6 August 2009

Amankah Indonesia?

BAGIKAN
Bagi pemerintah, terorisme adalah ancaman yang dapat merorongrong keajegan dinastinya. Bagi warga, ancaman aksi teror dapat melahirkan ketakutan sehingga memengaruhi kegiatan ekonomi, sosial, dan berkebudayaan. Kebetulan sekali, kakak saya di Garut, malam Sabtu, menelpon saya karena saudara istrinya ada yang berurusan dengan aparat pemerintahan. Perkaranya adalah anaknya saudara kakak saya menjadi korban pencabulan seorang guru agama di sebuah sekolah menengah di Garut. Setelah bukti mengindikasikan dapat menjerumuskan si guru agama pada tindak pidana, perangkat hukum di Garut ternyata diperjual-belikan karena faktor kedekatan dan duit.

Ayah korban, yang tidak kebetulan adalah si miskin, harus rela tindakan asusila itu tidak diselesaikan secara hukum. Berita acaranya dibatalkan, sehingga hukum dalam pandangan warga miskin adalah sesuatu yang menakutkan. Karena ketika berurusan dengan hukum, ia harus memiliki modal uang yang tak sedikit. Lembaga kepolisian daerah dan kejaksaan, ini terjadi di Garut, menjadi momok menakutkan bagi warga yang buta hukum sama sekali. Ketika saya mendengar keluhan kakak saya bahwa hukum di Indonesia tidak memihak warga miskin; mulai berbisik “Indonesia adalah Negara tidak aman bagi rakyatnya.”

Si pelaku pencabulan yang guru agama itu, dengan memanfaatkan jaringan di tingkat pemerintahan mencoba menekan keluarga korban agar membatalkan tuntutannya.
Tesis pun muncul, semakin berpendidikan seseorang, kejahatannya akan semakin sistematis dan terencana. Sang guru agama itu, ketika selesai melakukan tindak pencabulan akan bebas karena ia sadar bahwa hukum di Indonesia memihak orang berduit. Ia bisa saja merekayasa jalannya hukum di Garut dengan segepok uang “kadeudeuh”. Amin Rais menyebut pemerintahan seperti ini sebagai korporatokrasi, alur hukum yang dikendalikan oleh sang pemilik duit.

Saya mendapat kabar ini, ketika tuntutan keluarga korban sudah dicabut. Saya sempat menyarankan untuk diangkat di media massa. Namun, jawaban ayah korban membuat saya kembali berpikir tentang Negara Indonesia yang tak aman bagi rakyatnya. Ia bilang, “Sudahlah kasus ini ditutup. Kalau ada wartawan, nanti tambah pusing. Nggak punya uang.” Ah, itu pasti kerjaan wartawan bodrek. Sehingga nama wartawan menjadi tidak baik di mata rakyatnya.

Kepolisian dan kejaksaan juga sama bobroknya. Karena tidak melindungi dan memperjuangkan hak rakyat untuk mendapat kepastian hukum. Itulah teror aparat pemerintahan yang membuat rakyat Indonesia “miskin” merasa tidak nyaman hidup di negeri ini. Kalau tetap dibiarkan, tidak menutup kemungkinan ledakan bom akan terjadi di instansi pemerintahan. Dan, sebagai warga miskin, si korban pencabulan akan bersorak-sorai karena merasa kekesalannya terobati.

Segala bentuk teror pasti dampaknya mengancam umat manusia. Efeknya itu membuat orang resah ketika akan melakukan aktivitas. Apalagi yang kebetulan bekerja di tempat kejadian perkara. Takut ada lagi ledakan bom sususalan. Itu wajar, karena manusia memiliki rasa takut. Apalagi kalau kejadian tersebut baru beberapa minggu terjadi. Untung saja manusia diberi potensi untuk melupakan sesuatu. Jadi, selang beberapa bulan mereka dapat kembali beraktivitas.

Pada kesempatan ini, masih di seputar ayat-ayat antiteror. Saya mengajak warga Indonesia agar jangan takut dengan terorisme. Karena ketika kita takut, itu adalah cita-cita mereka. Meledakkan diri di tempat keramaian adalah cara untuk menakut-nakuti warga yang setiap hari tanpa henti beraktivitas. Ketika kita takut, maka mereka akan tertawa terbahak-bahak. Kita sudah terjebak dengan perangkap yang mereka pasang.

Pun begitu dengan aparat pemerintahan, pendidik, dan kepolisian, seringkali membuat takut warga miskin yang miskin pula pengetahuan dan wawasan tentang hukum. Saya jadi bertanya sedikit saja, apakah Indonesia sudah aman dari gangguan teror? Wong pemerintahannya juga banyak yang meneror warganya.



BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: