13 September 2009

Baik Budi Nggak Rugi Lho

BAGIKAN
JIKA kita berbudi baik pasti dibalas baik. Budi buruk berbalas buruk pula. Pepatah yang mengindikasikan hubungan sebab-akibat. Pun demikian dalam gerak hidup ini. Budi seseorang akan menyisakan bekas mendalam dikedalaman hati. Seorang pelancong yang tersesat di kota besar, umpamanya. Ia akan merasa berutang budi kepada orang yang menunjukkan arah jalan. Bentuk balas budinya bisa lewat materi atau jasa. Minimalnya, dapat tumpangan gratis. Asyik bukan?

Kanjeng Nabi Muhammad adalah manusia berbudi luhur. Beliau tak pernah membalas budi ketus, dengan keketusan. Tak bertindak gegabah, ketika tekanan fisik diperoleh. Bahkan, caci-maki acap kali berbalas pantun yang menyejukkan hati. Tak heran ketika Siti Aisyah ditanya perihal pribadi Rasul Saw, ia menjawab: laksana al-Quran berjalan. Saking baik dan sempurnanya akhlaq sang baginda, lho.

Keselarasan antara karya dan kata menjadi daya tarik masyarakat jahiliyah untuk berbondong-bondong mengucapkan dua kalimah syahadat. Ketika memimpin juga, beliau senantiasa melindungi rakyat miskin. Apalagi jika menyaksikan ada masyarakat tak makan seharian. Sembari meneteskan air mata, beliau lantas memberikan jatah makannya. Mulia bukan?

Ketika baginda bersabda: "Aku diutus Allah untuk menyempurnakan akhlaq", jauh hari pribadinya mencerminkan kesempurnaan pribadi. Buktinya, gelar orang terpercaya (al-amin) dari pemuka Quraisy pernah disandangnya. Tak berlebihan kiranya. Jika saya dan anda – meskipun tak pernah ber-muwajahah dengannya – merasa berutang budi. Kita hampir tiap hari melantunkan salawat atasnya. Minimal tiap kali ibadah salat pada tahiyatul awal dan akhir. Itu adalah bentuk dari balas budi kita. Atas jasanya yang telah menerangi kegelapan hati manusia. Ya, lintas generasi hingga 1428 tahun lamanya.

Mengapa kita harus bersalawat kepadanya? Kata beberapa pemuka agama Islam (ulama) di Timur Tengah, karena berkah beliau bagaikan air di dalam gelas. Ketika kita mengisinya, maka air itu akan tumpah mengenai meja. Dalam bahasa lain, kita bersalawat atas pribadi Rasul Saw, rahmat dan berkahnya akan kita dapatkan. Maka, beliau telah memberikan manfaat kepada kita. Itu namanya budi. Jadi, betul kiranya jika kita setiap kali menunaikan ibadah salat selalu melantunkan salawat kepada Nabi Saw?

Lantas, mampukah kita menauladani budinya? Sebagian saja, ataukah keseluruhan pribadinya? Apalagi di tengah kenihilan suri tauladan pemimpin di medio era reformasi ini. Kita membutuhkan cermin keteladanan nyata. Bukan hanya kata-kata ajimat dan keramat. Apalagi sekadar mantra. Bukan. Bukan itu saya pikir! Yuresprudensi (hukum) Islam mesti diaktualisasikan. Bukan hanya tertulis di atas kertas.

Ketika posisi kita sebagai seorang pemimpin, kepercayaan rakyat mesti berbalas budi baik. Misalnya, menanggalkan sikap sok birokratis, menelurkan kebijakan pro rakyat, dan mengangkat warga dari jurang kemiskinan. Itu semua, tidak disimpan dalam teks konstitusi semata. Butuh realisasi!

Andai tak dapat memenuhi tuntutan rakyat, kita adalah pemimpin yang bermental lemah (lack of the leadership). Karena kita hanya menghitung apa yang diberikan. Bukan apa yang bisa diberikan. Akibatnya, budi baik berbalas buruk. Melenceng dari pepatah-petitih hidup. Kepercayaan memberikan amanah kepada pemimpin untuk ngemong rakyat, umpamanya, disikapi bagaikan anjing menggonggong kapilah berlalu.

Setelah anjing itu menggonggong, pemimpin kita tenang kembali berbuat makar. Tapi, rakyat bukan seekor anjing. Ia manusia yang memiliki hati dan nurani. Maka, budi baik pemimpin akan menolong dari pertanggungjawaban di akhirat kelak dan penghakiman rakyat. Nabi Muhammad bersabda: "Kullukum raain, wa kullukum mas'ulun an raaiyatihi", setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung-jawaban atas kepemimpinannya.

Memimpin satu orang saja akan dimintai pertanggungjawaban. Apalagi jika puluhan juta? Hayo, pasti engkog-engkogan untuk jadi pemimpin. Ya, jika dikedalaman hati ini masih menyisakan tanggung jawab atas amanah kepemimpinan. Dan, masih menghayati makna inti dari salawat yang setiap kali salat, kita baca. Sebab, salawat merupakan kerangka acuan sistem nilai hidup.

Buya Syafii Ma'arif (2004) menyatakan bahwa Agama atau iman yang berfungsi secara benar akan mendorong pemeluknya berperilaku lurus dan jujur. Ia juga akan berani mengatakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah, tidak larut dalam kerancuan sistem nilai. Maka, jika saja kita ingin membalas budi baik sang Nabi, adalah dengan menauladani kearifan laku dan kata yang beliau wariskan. Membaca, memahami dan mengamalkan makna inti salawat kepadanya.

Lantas, apa sih pesan inti dari salawat kepadanya? Ya, bahwa dalam kepribadiannya tercermin keluhungan yang patut ditauladani. Oleh siapa saja. Politikus, pengusaha, pejabat, aparat, akademisi, mahasiswa, dan masyarakat cacah sekalipun. Ia sangat terbuka untuk kita tauladani hingga memicu semangat profetik dalam diri. Semangat untuk terus menanamkan bahwa hidup itu mesti diisi dengan misi dan visi keilahian. Itulah bentuk nyata dari balas budi kita pada jasa-jasa Rasul Saw dan penghargaan atas anugerah hidup dari-Nya. Wallahua'lam

Penulis, Pegiat Tepas Intitute.

BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: