15 September 2009

Baca dan Menulislah

BAGIKAN
KEMAJUAN peradaban ditentukan tiga kekuatan yang saling melengkapi. Posisinya juga bagaikan dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Kesatu adalah buku, kemudian membaca, dan terakhir menuliskan ide. Berdasarkan pengalaman, menulis memerlukan semangat, tekad, dan keinginan kuat. Selain itu, kita harus rajin membaca dan berdiskusi atau mengikuti seminar yang berkaitan dengan materi yang akan kita tulis.

Sebab, modal utama menjadi penulis adalah memiliki kekayaan diksi, berwawasan luas, memiliki analisis yang tajam, dan ada tidaknya gagasan yang akan ditawarkan dalam suatu artikel. Itu semua bisa diperoleh ketika seseorang suka membaca buku. Membaca akan menambah perbendaharaan kata atau diksi yang disimpan di memori kita. Selain itu akan meluaskan cakrawala pengetahuan, dan mempertajam daya analisis sekritis mungkin terhadap fenomena atau gejala yang sedang terjadi.

Dengan membaca karya orang lain juga, memudahkan kita untuk meniru gaya tulisan si penulis. Sehingga lebih mudah menuangkan ide-gagasan menjadi sebentuk tulisan artikel yang komplit. Untuk mencoba cara ini, ambillah salah satu artikel yang telah dimuat di Koran atau media cetak lainnya. Pelajarilah kerangka atau struktur dan gaya tulisan di dalam artikel tersebut. Dari mulai judul, pendahuluan artikel, sub judul, sampai kepada penutup.

Agar bisa menuliskan ide dan gagasan menjadi tulisan, baik makalah, artikel, naskah buku, atau paper penelitian, diperlukan kebiasaan menulis setiap hari. Pokoknya, tuliskan ide-gagasan yang ada dibenak menjadi kalimat yang tersusun rapi. Nah, untuk pertemuan pertama, biar lebih memudahkan membiasanya tradisi menulis, kita memerlukan langkah-langkah berikut:

1). Menguatkan tekad, jadikanlah aktivitas menulis sebagai kewajiban moral.

2). Rajin membaca karya orang lain, seperti artikel, berita di Koran, buku dan novel.

3). Membiasakan menulis setiap hari. Satu jam per hari saja sudah lebih dari cukup.

4). Ciptakanlah lingkungan yang mendukung. Misalnya, membentuk komunitas menulis.

5). Arahkanlah materi tulisan pada bidang yang dikuasai. Contohnya, soal politik, budaya, agama, sosial dan ekonomi ataupun pemikiran.

6). Dirikanlah forum diskusi di antara teman-teman seangkatan. Kalau tulisan kita lebih mengarah pada nilai-nilai agama, misalnya buatlah kelompok diskusi bernama Lingkar Studi
Agama atau yang lainnya. Pokoknya, forum diskusi ini akan dipampang pada identitas penulis, yang terletak di paragraph akhir tulisan atau di awal tulisan.

7). Mengetahui Visi-Misi media, dengan cara rajin membaca artikel opini, tajuk rencana, dan berita-berita yang diterbitkan media bersangkutan. Ini berfungsi untuk menyelaraskan ide-gagasan kita dengan pihak media, yang berposisi sebagai pembentuk opini masyarakat. Sebab, mereka (redaktur dan pemilik perusahaan pers) adalah the man who know much.

8). Kirimkanlah artikel via-pos atau via e-mail. Dalam mengirimkannya, anda harus membuat kata pengantar – bagi sebagian media ada yang tidak perlu menggunakan surat pengantar – agar lebih etis. Apalagi bagi penulis pemula. Perlu menyertakan prolog tulisan kita supaya pihak redaktur bisa mengetahui arah tulisan.

9). Setelah mengirim tulisan, jangan menunggu artikel dimuat. Bacalah realitas dan buku, lalu menulis kembali dan kirimkanlah. Terus membaca, terus menulis, terus mengirimkannya ke media massa. Insyaallah, dengan kesabaran artikel anda akan ada yang dimuat. Amiin .

10). Kalau artikel ditolak dan dikembalikan, silahkan anda membuat weblog di layanan web hosting
gratisan. Anda bisa memampangnya melalui media internet, dan berfungsi untuk terus melihara tradisi menulis di dalam diri.

11). Ketika anda menulis, itu adalah bentuk dari ijtihad intelektual buat agama, bangsa, dan Negara!.
(Sukron Abdilah)

BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: