafuu”. Mereka tidak mau mengenal warga yang dipimpinnya. Sayang, karena sama bejadnya dengan pelaku aksi teror yang main petak umpet dengan Tuhan. Sekian dulu, Ayat-ayat Antiteror dari saya untuk hari ini. Kapan-kapan disambung surambung lagi.

Mari kita gelorakan blogger antiteror!
BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: