14 August 2009

Aep Kusnawan; Dari Masjid Ke Komunitas Intelektual

BAGIKAN

Setiap orang pasti memiliki pengalaman hidup masing-masing. Tidak terkecuali pengalaman para penulis. Itulah yang dirasakan Aep Kusnawan, M.Ag, penulis dan dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung. Di tengah kesibukannya sebagai sekretaris jurusan Bimbingan Penyuluhan Islam pada universitas yang sama (UIN Bandung), ia berbagi pengalaman seputar dunia menulis.

Ada banyak manfaat yang diperoleh ketika kita menggeluti dunia tulis menulis. Menulis, baginya adalah kerja intelektual yang berpahala. Dengan memberikan opini publik, masyarakat akan bertambah wawasannya sehingga terjadi transformasi sosial di berbagai ranah kehidupan.

Aep Kusnawan menekuni dunia tulis menulis sejak tahun 1991. Hingga kini, tidak kurang dari 100 tulisannya yang dimuat di berbagai media massa lokal maupun nasional, diantaranya: Suara Kampus (Bandung), Gema Karya (Bandung), Otentik (Bandung), Forum Remaja 21 (Bandung), Majalah Anida (Bandung), Majalah Kompak (Bandung), Majalah Nuqtah (Bandung), Majalah Kapinis, (Bandung) Media Pembinaan (Bandung), Risalah (Bandung), Suara Publik (Bandung), Gala Media (Bandung), Bandung Pos (Bandung), Pikiran Rakyat (Bandung), Harian Terbit (Jakarta), Majalah Panji Masyarakat (Jakarta), Media Indonesia (Jakarta), Kompas (Jakarta), dan Majalah Al-Muslimun (Bangil), Koran Pa Oles (Bali) serta Jurnal Ilmu Dakwah (Bandung), Jurnal Lektur (Cirebon) Jurnal Komunika (Purwokerto). Selain terdapat juga beberapa tulisannya yang dimuat pada sejumlah buletin, seperti: Da’watuna (Bandung), Fikri (Bandung), Jurnalistik (Bandung), Attaqwa (Ciamis), Ukhuwah (Ciamis), KBMDA (Ciamis), Lembur Kuring (Ciamis).

Ia juga sudah menerbitkan beberapa buku. Teknik Debat dalam Islam (Pustaka Setia: 2003), Berdakwah Lewat Tulisan (Mujahid Press: 2004), Ilmu Dakwah Kajian Berbagai Aspek (Pustaka Bani Quraisy: 2004), Komunikasi dan Penyiran Islam: Mengembangkan Dakwah melalui Media Mimbar, Cetak, Radio, Televisi, Film dan Media Digital (Benang Merah Press: 2004), Doa-Doa Sukses (Dar Mizan: 2007). Buku berbentuk modul, diantaranya: Strategi Pengembangan Ibadah Sosial Bi Ahsab Al-Qaul (Pusdiklat: 2007) dan Strategi Pengembangan Ibadah Sosial Bi Ahsab Al-Amal (Pusdiklat: 2007).

Ketika gayung bersambut, salah seorang seniornya, memiliki pikiran yang sama.
Keinginannya mengembangkan budaya tulis-menulis, disambut Prof. DR. Asep Saeful Muhtadi, MA, dengan mengajukan proposal ke LPTQ untuk membuka cabang baru Musabaqah Menulis Kandungan Quran (M2KQ). Seniornya pun mengajak Aep Kusnawan, bergabung sebagai tim dewan hakim M2KQ pada MTQ Tk Prov. Jawa Barat. Selain, sering menjadi dewan hakim M2KQ tingkat Kabupaten Bandung dan Kota Bandung, dia juga melakukan pembinaan kepada para calon peserta M2KQ yang berasal dari berbagai kabupaten kota di Jawa Barat.

Berangkat dari komunitas

Karir di dunia kepenulisan itu tidak datang dengan tiba-tiba. Seperti dikatakan Aep Kusnawan, itu merupakan hasil kerja kerasnya selama menjadi mahasiswa dalam memanfaatkan wadah berupa komunitas yang konsentrasi di dunia kepenulisan. Tepatnya 9 Agustus 1991, lima orang generasi muda Islam IAIN (sekarang UIN) Sunan Gunung Djati Bandung berkumpul di masjid kampus membicarakan berbagai masalah. Mulai krisis intelektual, penyimpangan birokrasi, dekadensi dan semangat ilmiah generasi muda Islam yang dirasa “kurang gereget”, merupakan masalah penting, yang menuntut pemecahan segera.

Dari kebiasaan diskusi tersebut lahir gagasan membentuk komunitas penulisan di UIN (saat itu masih IAIN). Sebagai follow up dari pertemuan tersebut, munculah nama Kelompok Pengkajian As-Shiddiq Bandung (KPAB). Mereka adalah Subhan Nurdin (Tafsir Hadits), Wahyu Jauhari (Dakwah), Kurdi Latif (Tafsir Hadits), M. Idris Muslim (Dakwah), dan Aep Kusnawan (Dakwah). Produk intelektual Aep dengan kawan-kawannya di “Ash-shiddiq” senantiasa menghiasi Koran dan Majalah.

Pada tahun 1993, “Ash-Shiddiq”, mengadakan pelatihan menulis dengan biaya sekitar Rp. 30.000. Di luar dugaan, mahasiswa yang mendaftar dan mengikutinya, sekitar 30, berasal dari berbagai jurusan dan Fakultas di IAIN SGD Bandung. Setiap peserta yang mengikuti pelatihan, menjadi anggota kelompok pengkajian As-Shiddiq. Karena itu, jumlah anggota Kelompok Pengkajian As-Shidiq bertambah, dari yang awalnya lima orang menjadi 35 mahasiswa. Salah satu alumni Ash-Shiddiq yang kini berhasil adalah Toha Nashruddin, lebih dikenal dengan nama pena Abu Al-Ghifari. Dia telah menulis lebih dari 45 buku. Ia juga memiliki penerbitan buku: Mujahid Press, Media Qalbu dan Salsabila Press.

Dalam usianya yang ke sembilan (tahun 2000), Ash-Shiddiq mengalami banyak perkembangan. Aep Kusnawan, bersama tim Ash-Shiddiq mengadakan bimbingan menulis baik via pos maupun langsung di sekretariat. Bahkan pernah bimbingan melalui Pos tahun 1996/1997 diikuti hampir 1000 orang, dari 20 provinsi. Banyak di antara mereka yang sukses. Pada program bimbingan 1997-1998, diikuti 2000 peserta dari 27 provinsi. Produk intelektual anggota Ash-Shidiq, waktu itu telah dipublikasikan puluhan Surat Kabar, 15 Majalah dan 9 tabloid, baik lokal maupun nasional, serta puluhan buku, karya asli dan terjemahan.

Keterbukaan yang digunakan, tiada lain karena keinginan untuk menebarkan kebaikan bagi sebanyak-banyaknya orang. Dengan bertambahnya anggota, untuk mengatasnamakan kelompok menjadi kurang memadai lagi. Tepat tanggal 17 April 1993, diperkenalkanlah nama baru, yaitu “As-Shiddiq Intellectual Forum” disingkat ASHIF, sebagai jawaban bahwa KPAB menjadi milik semua. Pada perjalanannya, ASHIF pun terus berkembang. Ash-Shiddiq berkembang bukan hanya dalam bidang penulisan di media massa, melainkan hingga ke penerbitan, percetakan, penerjemahan dan pelatihan, yang bermuara pada misi dakwah Islam.

Kini, ketika Ash-Shiddiq telah ditinggalkan anggota dan pendirinya, karena kesibukan masing-masing, Aep Kusnawan masih menginginkan terpeliharanya budaya menulis di kalangan mahasiswa. Harapan dan cita-citanya tersebut sudah disusun menjadi sebuah buku tentang pengelolaan komunitas penulisan. Kemudian disajikan dalam subjudul bukunya berjudul, “Komunikasi dan Penyiran Islam: Mengembangkan Dakwah melalui Media Mimbar, Cetak, Radio, Televisi, Film dan Media Digital (Benang Merah Press: 2004)”.

Ternyata dari kumpulan di serambi Masjid, berubah menjadi sebuah komunitas. Dan, dari sanalah keuntungan menulis dirasakan Aep Kusnawan sampai hari ini. Kita mengenal sejumlah tokoh Islam yang hidup beberapa ratus tahun lalu. Namun mereka tetap hidup bersama hingga saat ini, meskipun jasadnya telah terkubur tanah ratusan tahun silam. Al-Ghazali, misalnya, meninggal tahun 1111, tapi ia tetap hadir, karena tulisannya mengikat erat namanya untuk tetap hidup.

Nah, tertarik untuk menjadi penulis?
BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: