14 July 2009

Pendekar Nggak Waras!

BAGIKAN

Pukul 00: 01 saya tertidur. Karena mimpi disabet pedang samurai oleh pendekar, saya jadi terbangun. Sabetan itu tepat mengenai sekitar jantung saya. Saya terkejut dan merasa dada bagai ditusuk beneran. Bangunnya sekitar pukul 02: 13. ih…dingin bener pagi ini. Sampai-sampai tulang saya merasa ngilu dan kulit sedikit gatal-gatal. Mimpi itu aneh. Saya dengan sang pendekar sangat bersahabat. Kenapa tahu bersahabat? Karena perasaan di mimpi itu dia adalah sahabat saya.

Suatu ketika kami bertiga, entah siapa yang satu lagi, burem; sedang mengejar penjahat. Tepatnya penjahat itu adalah dua orang pencuri pedang pusaka. Saya nggak tahu milik siapa pedang itu. Yang jelas, milik orang penting tapi terasa dekat bersama kami berdua (saya dan pendekar itu). Si pendekar, kendati tak pernah ngomong: takut banget pada sang pemilik pedang dengan serangka putih tulang kegadingan itu.

Singkat cerita, kami bertiga melihat sang pencuri itu. Mereka berdua. Tanpa berpikir panjang, mereka dikejar sang pendekar. Karena saya perokok aktif, tentunya tertinggal di belakang. Huhhh capek banget!!!

Sekitar lima meteran jarak kami. Meskipun di dalam mimpi sangat dekat. Sang pendekar dan teman saya yang satunya lagi menyabet dua pencuri itu. Belum juga terjadi pertarungan sengit, sang pendekar berbalik ke arah saya.

“Ciaaatttttt,” pedang itu secepat kilat menusuk dada saya.

“Astaghfirullah. Dasar pendekar nggak waras!” bisikku ketika terbangun dari mimpi.

Itulah itu, saya bilang. Mimpi yang multitafsir. Karena multitafsir itulah, saya jadi ingin menafsirkannya. Mimpi itu bisa persaingan ketat di dunia yang saya geluti. Bisa juga ada orang yang mencoba merebut calon istri saya. Gilanya lagi, boleh jadi ada teman berteriak teman di hadapan. Ketika saya lengah menusuk dari depan. Bukan dari belakang, karena saya tidak pernah bersenjata walau dalam mimpi. Jadi tokoh lain dalam mimpi saya bisa bebas melakukan apa pun.

Itulah itu, saya bilang. Mimpi yang mencoba merespon pengalaman tubuh dan jiwa saya di alam nyata. Malam itu mungkin udara dingin. Kalau dingin, bagi yang memiliki gangguan di sekitar paru-paru bakal terasa pengap. Belum lagi di kamar saya ada debu yang minta ampun membuat sesak nafas. Bisa juga mimpi itu adalah pendaman-pendaman keinginan saya terhadap sesuatu. Beberapa bulan ini saya selalu mengekori seseorang agar bisa bertahan hidup: kerja sampingan. Pedang yang dicuri itu, karena memiliki serangka putih gading, ya, rebutan manusia. Uang alias duit bin pulus! Bahkan boleh jadi serangka itu adalah jabatan atau posisi. Mungkin karena takut direbut saya, akhirnya dada ini tertusuk pedang juga.

Ah…, dasar mimpi. Dasar pendekar gila. Dasar saya juga yang banyak masalah menimpa. Mimpi itu membangunkan saya dari tidur lelap dan panjang, setelah pukul 20.00 WIB saya bersama kawan-kawan di IMM UIN Bandung bermain Futsal. Lelah adalah risiko kehidupan. Kadang ketika kita lelah, kekuatan yang masih terpancar dari dalam diri adalah intuisi. Makanya, sebelum tidur kita dianjurkan berdoa, “Biismika Allahumma ahya wa biismika aamuut”. Itu untuk merehatkan intuisi kita agar tidak segila di alam mimpi. Bingung dengan tulisan ini? Sama dong!!!

From “kamar sempit” 14 Juli 2009, pukul 03.00 WIB – 03.15 WIB.



BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: