19 July 2009

Pengebom; Gila dan Putus Asa

BAGIKAN

Gila banget! Masih berkeliaran juga teroris di Indonesia. Ada orang yang menenteng bom. Tidak terdeteksi. Memanfaatkan moment pemilu untuk meledakkan diri alias bunuh diri. Korbannya juga warga tak berdosa. Ini bukan berarti warga berdosa pantas menjadi korban pengeboman. Mati harus atas kehendak-Nya. Bukan atas kehendak manusia. Makanya, pembunuhan dalam agama apa pun – kalau anda beragama – sangat berdosa dilakukan. Termasuk pengeboman yang terjadi beberapa hari yang lalu.

Terorisme tak habis saya pikir berulang-ulang. Secara pribadi saya membenci praktik teror semacam ini. Pun begitu teror yang lebih rendah dari ini, seperti mencaci-maki, fasis, rasis, dan mendiskriminasi “the other”. Terror adalah semacam pemikiran yang menjadi praktik error seorang manusia. Seperti halnya orang sakit jiwa atau gila di depan kampus saya, yang menyebrang jalan tanpa lihat kiri-kanan. Nyawanya dan nyawa orang lain diabaikan karena otaknya sudah rusak!

Tak peduli di TKP ada warga tak berdosa, bom diledakkan juga. Kejadian ini adalah pengkhianatan atas nama kemanusiaan. Dan, bagi si pelaku tentunya tak pantas digolongkan sebagai seorang manusia. Wong manusia itu akan menjaga manusia lain dari ancaman kekerasan. Ini berbalik. Manusia dijadikan objek pelampiasan keputusasaannya.

Saya bukan intelejen yang pandai mengungkap data-data rahasia. Saya juga bukan presiden yang sekarang sedang memutar pikirannya untuk menyelesaikan soal “kutu busuk” dalam keindonesiaan kita hari ini. Saya adalah rakyat biasa, yang hanya dapat mengutuk aksi teroris ini. Saya hanya bisa mengecam. Paling banter juga menjaga agar di tubuh organisasi saya tidak disambangi orang-orang semacam mereka. Hati nurani-nya mati. Tidak merasakan derita keluarga korban yang menjadi aksi kebiadabannya.

Panatisme memang banyak melahirkan generasi teroris. Inilah yang sedang saya galakan dan coba informasikan kepada kawan-kawan saya di sebuah organisasi mahasiswa Islam, IMM UIN Bandung. Organisasi saya pernah disambangi orang panatis – bahkan menganggap umat Islam yang belum bersyahadat di depan imam kafir – yang mengkotak-kotakan kebenaran menjadi “hitam-putih”. Sama seperti pelaku bom yang menjadikan Indonesia sebagai sarang pemahaman hitam-putih.

Pak Hendropriyono, menuduh aksi terror ini dilakukan kaum panatis dan wahabi. Informasi ini saya peroleh dari wawancaranya dengan salah satu stasiun TV. Ia kemudian menyentil kita, yang masih memelihara iklim kondusif bagi lahirnya generasi peneror. Generasi yang gila dan putus asa. Kenapa saya mengatakan gila dan putus asa? Sebab, hanya orang gila saja yang menyia-nyiakan nyawanya dan mengorbankan warga tak berdosa untuk sebuah tindakan putus asa.

Hari Sabtu kemarin, di Bandung ada seorang Istri yang nekad naik ke papan Billboard. Ia putus asa melihat suaminya yang hanya bermain kartu dan tidak mencari kerja. Setelah ditampar keras oleh sang suami, muncul niat untuk melakukan bunuh diri. Ia pada posisi itu, jiwanya menjadi labil dan terganggu. Sehingga melahirkan keputusan yang tidak mempertimbangkan orang di sekitar. Kenapa demikian? Saya yang melihatnya juga menjadi merasa khawatir.

Itulah keputusan hidup yang menyalahi optimisme. Buya Syafi’I Ma’arif menyebut orang seperti mereka (pengebom) sebagai orang yang hanya memegang ajaran “teologi putus asa”. Perang terhadap aksi terror ini adalah melahirkan kesadaran dalam diri warga, bahwa ideologi yang dapat menumbuhsuburkan mereka, harus mulai diredam dengan berbagai cara. Katakan tidak pada segala bentuk penafsiran rigid, kaku, hitam-putih, dan panatisme buta atas pesan-pesan keagamaan.

Saya jadi teringat virus komputer, Hubbun, dengan deskripsi teks di notepad, virus itu menyampaikan pesan perdamaian bagi seluruh dunia. Hanya saja, caranya dengan menyebarkan virus di komputer yang melahirkan ketidakdamaian pada teman saya. Sebab, notebook-nya sampai sekarang belum bisa dibenerin. Cyber Terror juga seperti orang gila tidak ya? Kasihan tema saya!!!

NB: Menghadirkan potret kekejaman aksi terror dengan pengetengahan derita jiwa keluarga korban, bisa menjadi pembuka katup kesadaran warga: Aksi terror bom adalah praktik kegilaan manusia. Ih…amit-amit kalau kita menjadi bagian dari mereka. Itulah kesadaran yang akan lahir, seandainya korban bom adalah Ibu, ayah, kakak, dan adiknya sang pelaku korban.

From “kamar sempit” at 20 Juli 2009 pukul 16.00 – 16.10 WIB.
BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: