12 August 2009

Berjamaah dengan Bijak

BAGIKAN
Terima kasih atas suratnya. Untuk Badru. Satu hal yang saya garisbawahi dari surat inspiratif kawan saya Badru. Satu hal itu adalah tentang berjamaah memberantas “teroris”. Dalam jagad mayantara , berjamaah adalah keniscayaan, apalagi kalau kita memiliki semangat memberantas aksi teror! Seperti halnya kedahsyatan bangunan Piramida di Mesir, dapat kita nikmati sampai hari ini karena dikerjakan secara berjamaah. Meskipun pembangunannya menelan ratusan ribu nyawa tak berdosa. Keindahan, ketakutan, dan kesenyapan hidup adalah respon kita terhadap dunia luar. Ketika terjadi ancaman teror — apa pun bentuknya — akan melahirkan k eberanian jika kita diam di suatu jamaah atau kelompok. Apalagi kalau kelompoknya lebih besar dan banyak dibandingkan dengan kelompok si pelaku teror. Seperti si Pekerja bangunan Piramida itu.
Ali Ibn Abi Thalib pernah sesumbar, keburukan yang terorganisir lebih baik tinimbang kebaikan yang tak terorganisir. Solusi memberantas teroris — sebagai penebar ketakutan — adalah dengan membentuk jamaah yang bijak. Jamaah yang tidak grasak-grusuk dalam bersikap dan bertindak. Pengepungan kemarin di Jawa Tengah, Tumenggung, harus mulai kita pertanyakan. Adakah kaitannya dengan statement bapak nomor 1 “5kosongnya”? Betulkah dia itu tokoh perancang aksi teror, yang nanti menjadikan SBY sebagai target man? Ataukah itu hanya gebrakan untuk mencari sensasi dan popularitas? Kita, sebagai rakyat memiliki hak untuk mencari tahu.

Saya sempat membaca status Facebook-nya Fadjroel Rahman. Dia menulis bahwa persoalan aksi teror bermuara pada tidak diperhatikannya aspek sosial-ekonomi. Di tengah karut-marut kemiskinan, kondisi ini rentan melahirkan pelaku teror baru. Kebiasaan saya kalau membeli Chuankie selalu ngobrol tentang segala hal dengan si tukang Chuankie. Kebetulan — entah rekayasa atau apa — dia bilang pernah direkrut orang seperti jaringan M.Top cs. Tapi, dia kabur karena bertentangan dengan isi hatinya. Dan, satu lagi dia memiliki semangat untuk terus hidup; berkarya dalalm kehidupan ini. Meskipun miskin, katanya, ke heulaan lamun kudu paeh ngabom jalma nu teu boga dosa. Kini, dia menjadi warga negara yang baik. Dan, itu adalah ekses positif hidup berjamaah. Dia aktif di pengajian yang ajengannya tidak memahami Islam sebagai agama keras dan bengis.

Kelompok atau jamaah yang cinta perdamaian, itulah yang kita harapkan berkembang pada setiap organisasi, lingkungan masyarakat, dan bahkan di lembaga pemerintahan. Sebagai pengatur stabilitas negeri ini, semestinya pemerintah menjalin kekuatan dengan dasar tak dipenuhi kecurigaan kepada instansi Islam. Si tukang Chuankie, Badru, saya, blogger di UIN SGD Bandung, dan Ibn Ghifarie; adalah sebagian dari seluruh penganut Islam di Indonesia yang cinta perdamaian. Seandainya si Mang Chuankie bisa ngeblog; saya akan menyuruhnya menuliskan alasan-alasan kenapa ia menolak mentah-mentah o rganisasi yang mewajibkan anggotanya untuk bersahadat itu. Darul Islam bagi saya adalah negeri yang menebarkan keselamatan. Bukan menebarkan ketakutan-ketakutan pada masyarakat. Aksi teror ini, disebut oleh saudara Badru dengan laku iblis. Hiii jadi ngeri saya kalau menjadi bagian dari mereka.

Bejamaahlah dengan bijaksana. Bukan menyikapi karut-marut kondisi bangsa dengan tindakan cela dan laku yang meneror!, fabiayyi alai rabbika tukaddibaan? Nikmat apalagi yang kalian dustakan — begitu kata Tuhan — sehingga laku teror membuat Islam kita, Islam anda, Islam saya, dan Islam semuanya menjadi entri word ketika kita mengetiknya di kolom search engine Google.

Itulah “ayat-ayat antiteror”, dengan harapan kita dapat menangkap pesan dibalik bangunan Piramida, di mana para pekerjanya meskipun nyawa melayang; dapat mewariskan monument yang amat indah dan menakjubkan. Kita juga harus belajar pada semut yang sedang merayap di pundak saya. Ketika dia bertemu dengan temannya selalu memberikan ucapan, “Salam sejahtera. bagaimana kabarmu hari ini kawan? Apa yang bisa aku bantu hari ini. Apakah tumpukan Gula di warung si Aa. Ataukah kopi hitam manis yang selalu disisakan mang ukon di depan komputernya. Peace Porever!”, sambil menawarkan sebatang rokok.

Mari kirim surat. Mari menggelorakan hidup tanpa teror!!!!

Sukron Abdilah
http://sakola-sukron.blogspot.com
sukron.abdilah@gmail.com

BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: